Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Penolakan Serkan


__ADS_3

Memikirkan perkataan Pak Aren membuat Hasna menatap lekat wajah Serkan yang tertidur pulas. Dia teringat perkataan Pak Aren. Serkan yang ia kenal dingin itu, tidak menyangka harus mengalami kepahitan hidup.


*Saya tidak menyangka Nyonya Yuna bisa melakukan itu, kalau seandainya tuan muda Azzam bukan anak kandung tuan Serkan. Saya yakin, tuan Serkan akan semakin hancur.


Jadi saya mohon pada Nyonya, saya titip pada tuan Serkan. Dia sudah mengalami banyak sakit hati.


Mungkin memang Nyonya jodohnya tuan Serkan, walaupun perjalanan Nyonya dan tuan Serkan tidak mulus seperti yang lainnya*.


Hasna menurunkan tangan Serkan di atas dahinya. Ingin sekali dia membangunkan Serkan, tapi melihat tidur pulas Serkan dia merasa kasihan.


Emm


Serkan membuka kedua matanya saat merasakan tangannya di sentuh seseorang. "Hasna." Sapa Serkan, kedua matanya melihat wajah teduh Hasna.


Serkan mengucek kedua matanya, dia beranjak duduk dan menguap. "Apa ada sesuatu?" tanya Serkan. Matanya terasa berat untuk di buka.


"Tidak Om Se, tadi Om Se kan meminta makan malam di antar kesini, tapi karena ..."


"Sit, aku lupa. Berarti kau belum makan kan? pasti makanannya sudah dingin?"


"Tidak apa-apa Om Se, Hasna bisa memakannya, tapi untuk Om Se, Hasna akan menghangatkannya."

__ADS_1


"Tidak usaha, kita makan hidangan itu."


Serkan menyibak selimut yang menutupi separuh tubuhnya, ia teringat tadi menggunakan selimut dan pikirannya menebak kalau Hasna yang menyelimutinya dan membuatnya tersenyum. Dia senang berada di samping Hasna, wajah dan senyumannya yang membuatnya tenang, seakan damai tanpa masalah apa pun.


"Hasna, bisa tidak besok siang kamu mengantarkan makan siang?" tanya Serkan. Sekalipun dia suaminya, ia tidak bisa meminta semena-mena, ia takut Hasna tidak menyukainya.


"Iya Om." Sebenarnya Hasna ingin menghindar, bukan kah ia harus menolaknya? tapi hatinya berkata lain. Entah mengapa, ia ingin membuat Serkan senang.


Serkan pun duduk setelah Hasna duduk, keduanya berhadapan dan memakan hidangan dingin itu. Seumur hidupnya, Serkan yang selalu makan masakan hangat kini menyentuh makanan yang sudah dingin, yang di tinggal beberapa jam lalu.


Tok


Tok


Tok


Hasna membuka pintu kamarnya dan melihat Alena yang berdiri, melihat wajah Alena yang tak bersahabat membuat Hasna mengerti, kalau wanita di depannya sedang marah.


"Dimana Serkan?" tanya Alena. Sejak tadi dia menunggu Serkan untuk datang ke kamarnya. Berharap teguran tadi membuat Hasna berkaca.


"Om Se sedang makan Tan, masuk dulu Tan."

__ADS_1


Hasna mengelus dadanya, tanpa di suruh pun Alena menyelenang masuk melewatinya.


"Abhi,"


Serkan mengangkat wajahnya. "Alena,"


Alena mengambil tempat duduk, tepat di samping Serkan. "Kau tidak datang ke kamar ku? padahal aku sangat merindukan mu. Bayi kita sangat merindukan mu."


Serkan mengelus perut Alena. "Maaf ya, aku kelelahan dan tidur di sini."


"Malam ini kamu tidur bersama ku?"


Serkan menggeleng, malam ini ia ingin tidur dengan Hasna. Ia rindu seranjang dengan Hasna walaupun tidak melakukan apa pun seperti pertama kalinya.


"Aku ingin tidur di sini malam ini."


Deg


Hati Alena teriris, sakit dan perih. Serkan menolaknya mentah-mentah, padahal ia sudah menggunakan anaknya. Dia pun menoleh dan dari tatapan itu Hasna mengerti kalau ia harus menolak.


"Om Se, malam ini tidurlah dengan Tante Alena." Bujuk Hasna.

__ADS_1


"Tidak, malam ini aku ingin tidur di sini. Aku sudah membuat jadwal, seminggu bersama dengan Hasna dan seminggu lagi bersama dengan Alena." Serkan berkata dengan tegas.


__ADS_2