Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#cinta sejuta


__ADS_3

Serkan melepaskan ciumannya, dia membalikkan tubuh Hasna memunggunginya. Di dekat jendela dengan semilir angin, Serkan membuka sedikit jilbab Hasna dan mencium lehernya.


Hasna memejamkan kedua matanya, merasakan sensasi hangat. Seakan ada kekuatan yang mengaliri urat-urat di tubuhnya.


Sebelah tangan Serkan memegang leher Hasna, menyusup ke dalam jilbab ungu itu. Dengan cepat dia menutup gorden jendela di depannya, dan langsung membuka jilbab Hasna. Kini ia melihat istri kecilnya melepaskan jilbab yang melekat di kepalanya dan perlahan membuka kedua matanya.


"Om Se,"


"Bolehkah?"


Hasna mengangguk dan menunduk. Serkan tersenyum, dia menarik dagu Hasna dan kembali menyerbu setiap inci bibir merah merona itu. Kedua tangannya dengan cepat membuat sang istri melepaskan pakaiannya.


Serkan menggendong tubuh Hasna ke arah ranjang kecil itu, dia pun perlahan membaringkannya dengan lembut. Sedangkan Hasna dia memilih memejamkan karena rasa gugup, debaran jantung yang semakin cepat dan sebuah kehangatan.


"Hasna, bolehkah." Serkan kembali meminta ijin, ia tidak ingin Hasna menyesal dan membencinya.

__ADS_1


Hasna membuka kelopak mata indahnya, dia tersenyum dan mengkedipkan kedua matanya.


Serkan kembali mencium Hasna dengan lembut, mencium setiap detail bibirnya. Hasna melenguh, darahnya berdesir.


Serkan mencium dan memberikan beberapa jejak cinta di tubuh Hasna. Dia melakukannya dengan lembut dan penuh cinta.


Dia terus membuat Hasna mendesah dan melayang di udara, ia tak berhenti memberikan cinta yang indah di tubuh Hasna.


Serkan melucuti pakaian miliknya, kini hanya tinggal miliknya yang siap bertempur. Dia membuka gerbang yang menekuk itu, lalu dengan perlahan mengenduskan pada milik Hasna.


Hasna membuka kedua matanya, dia melihat seorang pria di atasnya menatapnya penuh damba. Serkan kembali mencium bibir cantik milik Hasna. Dia perlahan menarik sedikit pinggang Hasna dan memasukan benda tumpul itu.


Hasna menghembuskan nafasnya pelan yang terasa berat itu, Serkan mencium kening Hasna dan menatap setiap inci wajah Hasna.


"Sayang," Serkan mencium leher Hasna. Tanpa sadar kedua tangan Hasna mengelus punggung Serkan dan memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Serkan perlahan memompanya dengan pelan dan sangat lembut, milik Hasna yang sempit itu terasa nikmat saat benda tumpul itu siap naik turun.


"Hah ..." Hasna terbuai, rasa sakit dan perih itu membuatnya mencakar kulit Serkan.


"Om Se, au ...."


"Sebentar lagi," bisik Serkan dengan mesra. Serkan terus melajukan benda tumpulnya dengan lembut, hingga membuat Hasna terbuai dan mennddesah.


Dia terus melajukan miliknya dengan cepat, namun lembut. Sehingga tidak ada rasa perih dan sakit milik Hasna. Serkan menghujani Hasna dengan ciuman dan kecupan serta ucapan mesra.


Lenguhan dan dessahan itu membuat ruangan itu menghangat, bahkan semilir angin itu menyapa setiap tetesan keringat di tubun Serkan dan Hasna. Serkan semakin menggebu melajukannya dengan kencang dan cepat, di iringi suara merdu yang Hasna ciptakan.


Dia merasakan kegagahan tubuhnya terasa bangkit, rasa yang beda di setiap inci yang ia rasakan pada Hasna, aroma wangi milik Hasna yang membangkitkan keinginanya untuk terus menggagahi Hasna.


"Huh ... Om e....mmmm"

__ADS_1


"Sayang, punya mu mmm...."


Hasna memeluk erat bental di depannya, kini Serkan memintanya untuk berbalik, entah berapa kali Serkan melajukannya dan saat ini tubuhnya sangat lelah, bahkan ia tidak tau entah berapa kali dirinya kelepasan.


__ADS_2