
"Tuan," sapa Dokter Aira. Dia membungkuk lalu kembali tegap. Dia pun duduk, lalu meminum jus yang berada di depannya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Andreas. Dia tidak memiliki waktu untuk berbicara berbelit-belit, apa lagi dia keluar sudah melewati jam kantor.
"Aku tidak memiliki banyak waktu."
"Itu, emm, itu anu nyonya Alena, nyonya Alena tidak hamil."
Andreas melebarkan telinganya, dia menatap sengit Dokter Aira, wanita ini berani membohongi bosnya itu.
"Kau berani membohongi tuan Serkan."
Dokter Aira melambaikan kedua tangannya, menyangkalnya. "Bu-bukan tuan, saya tidak berbohong, seorang suster yang salah, iya salah." Ucapnya gugup.
"Maaf saya tidak bermaksud." Dokter Aira segera berdiri dan membungkuk.
"Apa kau sudah mengatakannya pada tuan Serkan?" tanya Andreas.
Dokter Aira menggeleng, mana mungkin mau ia masuk ke lubang harimau, yang ada malah ia meninggalkan dunia.
"Hah!" Andreas mendesah pelan. "Nyonya Alena tau?"
Dokter Aira menggeleng, Andreas mengangguk dia akan mengatakannya pada Serkan secepat mungkin. Ia jadi kasihan pada Serkan yang bahagia hanya namanya saja.
"Saya mohon sampaikan permintaan maaf saya," ucap Dokter Aira.
__ADS_1
"Baiklah," Andreas bergegas pergi dan membuat Dokter Aira bernafas lega.
***
Di tempat lain.
Serkan, Alena dan Hasna telah sampai. Alena yang bergelanyut manja di lengan Serkan, sedangkan Serkan menggenggam erat tangan Hasna.
"Sayang sore ini aku mau keluar ya sama Hasna," ucap Alena. Dia ingin mempertemukan Hasna dengan Leon. Dengan begitu, rencananya cepat selesai.
"Baiklah, aku akan menemani kalian," ucap Serkan yang membuat Alena kembali memikirkan sesuatu.
"Sayang," Alena meraba dada bidang Serkan. "Kau kan sibuk bekerja jadi tidak perlu." Ucap Alena.
"Aku akan meluangkan waktu," ucap Serkan. Dia juga ingin makan bersama dengan kedua istrinya itu.
Serkan berpikir, kemudian menyetujuinya. Dia pun mengelus perut Alena yang masih rata.
Aku lupa kalau aku harus ke dokter.
"Om Se, aku pamit ke kamar dulu."
"Iya, istirahatlah." Ucap Serkan tersenyum.
Hasna berpisah dengan Serkan yang menuju kamar Alena.
__ADS_1
Hasna pun membaringkan tubuhnya, ia merasa lelah dan nanti sore dia harus mengantar Alena.
Sedangkan di kamar Serkan. Alena bergelanyut manja, dia ingin menghabiskan waktu bersama Serkan. Alena menyambar bibir Serkan dan pria itu pun diam tak membalasnya.
"Alena aku capek," tolak Serkan secara halus. Alena ingin merajuk, namun ia teringat kalau ia sedang berdarah.
"Ya sudah, kau mandilah dulu sebelum balik lagi ke kantor." Ucap Alena.
Serkan pun langsung bergegas ke kamar mandi. Alena mengambil ponselnya sambil melangkah ke balkon.
"Hallo, kau di mana?" tanya Alena.
"Aku sedang di Apartement," jawab Leon. Baru saja wanita itu bertemu dengannya tapi sekarang malah menghubunginya lagi.
"Kenapa?"
"Sore ini aku mengajak Hasna keluar. Kau bisa bertemu dengannya nanti," ucapnya.
"Baiklah, di mana?" tanya Leon.
"Di supermarket, aku akan mengajak Hasna kesana tepat jam 4."
"Emm, baiklah." Leon melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tepat pukul 02.30 yang artinya ia masih memiliki waktu tidur siang.
Bip
__ADS_1
"Sial dia mematikan ponselnya, aku belum selesai berbicara." Gumam Alena.
Siapa yang ingin Alena pertemukan dengan Hasna batin Serkan. Sejak tadi dia menguping pembicaraan Alena. Niat hati tadi ingin meminta Alena mengambilkan handuk, namun wanita itu tidak ada dan akhirnya dialah yang mengambil sendiri, tanpa sadar kedua matanya melihat pintu balkon yang terbuka. Seperti terkena sihir, kakinya melangkah ke arah pintu itu dan tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan Alena.