Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Part 40


__ADS_3

Semua Art sekaligus ketua Art/ketua pelayan, yakni Pak Aren memandang kedua wanita di hadapannya. Dia bingung, dulu Hasna di usir dari rumah ini dan dialah yang mengantar sendiri, lantas apa sebenarnya yang terjadi saat ini? Kenapa tiba-tiba sang nyonya membawa Alena yang sangat di bencinya.


"Pak Aren dan yang lainnya, mulai saat ini Hasna akan tinggal di sini. Perlakukan dia seperti kalian memperlakukan aku dan Serkan di rumah ini."


Beberapa Arta/pelayan pun tersenyum senang, jelas mereka senang karena selama ini mereka tidak berani memperlihatkan kesenangan mereka.


"Aku harap kalian tidak mempersulit Hasna atau bisa di bilang, dia bukan orang ketiga dalam hubungan rumah tangga ku. Aku yang membawanya kesini."


Hasna tak memperlihatkan ekspresi apa pun, bahkan Pak Aren pun tak bisa menebak melihat wajah Hasna. Entah apa yang di pikirkan wanita itu.


"Baik Nyonya," jawab Pak Aren.


"Pak Aren, kau siapkan kamar atas untuk Hasna, samping kamar Azzam."


"Baik Nyonya," ucap Pak Aren. Dia pun menghampiri Hasna. "Mari Nyonya saya antar." Ucap Pak Aren dengan hormat.


Pak Aren mengantarkan Hasna ke salah satu kamar dekat dengan kamar Azzam. Dia pun membuka kamar itu. Hasna menyapu ruangan itu, kamar yang luas, kasur king size, sebuah lemari, meja rias dan sofa yang menghadap ke TV.


"Terima kasih Pak."


Pak Aren membungkuk. "Saya permisi Nyonya, akan ada satu pelayan yang akan membantu Nyonya."


"Tidak perlu Pak, saya bisa sendiri."

__ADS_1


"Baik Nyonya." Pak Aren pun menutup pintu kamar Hasna kembali. Dia menghubungi seseorang dan mengatakan kalau Hasna sudah berada di rumah dengan di bawa oleh Alena.


Serkan menutup panggilannya, Alena, istrinya, beneran membawa Hasna ke rumahnya. Dia pikir Alena akan bersandiwara.


"Tuan, apa Tuan tidak khawatir dengan Nyonya Alena. Maaf, tapi sifat Nyonya ...."


Serkan paham, mengingat Alena yang menabrak Hasna membuatnya juga sedikit takut, tapi ia ingin memberikan kesempatan apa Hasna berubah atau tidak.


"Iya, aku ingin memberikan kesempatan."


"O iya, pastikan aku pulang lebih awal. Aku tidak ingin pulang larut malam."


"Baik Tuan," ucap Andreas.


Setelah membereskan barang-barangnya yang sedikit yang ia bawa dari rumahnya. Hasna duduk di tepi ranjang sambil menatap lemari pintu empat itu. Lemari yang besar itu malah hanya terisi satu kotak saja, itu pun hanya pakaiannya saja.


Hasna merebahkan tubuhnya, sambil menatap langit-langit. Ia tidak menyangka kalau ia akan menginjakkan kedua kakinya lagi di rumah ini.


Tanpa ia sadari, seorang pria tengah menghampirinya. Dia menoleh pada lemari yang di buka dua pintu itu dan tersenyum, besok pagi dia akan membelikan beberapa pakaian untuk Hasna agar lemari itu terisi penuh dan memindahkan beberapa pakaiannya ke dalam lemari itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Serkan. Dia duduk di tepi ranjang dan Hasna langsung beranjak duduk.


"Om Se sudah pulang?" tanya Hasna.

__ADS_1


Serkan tersenyum, mungkin karena melamunkan sesuatu sampai wanita di depannya tidak sadar kalau waktu sudah memasuki waktu sore. "Coba lihat jam berapa sekarang?"


Hasna langsung mencari jam dinding lewat ekor matanya. "Jam 04.15."


"Kau tidak sadar?" Serkan tertawa kecil. Tetapi ia penasaran apa yang menjadi beban pikiran wanita di depannya. "Kau memikirkan apa? memikirkan Azzam?" tanya Serkan. Rumah ini memang tidak luput dari kenangan Azzam.


"Tidak, aku hanya takut kehadiran ku membuat Om Se dan Tante Alena tidak nyaman."


"Tidak, justru aku senang kau di sini."


Hah


Hasna mengerutkan keningnya.


"Jangan memikirkan yang macam-macam," ucap Serkan sambil memalingkan wajahnya yang terasa panas dan memerah. Dia baru menyadarinya setelah kalimat itu lepas dari bibirnya itu.


"Oh,"


***


Sedangkan Alena, dia kembali menghubungi Leon dan menanyakan keberadaan Leon.


"Aku baru sampai, aku akan menemui mu besok pagi di kafe xxx. Kita akan bertemu di sana, sudah dulu aku mau tidur." Leon mematikan ponselnya dan membuat Alena kesal.

__ADS_1


Pria itu semakin belagu padanya, seakan tidak menghormatinya lagi.


__ADS_2