Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Kepanikan Serkan


__ADS_3

"Honey, aku ke toilet dulu, kau tunggu di sini," ucap Serkan sambil menurunkan Hasna. Dia berlari kecil sambil menggendong kepala lebah yang ia gunakan.


Hasna menyapu seluruh taman, dia langsung kaget saat ada uluran tangan di depannya.


Hasna membuka tas selempangnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan. "Ini untuk embak," Hasna menaruh uang kertas itu, lalu menutup setiap jari wanita lusuh di depannya.


Ini gara-gara kau Hasna.


Seperti api kecil yang tersiran bensin, lalu api itu berkobar tanpa melihat apa pun di depannya dan melahapnya. Kemarahan Alena semakin menyala, dia yang dulu di puja dan di segani kini harus mengemis dan setiap harinya hidup dalam pelarian.


"Terima kasih embak,"


"Iya sama-sama," Hasna tersenyum. Ia begitu senang membantu wanita di depannya, ia sangat bersyukur kehidupannya lebih baik dari sebelumnya.


Hasna memutar tubuhnya, dia menuju depan toilet pria dan berdiri di luar sambil menunggi suaminya. Ia pikir suaminya akan kerepotan membawa kepala lebahnya itu.


Alena mengangkat wajahnya, menatap punggung Hasna. Sebelah taangannya telah mengeluarkan pisau yang siap menebus perut Hasna. Dia berjalan, namun Andreas menangkap gelagat aneh dan matanya langsung melebar saat ada seorang wanita perlahan mendekati Hasna sambil memegang pisau.


Saat Alena melayangkan pisaunya ke tubuh Hasna, Andreas langsung memegang pisau itu.


"Argh!" Andreas berteriak kencang. Eli berlari menghampirinya dan menatap wanita yang memegang pisau itu.

__ADS_1


"Nyonya Alena," Eli menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Menyadari keberadaan Alena, Andreas melepaskan tangannya yang sakit dan memintal tangan Alena menggunakan tangan sebelahnya.


"Hasna, kau tidak apa-apa?" tanya Eli.


"Tuan, nyonya Alena ingin mencelakai Nyonya Hasna." Tutur Andreas saat melihat Serkan yang menghampirinya.


"Honey," Serkan menarik Hasna masuk ke dalam pelukannya. "Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Serkan sambil memeriksa tubuh Hasna.


"Aku tidak apa-apa, tapi dia?" Hasna melirik Alena yang menatapnya dengan penuh kebencian.


"Dasar perempuan sialan,"


"Argh! Ini semua gara-gara kamu wanita sialan!!" teriak Alena meronta-ronta dari Andreas. Dia berusaha melepaskan diri untuk mencakar wajah Hasna. Darahnya langsung mendidih, memebentik gelembung kebencian.


"Ini semua gara-gara kau Hasna, kau yang membuat ku seperti ini. Aku akan membunuh mu, aku akan membunuh mu."


Plak


Serkan melayangkan kekuatan tangannya dengan cepat dan keras pada pipi Alena dan meninggalkan bekas telapak tangannya. "Dasar wanita gila, kau yang ingin mencelakai Hasna. Sudah dari dulu aku ingin membunuh mu."

__ADS_1


Hasna memegang lengan Serkan. "Sayang, ayo kita pergi. Kita serahkan Alena pada polisi." Dia menoleh dan melihat Eli yang sudah memhubungi polisi.


"Ayo sayang," Hasna menarik lengan Serkan. Namun tiba-tiba perutnya terasa sakit.


Alena tertawa, dia begiti gembira melihat Hasna yang kesakitan dan kakinya ada darah yang mengalir. "Hahaha, anak mu mati Hasna. Kau keguguran, anak mu sudah mato itu pantas untuk mu."


"Hasna!"


"Nyonya!"


"Sayang kau kenapa? Apa? Kenapa ada darah?" tanya Serkan dengan panik.


"Anak mu mati Hasna," suara nyaring itu membuat Serkan tersadar.


"Anak?" Hasna meremas perutnya, ia menggeleng dengan air mata yang mengalir. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya, ia belum menyadari keberadaanya.


Sejenak Serkan tertegun, dengan mata yang memerah dia menggendong tubuh Hasna masuk ke dalam mobilnya di ikuti Eli dari belakangnya.


Sesampainya di rumah sakit, Serkan berteriak memanggil Dokter dan perawat sambil menggendong tubuh Hasna.


"Tolong istri ku, tolong istri ku, selamatkan istri ku." Serkan menggenggam tangan Hasna sambil mendorong brankar tempat Hasna terbaring lemah.

__ADS_1


__ADS_2