Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#bab 60


__ADS_3

Serkan memutari mobilnya, dia membukakan pintu untuk Hasna, dan Hasna keluar sambil merenteng tasnya.


"Biar aku bantu,'' tawar Serkan.


Tanpa sepatah kata apa pun, Hasna langsung pergi dan tak memperdulikan Serkan. Dia pun menutup rapat pintunya dan menguncinya dari dalam.


Pak Aren menghela nafas, dia pikir ini hanyalah godaan pada pernikahan Serkan, dia percaya pada kedua majikannya bisa melewati ujian pernikahannya.


Brak


"Hah ......"


"Bersabarlah tuan, ini hanya sementara."


Serkan menggeleng, ini bukan sementara. Namun ia khawatir kalau Hasna benar-benar menjauhinya.


"Hubungan tuan tidak salah,'' ucap Pak Aren.


"Awasi saja nyonya Hasna dari jauh, saat nyonya menbutuhkan bantuan, tuan datang untuk membantunya."


"Aku tidak pasrah, aku ingin berada di dekat Hasna pak," ucap Serkan. Baru pertama kalinya dia menganggap pak Aren sebagai orang tua.


Pak Aren tersenyum, nyonya mudanya telah membuat pria dingin ini berubah lebih banyak. "Nyonya Hasna butub waktu berpikir, saya akan mengawasinya."


Drt


Andreas menghubungi Serkan, dia ingin melapor kalau dirinya tak bisa menemukan Hasna.

__ADS_1


"Tuan maaf, saya tidak bisa menemukan nyonya.'' Ucap Andreas merasa bersalah.


"Hasna sudah pulang, tadi aku menemukannya."


"Syukurlah," ucap Andreas merasa lega. "Tuan, ada beberapa masalah dengan perusahaan di prancis?''


Serkan pun paham, mungkin ini kesempatannya agar bisa memberikan waktu pada Hasna. "Baiklah, siapkan keberangkatan ku. Besok aku akan menemui Hasna lebih dulu." Ucap Serkan. Dia menatap bangunan sederhan di depannya itu dan tersenyum.


"Aku tidak akan menyerah Hasna." Gumam Serkan.


...


Sedangkan Alena, dia duduk termenung di kamarnya dan lamunannya buyar karena ada ponselnya berdering. "Alena, kapan kau akan mempertemukan ku lagi dengan Hasna?" Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Hasna secepatnya.


"Sepertinya kau harus melakukannya sendiri Leon, Serkan tidak mempercayai ku lagi."


"Apa?"


"Aku tidak mau meneruskannya lagi,'' ucap Leon menyerah, lebih baik dia pergi dari pda harus mendekm di penjara.


"Apa maksud mu? Aku menyuruh mu melakukannya bukan menyuruh mu untuk kabur." Alena langsung berdiri, ia tidak mau Leon pergi dan membiarkan Hasna menang.


"Aku tidak mau mendekam di penjara."


"Jangan lupa kalau aku bisa membuat mu masuk di penjara," ucap Alena dengan nada membentak. "Aku ingin kamu menerusknnya,"


"Aku tidak mau ambil resiko,"

__ADS_1


"Aku akan melaporkan mu pada polisi." Alena mengakhiri ponselnya, lalu menonaktifkan ponselnya dan meleparkannya ke atas ranjang.


"Akrh !!!! Semuanya hancur gara-gara Hasna." Alena menjambak rambutnya, dia pun mengambil vas bunga dan melemparkan ke arah cermin meja riasnya. Tidak puas, dia menarik selimut dan seprainya, dia menoleh ke arah meja rias, dalam sekejap make up yang tertata rapi itu langsung berserakah di lantai.


"Hasna!!! Ingin sekali aku membunuhnya."


Brak


Alena menoleh, dalam sekejap ia tidak bisa bernafas.


"Kau bermain-main dengan ku Alena. Aku bersikap lembut pada mu karena aku mengharagai mu. Tapi ternyata kau menusuk putra ku."


"Tuan, lepaskan. Nyonya Alena bisa meninggal." ucap Pak Aren. Untung saja dia mengikuti Serkan dan tebakannya benar, Serkan ingin mengamuk pada Alena.


"Aku akan membunuhnya!" Bagaikan Monster yang haus akan darah, Serkan terus menekan sebelah tangannya memutuskan nafas Alena.


"Tidak tuan, jangan. Pikirkan nyonya Hasna, nyonya pasti kecewa pada tuan."


Deg


Seketika tangan Serkan melemah dan melepaskan leher Hasna.


"Dia yang membuat Hasna pergi,"


Pak Aren langsung membawa Serkan menjauh. "Tuan, tahan emosi tuan."


"Baik, aku akan mengurus surat percerainya."

__ADS_1


"Tidak Serkan, kau tidak bisa melakukannya. Kau harus ingat pada Almarhum Yumna."


"Hah! Kau pikir bisa membodohi ku. Coba saja kau menghalangi ku. Aku pastikan kau mendekam di penjara." Ucap Serkan dengan tegas.


__ADS_2