
"Lalu kau sekarang satu atap dengannya?" tanya Leon memastikan. Alena di depannya tidak akan mau berbagi.
"Yupz," Alena mengiyakan.
"Kau tidak sedang gila kan?" tanya Leon. Semenjak kapan wanita di depannya berbagi satu atap.
Leon mendekat, yang awalnya bersandar kini lebih mendekat ke arah Alena dengan membenarkan posisi duduknya. "Aku tau kau Alena, kau bisa merencanakan sesuatu."
"Kau sangat tau aku Leon, jadi aku tidak perlu menjelaskannya pada mu." Sekalipun wajah Leon tidak sama seperti dulu, tapi ia tau Leon tetaplah Leon yang gila dengan uang.
"Aku akan mencoba merayunya, tapi kalau melihat dari fotonya dia sepertinya wanita yang baik." Leon mengambil foto di depannya dan menarik sebelah sudut bibirnya, ia akui wajah Hasna sangat cantik, memakai krudung putih dan gamis putih lalu duduk di sebuah kursi taman.
"Sudah aku bilang kalau dialah yang tidak tau di untung,"
Leon mengelus dagunya. "Alena, kalau aku pikir ini bukan salah Hasna, karena suami mu yang datang pada Hasna bukan wanita ini."
"Aku tidak peduli, yang penting jangan mengusik kehidupan ku."
"O iya, aku harus ke rumah sakit untuk." Alena hendak berdiri, namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo, ada apa?" tanya Alena.
"Apa?" Alena murka, dia mendapatkan kabar kalau Hasna sedang menuju kantor suaminya dengan membawa bekal makan siang.
Bip
"Berani sekali wanita murahan itu datang ke kantor suami ku."
Alena langsung pergi tanpa berpamitan pada Leon, dia bahkan melebarkan langkah kakinya untuk sampai ke mobilnya.
brak
Alena menutup pintu mobilnya dengan kasar, lalu mulai menancapkan gasnya. Dia pun melihat jam di tangannya, waktu telah menunjuk waktu siang.
***
Hasna menahan kecewa, kedua resepsionis itu tidak mengijinkannya masuk karena tidak memiliki janji, bahkan ia pun sempat bingung harus mengatakan apa? di tanya statusnya tidak mungkin dia mengatakan kalau ia istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu." Ucap Hasna. Dia menatap rantang di tangannya itu, ia takut makanan yang ia bawa keburu dingin dan tidak enak di makan.
"Bagaimana ini? aku tidak tau nomor ponsel Om Se." Hasna memasukkan ponselnya ka dalam tas selempangnya itu.
Beberapa menit kemudian, Andreas keluar dari pintu lift dan membuat Hasna tersenyum senang.
"Andreas!"
Andreas mencari asal suara yang memanggilnya dan merasa lega, memang kedatangannya untuk memeriksa Hasna.
"Nyonya, kau menunggu di sini?"
Hasna mengangguk, kedua resepsionis pun menghampiri Andreas.
"Pak, wanita ini ingin bertemu dengan pak Jansen. Tapi kami menyuruhnya agar membuat janji dulu."
"Bodoh!" maki Andreas di iringi tatapan membunuh. "Kalian ingin secepatnya di pecat?"
Kedua Resepsionis itu menunduk dan saling melirik. "Maaf pak, kami tidak tau."
"Sudah, sekarang antarkan saja aku pada Om Se, sebelum makanannya keburu dingin." Hasna melerai perdebatan keduanya dan malah memperpanjang waktunya.
"Silahkan Nyonya." Andreas membuka pintu kaca di depannya, lalu berlalu pergi. Dia tidak mau mengganggu kedua majikannya itu, dan terlihatlah seorang pria yang tengah berkutat dengan dokumen di depannya.
Pria itu pun khusuk dengan beberapa laporan dan tidak sadar seseorang tengah mendekatinya.
Dipandangnya pria itu dengan seksama, sangat tampan. Bahkan kalau bukan ayah mertuanya dulu, ia juga akan terpesona. Hasna menggeleng, statusnya akan tetap sama sekalipun mereka sudah menikah.
Karena terlihat serius, Hasna mengambil bolpoint yang hendak mentandatangani kertas di bawahnya.
"Apa yang kau ...." Serkan bungkam, wanita yang di tunggu-tunggu dari tadi kini berada di depan matanya. Ia langsung tersenyum dan melihat ke arah tangannya yang membawa sesuatu.
"Itu untuk ku?"
"Iya, Om Se tidak boleh terlalu lelah. Jangan sampai sakit."
"Bawel,"
__ADS_1
Hasna pun tertawa di ikuti Serkan. Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan merangkul Hasna ke arah sofa. Hasna menaruh rantang bekal itu dan membongkarnya, ada sup iga, nasi hangat, sambal terasi, tahu dan tempe.
Hasna melayani Serkan dengan telaten dan. pria itu menerimanya dengan senang hati. Apa pun yang di masak oleh Hasna semua makanannya terasa lezat.
"Ini bagaimana cara makannya?" tanya Serkan mengambil sepotong tempe goreng.
Hasna terkekeh, orang kaya kalau tidak tahu tempe rasanya aneh. "Ya Om Se tinggal makan saja, bareng sama nasinya atua makan dulu, bisaa juga makan setelahnya." Jelas Hasna.
Serkan mengangguk, dia langsung memakan tempe goreng itu. "Emmm, enak."
Serkan menyuapi mulutnya dengan nasi yang telah tercampur sup iga sapi dan rasanya langsung membuatnya ingin secepatnya menghabiskan makanan itu.
"Kau tidak mau ikut makan?" tanya H
Serkan.
"Aku sudah kenyang Om Se. Tadi sebelum kesini aku sudah makan."
Serkan menyodorkan sendok yang telah terisi nasi itu. "Makanlah dan temani aku. Aku menyuruh mu datang kesini untuk menemani ku makan."
"Tapi Om Se,"
"Jangan menolak Hasna." Serkan berkata dengan lembut dan seakan memohon membuat Hasna tak bisa menolak.
Hasna membuka mulutnya dan satu suapan berhasil Serkan lakukan.
"Enak?" tanya Serkan.
Hasna tersenyum dan mengangguk. Serkan memasukkan satu sendok nasi itu ke dalam mulutnya.
"Om Se, emm ..." Hasna menghapus sisa makanan di sudut bibir Serkan dengan jarinya jempolnya.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Waktu seakan berhenti dan membuat dadanya berdebar-debar di iringi sebuah kehangatan.