Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Pembantu


__ADS_3

Pada akhirnya Alena mengikuti Serkan dan Hasna dengan hati dongkol, tidak ingin Hasna dan Serkan berduaan, dia menerobos masuk di antara mereka yang sedang berjalan beriringan dan bergelanyut manja dengan lengan Serkan.


Pria itu menoleh pada Hasna, ia mengerti Hasna tidak merasa nyaman, langkahnya semakin pelan seakan ingin berjauhan dengannya.


Sampai di depan pintu lift, Alena menarik lengan Serkan. Namun pria itu mematung dan menunggu Hasna sampai ke arahnya. Dia pun menggenggam tangan Hasna untuk masuk bersama membuat Alena semakin kepanasan.


Alena kembali bergelanyut di lengan kiri Serkan, sedangkan tangan kanan Serkan merangkul tubuh Hasna.


"Om Se, sebaiknya duluan."


"Kenapa Hasna?" tanya Serkan tak suka.


"Tidak enak di lihatin orang," ucap Hasna. Dia belum berani untuk membeberkan statusnya itu.


"Kau istri ku Hasna, jangan merasa takut." Serkan mengelus kepala Hasna yang tertutupi jilbab itu.


"Tidak enak, bagaimana tanggapan karyawan pada ku."


"Hemmm baiklah," ucap Serkan. Perlahan namun pasti dia akan membuat Hasna nyaman padanya dan mau mengakui hubungan mereka. Pelan-pelan dia akan meyakinkan Hasna.


Ting


Pintu lift terbuka, tubuh Hasna tertahan, dia membiarkan Serkan dan Alena jalan lebih dulu. Sedangkan dia mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Hasna mengekori mereka dari jarak jauh. Hingga tanpa sadar Hasna menabrak seseorang dan membuat rantangnya jatuh. Serkan dan Alena menoleh melihat ke arah belakang.


"Hey, kalau jalan itu pakai mata jangan hanya pakai kaki." Bentak seorang wanita. Dia menggunakan span selutut dan memungut berkas-berkas yang berserakah di lantai.


"Maaf-maaf saya tidak sengaja." Ucap Hasna. Semua orang pun berbisik-bisik.


"Dia kan orang tadi, ternyata dia pembantunya tuan Serkan. Lihat saja pakaiannya, pakaian yang tidak berkelas." Ucap karyawan wanita A.


"Mana mungkin tuan Serkan tergoda dengan wanita seperti itu." Sanggah karyawan B.


Alena tersenyum, keberuntungan berpihak padanya. Ada seorang wanita yang melampiaskan kemarahannya pada Hasna. Jadi ia tidak perlu turun tangan sendiri. Bukankah ini waktu permainannya, berpura-pura baik agar terlihat mengagumkan di mata Serkan.


"Dasar wanita miskin!" maki wanita itu.


"Ehem." Semua orang menoleh. Dengan langkah wibawa Alena berjalan ke arah Hasna.


"Apa yang anda lakukan pembantu saya?"


Deg


Hasna meremas gamisnya, dia semakin mununduk.


"Maaf Nyonya tapi dia menabrak saya," ucap Karyawan wanita itu membela. Dia tidak mau di salahkan begitu saja.

__ADS_1


Serkan menggeram kesal, Alena memperkenalkan Hasna pembantunya. Seharusnya dia mengatakan kalau Hasna adalah istrinya.


Serkan melepaskan jasnya lalu menutupi separuh tubuh Hasna. Dia menatap tajam wanita di depannya dan


plak


Dengan tangan kekarnya sendiri, Serkan menampar pipi wanita di hadapannya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah menampar seorang wanita.


"Pak ..." Wanita itu menunduk dan semua orang menunduk lekat.


"Jangan pernah datang kesini lagi, dan aku peringatkan pada kalian semua. Wanita ini bebas masuk kedalam kantor ku."


Alena tidak suka suaminya itu membela Hasna. "Tapi sayang, jangan sampai memecatnya, ini hanya salah paham."


"Semua orang melihatnya, Hasna tidak sengaja. Tapi dia menghina Hasna."


Alena melihat semua orang, bisa-bisa Serkan mengakui Hasna. Dia tidak mau Serkan mengakui Hasna sebagai madunya.


"Sayang, ayo kita pulang."


Serkan merangkul tubuh Hasna yang bergetar menahan tangis. Dia melewati Alena begitu saja. Ia sangat kesal pada Alena yang tak mengungkapkan identitas Hasna.


Sampai di depan mobil. Serkan langsung memeluk Hasna dan air mata itu pun tumpah tanpa ada yang meminta.

__ADS_1


"Hasna, aku akan menghukum orang yang telah menghina mu." Serkan merangkup kedua pipi Hasna, lalu menghapus air matanya.


"Jangan menangis," Serkan kembali memeluk tubuh Hasna dengan erat dan mencium kepalanya.


__ADS_2