Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Merasa Di Bohongi


__ADS_3

Serkan keluar menuju kamar Hasna, di sana dia melihat Hasna yang membaringkan tubuhnya. Dia melambaikan tangannya ke wajah Hasna. Namun kelopak indahnya itu tetap terpenjam.


Serkan menggaruk kepalanya, dia pun membaringkan tubuhnya di samping Hasna. Ia menarik lembut tubuh Hasna sampai berada di depan dadanya.


Emm


Hasna melenguh, dia melingkarkan tangannya ke tubuh Serkan dan membuat pria itu menegang. Aroma shampo yang manis itu membuat tubuhnya ingin dikendalikan oleh Hasna.


Serkan menahan sesuatu di bawah sana yang tampak sesak itu, dia berusaha menahannya agar tidak terjadi sesuatu.


"Hah!" nafasnya terasa panas dan berat. Ia pun memejamkan kedua matanya. Ia menatap kembali wanita di bawah kukungannya itu, ia sedikit menurunkan wajahnya dan tanpa sadar bibir itu bersentuhan.


Serkan terbuai dengan bibir lembut Hasna, dia ingin mengecupnya lebih dalam. Hingga ia tersadar apa yang ia lakukan dan malah berpaling, ia pun memejamkan kedua matanya dan melirik Hasna.


"Syukurlah, dia tidak bangun." Gumam Serkan. "Aku merasa menjadi pria pecundang yang mencuri diam-diam istrinya."


Serkan kembali menoleh ke arah lain dan memejamkan keduanya matanya, ia tidak berani menatap wajah Hasna, ia takut kembali terbuai dan berulah.

__ADS_1


Hasna membuka kedua matanya, dadanya berdebar saat Serkan menyentuh bibirnya. Saat Serkan menyentuh bibirnya, ia memang sadar, namun ia berpura-pura tidur.


Ia menyentuh bibirnya, ada gelenjar aneh yang ia rasakan. "Apa ini? apa aku sudah terikat dengan Om Serkan? apa hati ku sudah berpindah?" batin Hasna.


Ia mengintip Serkan, lalu mengamati pahatan wajah tampan itu. Seakan tak pernah bosan melihatnya.


Serkan yang kelelahan pun telah tidur pulas, tanpa sadar memeluk Hasna dan wajahnya tepat berada di depan Hasna. Bahkan nafas keduanya saling menyapa.


Hasna menarik kedua sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyuman manis. Seakan batinnya memang telah terikat dengan Serkan.


Hasna menaruh kepalanya di atas lengan Serkan, dia tersenyum dan memejamkan kedua matanya.


Alena tengah bersiap-siap menjalankan misinya, kalau bukan karena misinya dia mana mungkin berbelanja ke supermarket. Selama hidupnya, ia hanya menghabiskan hidupnya jalan-jalan, ke salon dan ke mall, tidak pernah di belanja keperluan dapur.


Alena memastikan Leon akan datang, dan pria di itu meyakinkan Alena bahwa ia akan datang.


Alena tersenyum, ini adalah awal baru untuk Hasna. Dia akan membuat Serkan percaya padanya kalau Hasna bermain gelap dengan seorang pria.

__ADS_1


Alena pun keluar dari kamarnya, dia menyuruh salah satu pembantu rumahnya itu memanggil Aluna dan pembantu itu mengetuk, namun tidak ada sahutan, dan melaporkannya pada Alena.


"Wanita itu benar-benar merepotkan."


Alena kembali ke lantai atas, dia pun membuka kamar Hasna dan ingin berteriak namun tenggorokannya tercekat melihat sesuatu yang membuatnya dadanya memanas.


Ya dia melihat Serkan dan Hasna tidur berpelukan, bahkan kepala Hasna berada di atas dada Serkan. Namun hanya satu, pakaian mereka masih utuh.


"Nyonya apa perlu saya membangunkan Nyonya Hasna."


Dengan ragu, wanita yang berpakaian Art itu maju dan sedikit membangunkan Hasna. Bukannya Hasna yang bangun tapi malah Serkan.


"Em," Serkan mendekik tajam dan wanita itu menunduk.


"Maaf tuan, nyonya Alena ingin bertemu dengan nyonya Hasna."


Serkan mengedarkan pandangannya dan mendapati Alena yang berdiri di depan ranjangnya. Salah satu tangan Serkan mengelus kepala Hasna. "Kalian keluarlah." Ucap Serkan.

__ADS_1


Alena langsung bergegas pergi, ternyata suaminya tidak kembali ke kantor, justru malah menemani Hasna tidur. Ia di bohongi oleh Serkan. Dia pun mendorong guci yang berada dekat di depan pintu. Ia memang sengaja membuat kegaduhan agar Hasna bangun.


__ADS_2