
Sebulan kemudian.
Kehidupan rumah tangga Serkan dan Hasna begitu sempurna, seakan tidak akan ada lagi guncangan ombak yang akan menimpa mereka, kehidupan rumah tangga mereka bagaikan kehidupan surga dunia, keduanya saling melengkapi, saling menyayangi dan saling mencintai.
Seorang Serkan yang dulunya tak banyak bicara, senyuman yang mahal, bermuka datar dan tidak pernah ramah pada orang. Kini rumah megah itu terasa hidup, penuh cerita dan gelak tawa sang tuan rumah. Setiap harinya seorang Serkan yang tak pernah di sambut oleh seseorang pulang kerja, bahkan jarang pulang. Kini seorang Serkan di sambut seorang bidadari dan bahkan Serkan pulang begitu siang, pekerjaan yang seharusnya di kerjakan di kantor di bawa kerumah.
"Honey," Serkan langsung memeluk istri kecilnya itu, dan pak Aren bergegas pergi setelah mengambil tas kerja milik Serkan seperti biasanya.
Pak Aren meminta beberapa pelayan untuk membuatkan kopi hangat.
"Tuan, ini kopinya." Pak Aren menaruh kopi hangat dan dua teh khusus dua majikannya, sedangkan Hasna tidak terlalu menyukai kopi.
"Bagaimana pekerjaannya?" tanya Hasna sambil mengelus kepaa Serkan yang membaringkan kepalanya di pangkuannya itu.
"Seperti biasa, aku tidak fokus dan ingin selalu bersama mu." jawab Serkan dengan jujur.
Hasna sedikit membungkuk, mencium kening Serkan, seperti biasa jawabannya tidak pernah berubah. Tapi ia begitu senang dan hatinya berbunga-bunga mendengarkan jawaban suami tampannya itu.
"Kau tidak bosan mengatakannya?" tanya Hasna.
Serkan beranjak, "Kau bosan? merasa risih"? Tanya Serkan. Kalau istrinya bosan, ia tidak akan mengatakannya.
"Tidak sayang," ucap Serkan sambil meraup kedua pipi Serkan.
"O iya sayang, besok aku ingin keluar bersama Eli," ucap Hasna. Kemana pun dia pergi, dia selalu meminta ijin pada Serkan, bahkan Serkan kadang menyuruh dua bodyguard untuk menjaganya, tak luput Andreas yang juga turun tangan menjaganya.
__ADS_1
Kadang dia melihat pertengkaran kecil antara Eli dan Andreas.
"Sayang, bukannya aku melarang mu, tapi aku khawatir pada Alena, wanita itu kemana sebenarnya?"
Selama sebulan ini, dia mencari Alena, namun hasilnya tidak ada sama sekali, bahkan dua teman Alena tidak terlepas dari jangkaunnya.
"Aku berharap Alena tidak memiliki celah untuk menyakiti mu, kalaupun Alena memiliki cela, semoga bukan kamu yang celaka, tapi aku." Serkan bisa mengorbankan apa pun demi Hasna, karena hanya Hasna yang mengenalkan arti rumah tangga dan kebahagian.
"Dan aku tidak akan pernah membiarkan apa pun terjadi pada mu."
"Hasna, jangan pernah meninggalkan ku."
Hasna mengusap punggung Serkan. Pak Aren yang melihatnya dan pelayan lainnya terharu, mereka begitu senang dan sedih jika mengingat kehidupan Serkan.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku minta."
"Aku ingin kau memakai baju lebah," ucap Hasna.
"Hah?" Serkan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku juga ingin ke taman dan bermain dengan badut," ucap Hasna.
"Honey, aku memakai kostum lebah maksudnya?" tanya Serkan meyakinkan kalau apa yang ia dengar salah.
"Iya, aku ingin melihatnya." Hasna memelas dan membuat Serkan seperti tersengat lebah.
__ADS_1
"Sayang, kau tau aku tidak bisa melakukannya, kalau di tanya manis anatar lebah dan aku lebih manis aku sayang,"
Hasna langsung berlalu pergi dan Serkan memanggil Hasna.
"Honey," Serkan berlari menggenggam kedua tangan Hasna.
"Oke, aku akan memakainya."
Hasna terrtawa dan langsung memeluk Serkan. Sedangkan Serkan harus mengehela nafasnya beberapa kali.
...
Keesokan harinya.
Serkan benar-benar menuruti permintaan Hasna, kini dia berada di taman sambil memakai kostum lebah dan tentu saja menjadi candaan bagi Hasna yang terlihat lucu untuknya, sesekali Hasna berfoto dengan Serkan dan kadang Hasna membuka penutup kepala Serkan agar terlihat.
Sedangkan Andreas, dia tertawa terpingkal-pingkal, betapa konyolnya baginya seorang Serkan yang selalu menjaga wibawanya kini harus menggunakan kostum lebah dan lebih parahnya, takut pada istrinya.
Dia berusaha menahan tawanya agar pecah, namun sepertinya sia-sia. Sang bos terlalu lucu baginya.
"Eli, coba fotokan lagi." Hasna memeluk Serkan dan tersenyum menyambut jeprita Kamera di depannya yang hanya jarak beberapa langkah saja.
Serkan menggendong tubuh Hasna dan berputar-putar, seakan dunia ini hanya milik keduanya.
"Bagaimana dengan Alena?" tanya Eli. Kedua matanya tak berhenti melihat Serkan dan Hasna yang tertawa.
__ADS_1
"Aku belum menemukannya, tapi aku akan berusaha."
Sedangkan di sebuah pohon, terlihat seoramg wanita yang berpakaian lusuh, dia mengepalkan kedua tangannya melihat hidup Serkan dan Hasna yang bahagia, sedangkan dia menderita. Setiap harinya dia mengawasi Hasna dari jauh, ia tau kalau Serkan akan menjaga Hasna dengan ketat, jadi ia berusaha mati-matian agar tak terlihat.