
"Tidak masalah, yang penting Leon mau bekerjasama," ucap Alena. Dia pun menaruh gawainya di atas nakas. Tiba-tiba dia teringat dengan Serkan. Ini sudah malam dan waktunya Serkan pulang.
Dia pun keluar menuju lantai bawah. Sampai di lantai bawah dia melihat pak Aren yang sedang menuju lantai atas dengan salah satu tiga pelayan yang membawa beberapa hidangan.
"Siapa yang ingin makan?" tanya Alena seraya memicingkan sebelah matanya. Tidak biasanya ada seorang yang makan di lantai atas kecuali ada yang sakit, dan di rumah ini tidak ada yang sakit.
Pak Aren menegakkan kembali tubuhnya.
"Tuan Serkan menyuruh saya membawa beberapa hidangan ke kamar Nyonya Hasna, Nyonya Alena." Jawab Pak Aren.
"Serkan sudah pulang?" tanya Alena tak percaya. Serkan bahkan tidak menemuinya. Sekalipun dulu dia tidak datang menyambutnya, justru Serkan lah yang datang menemuinya. "Apa Serkan di kamar Hasna?"
Pak Aren mengangguk, pertama kalinya dia melihat Serkan tidak menemui Alena. Jika dulu Serkan akan langsung melihat Alena.
Alena menahan gemuruh panas di dadanya, dia berbalik dengan langkah tergesa-gesa ke kamar Hasna. Sesampainya di depan pintu kamar Hasna. Alena langsung masuk dan melihat Hasna yang berselonjor sambil membaca buku di tangannya dan Serkan yang membaringkan tubuhnya.
"Tante," Hasna menutup bukunya. Dia pun menoleh dan melihat Serkan yang tidur sambil menaruh sebelah lengannya di atas dahinya.
Alena merasa dadanya mendidih, ingin sekali dia menyeret Hasna. "Aku ingin berbicara dengan mu."
__ADS_1
Alena langsung keluar dan melewati Pak Aren begitu saja. Pria itu merasa curiga, dia pun menyuruh ketiga pelayan itu menaruh di atas meja.
"Kalian tunggu di sini, aku akan keluar." Pak Aren menyusul Hasna. Dia melihat punggung Hasna yang menuju halaman belakang.
"Apa yang sedang Nyonya Alena bicarakan dengan Nyonya Hasna?" Pak Aren penasaran. Kini ia ada tambahan tugas baru yaitu mengawasi Hasna dan Alena.
Pak Aren melangkah sambil membungkuk, dia duduk di semak-semak bunga mawar merah itu. Kedua matanya melihat Alena dan Hasna yang berhadapan.
"Hasna, kau tau kan. Tidak mudah bagi ku menerima kehadiran."
"Iya Tante," jawab Hasna lirih.
"Maafkan aku tante, tadi Om Se datang ke kamar ku, jadi aku ..."
"Kau harua menolaknya, aku tau otak mu tidak terlalu bodoh kan."
Alena melenggang pergi, Hasna tidak habis pikir dengan Alena. Bukan dirinya yang mendatangi Serkan, tapi Serkanlah yang mendatanginya. Jadi kenapa dia yang selalu salah.
"Aku juga tidak mau melakukan ini, kalau boleh memilih aku ...."
__ADS_1
"Jangan terlalu memikirkan perkataan Nyonya Alena, Nyonya Hasna."
Hah
Hasna memegangi dadanya, ia terkejut mendengarkan seseorang selain dirinya. "Pak Aren."
"Pak Aren ngapain di sini?"
"Tentu saja mengawasi Nyonya Alena atas perintah tuan Serkan. Jangan mengikuti perkataan Nyonya Alena."
"Maksudnya, bukannya wajar kalau Tante bersikap seperti itu? aku paham, Tante pasti kecewa."
"Tapi saya melihat binar kedua mata Tuan Serkan. Semenjak Nyonya Yuna, maksudnya Almarhum Nyonya Yuna berselingkuh. Tuan tidak lagi tertawa, ya walaupun dulu sering tersenyum hanya sebatas tersenyum. Sekalipun pernikahan mereka hanya bisnis, tapi Tuan Serkan belajar mencintai Nyonya Yuna. Hingga cinta itu tumbuh dan hanya pengkhianatan yang di dapatkan Tuan Serkan."
"Nyonya Alena menikah dengan tuan Serkan hanya karena permintaan terakhir Nyonya Yuna sekaligus juga demi bisnis."
Hasna mendengarkan perkataan Pak Aren secara seksama. Dia tidak menyangka pria dingin itu ternyata mengalami hal yang menyakitkan. Ia kira hidup Serkan mulus sekali, tidak ada lika liku kehidupannya. Jadi dia pernah merasakan sakit hati.
"Baru kali ini saya melihat Tuan Serkan banyak tertawa dan tersenyum, saya harap Nyonya bertahan dan tidak mendengarkan perkataan Nyonya Alena apa pun itu. Jik Nyonya dulu bisa membuat tuan Azzam bahagia, tidak ada salahnya Nyonya juga membuat tuan Serkan bahagia."
__ADS_1
"Tolong, saya ingin melihat Tuan Serkan hidup lagi."