
"Tidak mungkin, aku kenala Alena. Dia tidak mungkin melakukan itu pada Yumna. Ini tidak mungkin." Anita tidak percaya, semua yang di lakukan oleh Alena sama sekali bukan sifatnya, Anita sangat menyayangi Yumna.
"Kalau kau tidak percaya, coba saja tanyak pada Alena, aku tidak memiliki waktu membahas masalah Alena, aku hanya bertanya Leon, kau pasti tau." Sambar Andreas, dia datang kesini bukan melihat drama Anita, tapi ada hal penting lainnya.
"Aku akan menghubunginya," ucap Anita. Dia juga butuh kesaksian Leon, benarkah Alena melakukannya? Kalau iya, bagaimana ia bisa melihat wajah Alena? Bagaimana ia bisa menghadapi wajah sahabatnya yang menusuk sahabat lainnya. Dia memang tidak terkenal akrap dengan Yumna, tapi semuanya seperti mimpi.
"Tidak bisa,"
"Sitt!!!" Andreas berdesit, dia berkacank pinggang. "Ayo kita pergi," ucap Andreas. Dia menghubungi beberapa bodyguardnya untuk mempercepat pencariannya.
Andreas menatap Eli, waktu sudah larut, tidak mungkin baginya untuk melanjutkan pencarian sambil membawa Eli. "Sebaiknya kita mencari hotel, kita lanjutkan besok."
"Tidak," Eli menggeleng. "Bagaimana kalau pria brengsek itu mencari Hasna."
Andreas menatap Eli dan kedua tangannya memegang kedua bahunya. "Tenanglah, ada tuan Serkan, nyonya Hasna tidak akan kenapa-napa." ucap Andreas meyakinkan.
"Aku tidak mau, aku hanya memiliki sahabat seperti Hasna."
__ADS_1
"Tapi .."
"Kalau kau mau berhenti mencarinya, biar aku sendiri yang mencarinya." tegas Eli.
Sedangkan Anita, ia merasa melihat keduanya seperti sepasang kekasih yang berdebat. Dia tersenyum, ia tau Andreas yang tak lagi tersentuh dengan seorang wanita kini ia merasa Andreas berubah.
Andreas mengalah, dia tak ingin berdebat lebih banyak lagi. "Baiklah." Pasrahnya.
"Aku ikut," ucap Anita. Dia duduk di belakang seakan mengawasi sepasang kekasih di depannya.
"Kau menyukainya?" tanya Anita.
Andreas menoleh ke belakang. "Siapa yang mau sama wanita dekil seperti dia?" Andreaa merasa aneh pada dirinya sendiri jatuh hati pada pucuk, sedangkan dia umurnya hampir sejajar dengan tuannya, Serkan.
"Hah!" Anita meremehkan, yang ia lihat tidak seperti sepasang kekasih. "Aku tidak percaya."
Eli membuka kedua matanya, kedua mata indahnya berkaca-kaca, perkataan Andreas membuat hatinya nyilu. Benar, siapa yang mau dengan wanita dekil dan tak punya apa-apa seperti dirinya. Ya, pria tidak akan mau. Hanya pria bodoh yang mau mencintainya.
__ADS_1
"Suatu saat nanti kau bisa menyukainya dan kau menjilat air liur mu sendiri."
"Tidak mungkin," ucap Andreas. Dia tidak akan menyukai gadis ingusan seperti Eli.
...
Ke esokan harinya.
Hasna membuka kedua matanya, kedua penglihatannya langsung tertuju pada wajah Serkan yang tidur pulas dan sangat tampan. Dia teringat dengan kejadian tadi malam. Dimana Serkan dengan tegas mempercayainya di saat semua orang tidak mempercayainya. Di saat orang menghinanya, tapi pria di depannya melindunginya, menjadikan punggungnya sebagai pelindungnya.
"Cinta adalah kepercayaan dan aku mempercayai mu meskipun ada suatu saat nanti orang yang memfitnah mu, aku percaya jalannya hati."
Kedua air mata Hasna mengalir, dadanya kembali sesak. Kepercayaan? Apa benar Serkan sangat mencintainya. Dia begitu mencintai Azzam, bisakah dia pindah hati pada ayah mertuanya.
"Kau sudah bangun," sapa Serkan. Dia mengelus sebelah pipi Hasna. "Kau menangis lagi? Maafkan aku, aku salah. Aku menyesal Hasna."
"Hasna, aku ingin kita memulai kehidupan baru."
__ADS_1