Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Diabaikan


__ADS_3

"Sudah," ucap Hasna menyadarkan Serkan.


Serkan yang di landa kegugupan pun makan dengan tergesa-gesa hingga tersedak. Hasan kembali menyodorkan satu botol aqua padanya, ia beranjak dan menepuk pelan punggung Serkan.


"Om pelan-pelan, Hemm ..."


"Aku emm du sakit sekali. " Dada Serkan seakan terasa terhimpit. Hasna terus menepuk pelan punggungnya.


"Gimana Om Se?"


"Sudah, sudah mendingin."


"Lagian Om Se makannya kayak kakek-kakek saja, sampai tersedak lagi."


"Wah semenjak kapan kau jadi istri yang menilai suaminya seperti kakek-kakek? wajah mulus begini di bilang kakek-kakek." Serkan mendekik tajam.


"Seperti, bukan sama."


"Apa bedanya? seperti itu seakan menyamakan." Serkan tidak terima. Dia kembali memakan bekal siangnya itu.


brak


"Serkan!" sontak Serkan dan Hasna menoleh ke arah pintu. Wanita itu melangkah dan tepat berhenti di depan keduanya. Melihat Serkan yang memakan bekal Hasna ia merasa cemburu.


"Kenapa kau tidak meminta pada ku Serkan?" tanya Alena.


Serkan menatap dalam Alena, dia tau Alena cemburu. Tapi apa salahnya kalau ia ingin bersama Alena, bahkan tadi malam pun Hasna sudah mengalah.


"Apa salahnya? Hasna istri ku." Serkan malah merasa kasihan pada Hasna yang sering mendapatkan tonjokan dari Alena.


"Tapi dia ..."

__ADS_1


"Maaf tante, tapi status kami istri dan suami. Kami berhak berbicara berdua." Hasna menyela, entahlah ia merasa tidak suka pada Alena yang terus memancingnya.


"Kau!" Alena menunjuk Hasna.


"Alena jangan membuat keributan, ini di kantor." Serkan memperingati.


"Abhi," Alena menyerah, tapi tunggu saja. Dia akan membuat Serkan sendirilah yang mendepaknya.


"Baiklah, aku minta maaf. Mungkin karena hormon kehamilan ku." Ucapnya.


"O iya, apa kau bisa menemani ku hari ini. Aku ingin sekali bersama mu Abhi."


"Hem, ini masih di kantor." Serkan kembali ke kursinya. Dia duduk untuk memeriksa beberapa laporan.


Hasna yang tak enak hati, secepatnya dia membereskan rantangnya. Dia tidak mau berlama-lama bersama Serkan dan Alena. Ia bukan pengganggu yang selalu saja di sindir, tapi mengingat perkataan pak Aren. Hatinya ingin membuat Serkan tersenyum.


Alena merasa di abaikan, dia menoleh pada Hasna yang sedang membersihkan meja itu. Dia pun duduk di sofa itu, lalu menyilangkan kedua kakinya.


"Kamu di mana?" tanya Serkan. Ada beberapa hal yang harus di bahas.


"Aku sedang ada di rumah sakit," ucap Andreas. Dia membantu seorang wanita yang tak lain adalah teman Hasna karena keserempet mobil. Niatnya tadi ingin keluar makan siang dan tidak sengaja menabrak Eli.


"Hah, siapa yang sakit?" tanya Serkan. Setaunya Andreas baik-baik saja tadi.


"Bukan aku, tanpa sengaja aku menyerempet seorang wanita." Andreas menjelaskan dan menjadi ucapannya, karena tidak ingin mengganggu waktu sang bos bersama nyonya mudanya.


"Oh baiklah," Serkan mematikan ponselnya. Dia pun menghela nafas panjang.


Alena tersenyum licik, Serkan membutuhkan sesuatu. Ia ingin wanita menunjukkan keahliannya pada Hasna.


"Sayang, kamu butuh sesuatu?" tanya Alena. Setelah menikah dengan Serkan dia tidak lagi menginjakkan kakinya di perusahaannya, meskipun perusahaannya tidak sebanding dengan Serkan, tapi lumayan untuk mendorong perusahaan Serkan.

__ADS_1


"Kau istirahatlah," ucap Serkan menolah halus.


"Tidak, biar aku bantu. Lagi pula anak ku membutuhkan Daddynya."


Serkan pun mengangguk, dua juga butuh sebuah pendapat.


Hasna menatap kedua orang yang memiliki pemikiran berbeda itu, kadang Serkan menolak dan mengiyakan, kadang dia juga berpendapat. Jika di bandingkan dengan Alena, ia merasa minder berada di samping Serkan. Ia tidak memiliki keyakinan untung bersanding dengannya.


Sesekali Serkan melirik Hasna dan itu tertangkap basah oleh Alena.


"Abhi, fokuslah pada pekerjaan mu. Ini lebih penting dari pada apa pun." Alena merasa dongkol. Dia menoleh pada Hasna yang masih duduk di sofa tanpa beranjak ingin pulang.


"Hasna sampai kapan kau ingin berada di sini? di sini bukan tempat untuk santai."


"Ah iya," Hasna menutup buku yang ia baca. Ternyata Serkan juga menyukai sebuah cerita romantis, tapi anehnya ia merasa Serkan tidak ada romantisnya.


Serkan pun menutup dokumen yang belum selesai itu, dia memakai jas kerjanya dan membuat Alena mengerutkan dahinya.


"Sayang kau mau kemana?"


"Aku mau mengantar Hasna, dia mau pulang kan? jadi aku mau mengantarnya."


"Sayang, ini belum selesai."


"Biarlah nanti, ayo Hasna aku antar kamu. Oh iya, sekalian kamu juga pulang."


"Serkan aku ..."


Serkan tak memperdulikan Alena yang ingin melanjutkan perkataannya, dia menarik lengan Hasna keluar dari ruang kerjanya itu.


wanita murahan itu, semuanya gara-gara Hasna. Aku harus secepatnya mempertemukan Leon dengan Hasna.

__ADS_1


__ADS_2