
Serkan melepaskan cengkramannya, dia memejamkan kedua matanya, kedua tangannya menekan erat meja kerjanya, nafasnya terus memburu.
"Serkan aku tidak percaya kau mencintainya, kau sudah berjanji pada ku untuk tidak mencintainya, kau tidak ingat wasiat Yumna?"
Serkan menatap dengan penuh hawa dingin seakan meremukkan tulang Alena. "Tentu saja aku ingat, tapi kau juga harus ingat. Kini kau harus ingat, Azzam sudah meninggal."
Alena tentu saja tidak terima, ia sangat mecintai Serkan. Dia tergila-gila pada pria tampan itu. Sepanjang hidupnya hanyalah untuk Serkan. Dia bahkan melakukan apa pun hanya demi untuknya.
"Serkan, bagaimana kalau Hasna tau?"
"Aku tidak peduli, yang jelas aku akan memperjuangkan cinta ku atas nama Serkan bukan Ayah Azzam.'' Dia bertekad akan membuat Hasna mencintainya.
Alena menggeleng, sejak air matanya tak berhenti untuk turun membelah kedua pipinya. Hatinya seakan hancur remuk redam, "Aku mencintai mu, kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan ku apa pun yang terjadi, kau sudah berjanji pada Yumna. Dia pasti sedih melihat mu seperti ini, bahkan Azzam pun sedih."
Alena terus membujuk menyadarkan Serkan bahwa apa yang pria itu lakukan sangatlah salah. "Aku mohon Serkan, aku mengandung anak mu."
__ADS_1
"Aku tidak percaya kau hamil," Serkan tersenyum kecut, entah terbuat dari apa hati Alena hingga membohongi dirinya.
"Apa maksud mu Abhi? Aku hamil anak mu.'"
"Kau bohong Alena!!" Serkan berteriak nyaring, seakan ingin meruntuhkan bangunan itu. "Kau bohong, kau tidak hamil. Sampai kapan kau membohongi ku? Seharusnya kau mengatakannya, kau menggunakan hamil pura-pura mu itu untuk menjerat ku kan?"
Alena menggeleng, dia langsung bersimpuh di depan kaki Serkan sambil mendongak dan memegang kedua kaki Serkan. "Aku tidak berniat untuk membohongi mu. Aku hanya takut kehilangan mu Serkan. Aku hanya takut kau menjauh dari ku setelah ada Hasna. Tolong mengertilah perasaan ku."
Serkan tidak lagi mempercayai wanita di depannya, apa lagi Alena kenal dengan Leon dan ingin menjebak Hasna. Hanya itu untuk membuat Hasna dekat dengannya, ia bahkan tidak bisa berpikir jernih. Ada rasa takut ketika Leon dekat Hasna, Leon masih muda dan tampan, tidak tua seperti dirinya, tapi ia tidak peduli. Sekalipun Hasna tidak mencintainya, ia ingin menjerat Hasna. Dia tidak peduli sekalipun Azzam mengutuknya.
"Abhi, kau Abhi ku, aku minta maaf, aku sangat minta maaf.'' Alena menangis tersedu-sedu. "Semua yang ku lakukan demi dirimu Abhi."
"Kalau kau melakukannya untuk ku, seharusnya kau tidak melakukannya. Kau akan berpikir dua kali demi diriku."
Alena berdiri, tangannya terkepal. Dalam darahnya yang mengalir menyimpan sebuah kebencian yang mendalam pada Hasna. "Baik, tapi aku tidak akan menyerah Serkan. Kita lihat, apa Hasna masih menyukai mu atau tidak.''
__ADS_1
Alena berlari, dia menekan tombol lift ke lantai bawah. Serkan meneriaki namanya, ia merasakan firasat buruk. Dia pun berlari mengikuti Alena, sampai di basemant dia mencari Alena dan melihat mobilnya mulai berjalan.
"Alena!" teriak Serkan.
Serkan mencari mobilnya, lalu memasuki mobilnya dan mulai menyalakannya.
Serkan memfokuskan kedua matanya melihat mobil Alena, mobil itu menyalip beberapa mobil lainnya dengan ganas. Serkan tak peduli, ia pun juga melajukan mobilnya dengan kencang.
ckitt
"Sial!!" Serkan terjebak lampu merah, mobilnya kalah jauh dengan Alena. Hampir saja dia menabrak mobil lainnya.
Sedangkan di rumah Serkan. Alena sudah sampai, dia berteriak memanggil Hasna dan membuat Hasna buru-buru menghanpirinya.
"Tante Alena?"
__ADS_1
Alena yang tak sabar pun menghampiri Hasna dan melayangkan sebuah tamparan.