Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Pedih


__ADS_3

"Tapi malam ini, biarlah Om Se tidur lebih dulu dengan Tante Alena, kasihan Tante Alena." Hasna kembali menyela dan berkata lembut. Ia ingin Serkan mengerti dan tidak ingin berdebat dengan Alena. Ia melirik Alena, kedua matanya turun pada tangannya yang meremas dresnya itu.


"Hasna,"


"Benar yang di katakan Hasna, aku butuh kamu Serkan. Aku lagi mengandung anak mu." Alena memotong perkataan Serkan.


Serkan menghela nafas, entah mengapa? ia tidak semangat untuk tidur bersama Alena. Ia pun menyerah, karena ia memikirkan anaknya di rahim Alena.


Serkan menoleh, dia menatap Hasna dari atas kebawah. Pandangannya jatuh pada perut Hasna. Seandainya Hasna hamil, mungkin akan menyenangkan padanya. Ia pun menggeleng, kepalanya entah berpikir ke arah mana.


"Abhi?"


"Ah iya, baiklah."


Dengan berat hati, Serkan turun dari ranjangnya. Alena dengan sigap bergelanyut di lengan Serkan. Keduanya berjalan beriringan, Alena menoleh dan tersenyum sinis. Selama bayi ini ada di dalam perutnya, ia pastikan akan menjadi pemenangnya.


Hasna menatap pintu yang di tutup rapat itu, dia pun terduduk lemas di sisi ranjangnya. Ia berharap Serkan tidak memiliki ketertarikan padanya, tidak masalah kalau seandainya ia hidup seperti ini.


Drt

__ADS_1


Hasna menoleh ke arah atas nakas. Dia pun menghampiri gawainya. "Hallo,"


"Iya Eli."


"Kau ada di mana? aku ada di depan rumah mu." Tutur Eli. Sejak tadi dia mengetuk pintu Hasna, bahkan ke jendela samping dan ada dua orang ibu-ibu yang memanggilnya dan menjelaskan semuanya.


"Aku sekarang ada di rumah Om Se."


"Hah? kok bisa?" Eli terkejut, kenapa Hasna bisa memasuki kandang singa dan buaya, sama saja Hasna menyerahkan dirinya.


"Om Se baik,"


Hasna tertawa kecil. "Apa sih kamu El? ya gak lah."


"O iya kasik alamatnya si Om-Om asing itu, aku khawatir dengan buaya di sekitar mu."


"Emm baiklah," Hasna menyebutkan alamat Serkan. Keduanya pun berbicara panjang lebar dan beberapa menit berlalu, Elu berpamitan untuk menutup ponselnya karena taksi yang dia pesan telah datang.


"Oke kamu istirahat, besok pagi-pagi aku akan kesana."

__ADS_1


Hasna menatap ponselnya, selain kedua orang tuanya yang tidak pernah ia ketahui, hanya Azzam dan Eli yang menjadi sahabat hidupnya. Sayangnya, dia harus kehilangan teman, sahabat dan kekasih seperti Azzam.


"Berada di rumah ini, aku jadi merindukan Azzam."


Ia beranjak dan ingin ke kamar Azzam yang berada di samping kamarnya. Ia pun memasuki kamar itu dan menghidupkan seklar. Ia melihat sekelilingnya yang telah di terangi lampu utama, seperti sebelumnya, ruangan ini tercium aroma wangi milik Azzam. Di sekeliling dinding itu terdapat foto Azzam dan di atas nakas ada fotonya dan juga foto Azzam, foto kebersamaan mereka.


"Jadi Om Se tidak membuangnya,"


Dia pun beralih ke jendela, membuka sedikit gorden dan menimbulkan celah. Dapat ia lihat langit malam di terangi kerlap kerlipnya bintang dan bulan purnama yang bercahaya terang.


Dalam kegelapan malam ini, dia merindukan sosok Azzam. Seandainya Azzam masih hidup, mungkin mereka saat ini bahagia, memiliki banyak kenangan manis yang telah di lewati.


"Azzam aku merindukan mu."


Sedangkan tanpa sadar, seorang pria tengah berdiri di belakangnya. Cukup lama dia memandang tubuh yang membelakanginya. Ia tersenyum masam, ia seorang ayah yang menikahi tunangan Almarhum putranya sendiri. Dia seorang ayah yang menyiksa tunangan Almarhum putranya sendiri, bahkan dia berpikir terlalu jauh, bagaimana rasanya membina rumah tangga dengan tunangan putranya sendiri? bukankah dunia akan menertawainya kalau seandainya dia memiliki perasaan? memikirkan perasaan? benarkah nama Hasna sudah tercetak di hatinya?


Karena memikirkan Hasna dia tidak bisa tidur, mencoba beberapa kali dia memejamkan kedua matanya. Namun nyatanya tidak bisa.


Sebelum sampai di kamar Hasna, dia melihat pintu kamar putranya yang terbuka sedikit. karena penasaran, ia pun masuk dan melihat wanita yang ia cari.

__ADS_1


"Apa aku menjadi sosok ayah yang tidak tahu diri?" Serkan berkata lirih, hatinya pedih kalau Hasna menerimanya karena mengatasnamakan dia mertuanya. Tidak ingin mengganggu Hasna, dia pun berbalik menuju ruang kerjanya.


__ADS_2