
"Sudah selesai." Hasna merasa puas dengan hasil karyanya. Kedua matanya memerah, dia juga pernah membenarkan dasi milik Azzam.
"Hasna bantu aku mengikat dasi ini, Oh Tuhan ini terasa mencekik."
Hasna tersenyum, dia menaruh piring di meja makan. Pagi-pagi sekali Azzam datang ke rumahnya dan membawakannya beberapa buah-buahan.
"Tumben sekali kau memakai kemeja? mau ke kantor."
"Biasalah Daddy,"
"Coba kau ikatkan," Azzam menatap wanita di depannya sambil memegang dasinya yang belum di ikat.
"Haih, aku bukan istri mu."
"Ish, apa perlu hari ini kita mendaftarkan nikah? hemm...."
"Kau mau aku menikah dengan mu."
"Tentu karena aku mencintai mu."
Serkan sedikit menurunkan kepalanya, dia menatap Hasna yang tanpa berkedip melihat dasinya. Dia kembali menegakkan kepalanya, dari kedua bola matanya ia tau Hasna kini teringat dengan Azzam. "Terima kasih, terima kasih sudah cantik."
Hasna mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
Bagaikan orang linglung, Serkan menggeleng. Dia mengalihkan pembicaraannya. "Kau teringat Azzam?"
__ADS_1
"Aku pernah memakaikan dasi untuknya."
Nyes
Hati Serkan panas, haruskah ia cemburu pada orang meninggal? bahkan yang di cemburui adalah anaknya sendiri, tidak masuk akal bukan?
Serkan menggaruk alisnya yang tak gatal, melihat wajah Hasna ia lupa kalau ia menghadiahkan sesuatu. "Aku lupa sesuatu."
Serkan bergegas kembali ke celananya yang ia rendam. Padahal di dalam sakunya terdapat sebuah kalung yang ia pesankan untuk Hasna.
"Ada apa Serkan?" tanya Alena melihat Serkan mengambil celananya basah.
"Ada sesuatu," ucap Serkan. Dia mengambil sebuah kotak kecil beludru berwarna biru itu. "Syukurlah,"
"Serkan kau hanya mengingat Hasna tapi tidak mengingat ku?" Alena tersenyum getir, ia merasa satu demi satu langkah Serkan dan Hasna mulai dekat. Ia takut akan tumbuh rasa cinta di keduanya.
"Bukan begitu, hadiah mu aku taruh di laci sama seperti milih Hasna cuman beda warna."
"Begitu ya," Alena memaksa bibirnya membentuk senyuman. Seharusnya ia yang di manja, bukan harus membagi untuk orang lain.
Kau tega sekali Serkan, ini sangat sakit.
Alena menghapus air matanya dengan sebelah pipinya. "Aku tidak akan membiarkan apa pun merusak rumah tangga kita."
Alena berbalik, dia melihat Serkan yang menjelaskan pada Hasna dan memakaikannya di lehernya.
__ADS_1
"Apa yang sudah menjadi milik ku, aku tidak akan membaginya lagi, termasuk dirimu sekalipun adalah kekasih tercinta putra mu itu."
Hasna meraba kalung di lehernya. Ia tersenyum, seakan hatinya di tumbuhi ribuan bunga mawar. Berbentuk Love dengan permata berwarna merah.
"Cantik."
"Terima kasih Om Se."
"Iya, aku senang kau mengucapkan terima kasih pada ku." Serkan melipat kedua lengannya. "Permata itu sangat indah saat berada di ratunya permata. Ah, permata itu kalah dengan wajah mu Hasna. Kau terlalu cantik."
Blush
Hasna menunduk, di goda oleh Serkan membuat jantungnya tak karuan. Sekalipun dia pernah di goda oleh tunangannya sendiri, tapi rasanya beda. Serkan adalah suaminya.
Hasna memegang dadanya, ia merasa kelewat batas karena mengakui Serkan sebagai suaminya. Ia tidak mau menerobos batas itu.
"Hasna kau sangat cantik," ucap Alena menyela. Dia melingkarkan sebelah tangannya di pinggang serkan.
Serkan tersenyum menatap Alena. Dia senang kalau kedua istrinya akur.
Alena meraih sebelah tangan Serkan ke atas perutnya. "Dia juga akan memanggil mu ibu, iya kan sayang?" Alena mendongak meminta jawaban pada Serkan.
"Iya, anak kita akan memiliki dua ibu. Kamu harus menjaganya. oh iya," Serkan membungkuk dia menjajarkan tinggi badannya dengan perut Alena.
"Daddy berangkat dulu ya sayank." Serkan mencium perut Alena. Sedangkan Hasna ia merasa pasangan di depannya sangat sempurna, rasanya ia tidak pantas memasuki kehidupan mereka. Ia merasa menjadi orang ketiga di hadapan mereka.
__ADS_1