Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#bab 55


__ADS_3

brak


Ingin sekali Serkan membanting meja di depannya itu. Dadanya terasa sesak seperti di tusuk oleh ribuan pedang. Dia sangat menghargai Alena, apa pun yang wanita itu minta ia akan menurutinya, tapi dia ternyata memiliki sifat sepicik itu.


"Apa jangan-jangan Yumna terkena hasutannya? tapi percuma saja, kalau dia memang mencintai ku hasutan tidak akan mempan padanya."


Sekelibat bayangan wajah Hasna yang tersenyum pun muncul di benaknya. Ia merindukan Hasna, ia ingin bertemu dengannya. Ia ingin memeluk Hasnanya.


Serkan membuka sebuah laci, dia mengambil sebuah figura dan terdapat foto Hasna. Diam-diam dia mengambil foto Hasna sewaktu dia menginap di rumahnya.


"Sayang."


Serkan menaruh figura itu di atas mejanya.


Alena tersenyum, dia langsung mengecup pipi Serkan. "Aku sangat merindukan mu," ucap Alena. "O iya sayang, malam ini aku ingin Dinner."


Dinner? Serkan teringat pada Hasna. Dia tidak pernah melakukan apa pun untuknya.


"Bagaimana?" tanya Alena. Dia menyandarkan lengannya ke bahu Serkan dan memiringkan kepalanya menatap pria itu.

__ADS_1


Serka menaruh lengan Alena yang berada di atas bahunya. "Aku lelah," ucapnya.


"Sayang, kau menolak ku. Anggap saja ini permintaan anak mu." Alena merengek manja.


Serkan tersenyum, ingin sekali dia mencengkram kedua pipi Alena. Dia muak dengan perkataan Alena yang menuntutnya, mengatasnamakan anaknya. "Bagaimana hasil pemeriksaan mu?"


Deg


"Maksud mu sayang?" tanya Alena dengan wajah ketakutan.


"Aku tanya bagaimana hasil pemeriksaan kandungan mu? apa kau belum ke dokter?"


"Lain kali aku akan mengantar mu," ucap Serkan. Dia pun fokus pada leptopnya. Tanpa sadar kedua mata Alena langsung memicing melihat sebuah foto.


"Abhi?"


Alena mengambil foto itu, Serkan pun bangkit. Dia ingin mengambil foto Hasna dari tangan Alena, namun wanita itu langsung menyembunyikannya di balik punggungnya.


"Apa maksudnya dengan foto ini kamu taruh di meja mu?" tanya Alena. Dadanya terbakar cemburu, dadanya merasa sesak melihat Serkan menaruh foto wanita lain di mejanya.

__ADS_1


Serkan menengadahkan tangannya. "Kembalikan Alena." Ia berusaha berbicara lembut supaya foto Hasna kembali dengan utuh.


"Tidak! apa maksudnya semua ini?" tanya Alena. Kedua matanya telah basah karena air mata. "Aku tidak suka Abhi, kenapa kau tidak memahami sakitnya hati ku?"


"Seandainya Papa tau, dia tidak akan tinggal diam Abhi."


"Aku mohon lepaskan Hasna, aku mengandung anak mu Abhi. Apa kau tau, setiap aku melihat mu bersama Hasna rasanya sakit." Alena menunjuk pada dadanya. Selama pernikahannya, ia tidak pernah mengkhianati suaminya. Dia sangat mencintai Serkan. Bahkan saat papanya menjodohkan dirinya dengan orang lain pun dia dengan tegas menolaknya.


"Berikan pada ku Alena," Serkan berusaha merendam kemarahannya.


Alena menggeleng, dia langsung membanting foto Hasna. Kaca di figura itu pecah berserakah di lantai. Alena menginjak foto Hasna. Serkan memegang kaki Alena, ini penghinaan baginya. Menghina Hasna sama saja menghina dirinya. Dia tidak akan pernah memaafkan siapa pun.


Serkan langsung mendorong tubuh Alena hingga jatuh ke bawah, dia mengambil foto itu dan tanpa sadar tangannya mengenai pecahan kaca itu.


Ia tak peduli, sakit hatinya melebihi luka jarinya itu. "Apa yang kau lakukan?!" Serkan berteriak seakan meruntuhkan bangunan pencakar langit itu.


"Aku tidak terima kau menyukainya, aku tidak terima kau mencintainya."


Serkan langsung mencengkram kedua pipi Alena. "Hasna istri ku, benar aku mencintainya, aku menyukainya, kau tidak terima bukan, secepatnya aku akan menceraikan mu."

__ADS_1


Awalnya Serkan berpikir untuk memanfaatkan Alena membuat Hasna cemburu, tapi melihat Alena menghina Hasna. Dadanya langsung sakit.


__ADS_2