
Keesokan harinya, Alena merasakan sakit di perutnya. Pinggangnya terasa copot, dia pun menyingkap selimutnya yang hendak turun ke kamar mandi dan tanpa sengaja ia melihat ada bercak darah. Ia terkejut, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia tidak mungkin keguguran, ia menjaga kehamilannya dengan baik, bahkan ia menjaga makanannya.
"Tidak mungkin," Alena mengusap wajahnya dengan kasar.
krek
Segera Alena menutup kasurnya dengan selimutnya dan tersenyum.
"Alena kau sudah bangun?" tanya Serkan. Dia mengambil dasinya di walk in closet.
Alena masih menampilkan senyumannya. "Iya aku baru bangun sayang, tidur ku nyenyak kalau ada kamu yang menemani."
Serkan mengerutkan keningnya dan kemudian mengangguk, Alena tidak tahu kalau ia tidak tidur bersamanya dan malah tertidur di sofa ruang kerjanya.
"Ya, sarapannya sudah siap. Kebetulan Hasna menyuruh ku untuk membangunkan mu. O iya, nanti siang kita ke rumah sakit aku ingin melihat perkembangan anak kita."
Kedua mata Alena melebar, dia bahkan tak menyanggah perkataan Serkan. Tubuhnya terasa mati kutu, otaknya seakan tak bis berpikir apa-apa lagi.
"Bagaimana ini? aku harus membersihkan seprai ini?" Alena menatap seprai putih itu, dia pun menarik seprai itu ke kamar mandinya.
"Serkan tidak boleh tau, tapi perut ku sangat sakit."
Kedua tangan yang menggunakan perawatan mahal itu, Alena tidak lagi memikirkannya, yang jelas ia ingin secepatnya menghilangkan darah itu.
"Bagaimana ini? kenapa susah sekali?"
Drt
Suara dering dan getar itu membuat Alena menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Dia pun melemparkan seprai yang belum bersih itu, hanya ada noda kekuningan sedikit.
"Hallo,"
"Kita akan bertemu di Restaurant Xxx."
__ADS_1
"Baiklah, kamu tunggu saja." Alena menutup ponsel pintarnya itu. Dia pun langsung bergegas membersihkan dirinya. Untung saja ada sisa pembalut, jadi ia tidak perlu repot-repot menutupinya.
Sedangkan di lantai bawah, Hasna telah selesai menyusun piring. Dia menaruh nasi goreng ke atas piring Serkan. Para Art pun tersenyum, seakan turut senang melihat Serkan yang tampak makan dengan lahap. Bahkan mereka tidak pernah melihat Serkan di layani, Almarhum istri pertama dan istri kedua.
Kedua wanita yang berstatus menjadi istri Serkan tidak pernah melayani Serkan dalam hal pribadinya. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri dan selalu menganggap kebutuhan Serkan ada pada para pelayan yang bekerja di rumahnya.
"Hasna, makanlah." Serkan mendongak, dia melihat Hasna yang tidak duduk bersamanya dan ikut makan.
"Om Se makanlah dulu, kemana Tante Alena?"
"Sudah, kamu makan saja temani aku. Kau," Serkan menunjuk salah satu pelayan. "Suruh Alena turun ke bawah," ucap Serkan. Ada noda tidak suka di hati Serkan, seakan ia tidak terima Hasna tidak ikut makan karena menunggu Alena.
"Hasna makanlah, sudah biarkan saja." Serkan kembali menyuruh Hasna memakan sarapannya.
"Baiklah,"
Hasna dan Serkan pun makan bersama, kadang mereka saling menatap dan tersenyum tanpa ada yang berbicara.
"Nyonya Hasna, di luar ada tamu yang mencari Nyonya," ucap seorang pengawal.
"Om Se, itu teman ku Eli. Maaf aku belum sempat minta ijin."
Serkan terhunyuh, Hasna selalu melaporkan apa pun padanya tanpa menunggu dia bertanya. Beda dengan Yuna dan Alena, mereka tidak pernah mengatakan apa pun, bahkan kadang ia tidak tau, apa saja yang pernah di lakukan kedua wanita yang menyandang status istrinya itu.
"Kau boleh membawa teman mu kapan saja. Ya sudah ajak saja teman mu itu untuk ikut makan."
Para pelayan saling menatap, semenjak kapan tuan mereka mengijinkan orang luar ikut makan. Bahkan teman istri majikannya pun tak pernah ikut makan.
"Kalian bawa teman istri ku." Titah Serkan. Seorang pelayan pun buru-buru menjemput Eli.
Selang beberapa saat Eli pun sampai di ruang makan, Hasna menyambut kedatangan dengan senyuman dan memeluknya.
"Aku kangen banget tau gak, kamu itu bikin khawatir saja. Aku kira para warga mengusir mu." Tutut Eli.
__ADS_1
Serkan menghentikan makannya. "Mulai saat ini, Hasna akan tinggal di rumah ini dan kau boleh datang kesini kapan saja."
Eli dan Hasna menatap Serkan. Kemudian beralih pada Hasna.
"O iya, ayo ikut sarapan."
"Ikutlah, istri ku mengajak mu. Aku tidak suka penolakan dan membuat istri ku tersinggung." Ucap Serkan berkata tegas, lalu melanjutkan sarapannya. Bahkan Ia menambah nasi goreng itu, dan lagi-lagi membuat para pelayan melongo.
Dia sangat tegas mengatakan Hasna istrinya, apa jangan-jangan ....
Eli duduk di samping Hasna, dia mengambil sendiri nasi goreng itu dan menolak Hasna yang melayaninya, ia tidak nyaman dengan tatapan Serkan saat Hasna menawarinya.
Apa tuan monster cemburu? tidak mungkin.
"Hasna, buatan nasi goreng mu tidak berubah."
"Benar, aku tidak pernah memakan nasi goreng seenak ini." Timpal Serkan. Perutnya sudah kenyang, padahal dalam hatinya ingin menghabiskan nasi goreng di depannya itu.
"Iya, bahkan Azzam pun selalu Absen memesan nasi goreng buatan mu."
Serkan terdiam, perkataan Eli membuat hatinya merasakan sengatan listrik.
"Ah,," Eli melirik Hasna dan Serkan. Sedangkan Hasna tersenyum. Dia merasa tidak enak hati, temannya itu menyebut nama pria lain sekalipun adalah anak dari suaminya.
"Iya, mulai saat ini aku akan memasak sarapan untuk Om Se."
"Ah, itu bagus." Eli tertawa sumbang, ia meneguk segelas susu di sampingnya hingga tandas.
"Sayang aku mau keluar?" Alena menatap Eli, dia tidak pernah melihat wanita di samping Hasna itu.
Serkan menilai istrinya yang pagi-pagi sudah berpakaian rapi, ya beginilah hidup pernikahannya. Tak heran jika ia makan sarapan sendiri dan makan malam sendiri.
"Dia siapa?"
__ADS_1
"Dia Eli teman Hasna." Jawab Serkan dengan cepat. "Kau mau kemana?"
Apa-apaan Serkan? dia tidak pernah melakukan ini pada ku.