
Serkan menatap wajah Hasna yang masih terpenjam, pikiran dan hatinya tertuju pada Hasna. Hampir saja dia merasakan lagi kehilangan anaknya, hampir saja separuh jiwanya pergi. Seandainya, seandainya terjadi, ia tidak bisa memafkan dirinya sendiri.
Serkan mencium beberapa kali tangan Hasna yang lemas itu.
"Tuan," Eli menyapa Serkan.
"Aku hampir kehilangan lagi," lirih Serkan. Air matanya keluar begitu saja. Melihat Hasna terbaring lemah ia tak bisa, ia takut, ia pernah kehilang dan tak ingin kehilangan lagi. "Kenapa bukan aku saja? Kenapa bukan aku saja."
Eli merasa iba, ia tau perasan tuannya yang tak mudah merelakan kepergian Azzam. Bahkan sekarang anak keduanya pun terancam.
"Saya doakan nyonya Hasna dan anaknya baik-baik saja."
Hasna menggerakkan jarinya, Serkan menggenggam erat tangan Hasna, yang ia tunggu-tunggu Hasna membuka kedua matanya dan melihatnya.
Serkan mendekat ke wajah Hasna, membalai pipinya dan perlahan mata indahnya terbuka. "Honey,," Serkan mencium wajah Hasna bertubi-tubi.
"Tuan saya akan memanggilkan Dokter," ucap Eli langsung berlari. Dia berlari memanggil dokter.
"Kau sadar, terima kasih tidak pergi dari hidup ku Hasna." Serkan menyandarkan kepalanya di ceruk leher Hasna, tempat kesukannya. Setiap malam pasti Serkan akan tidur di ceruk lehernya.
"Aku sangat takut." Serkan mengeluarkan rasa takutnya dan kesedihannya. Tidak ada seorang suami yang ingin melihat istrinya dan anaknya terbaring lemah, bahkan tiada.
"Sayang, syukurlah anak kita baik-baik saja."
Hasna menghapus air mata yang membasahi pipi Serkan, suaminya. "Aku tau, anak kita kuat dan baik-baik saja. Dia memiliki ayah yang kuat."
__ADS_1
Walaupun sejujurnya Hasna yang lebih takut, sebagai seorang wanita, ini pertama kalinya dia menjadi seorang ibu, bahkan seseorang yang ia nantikan.
"Maafkan aku, ini salah ku yang tidak menyadari keberadaannya. Aku tak menjaganya dengan baik."
"Tidak ...." Serkan menggeleng, ini bukan salah istrinya, sekalipun istrinya tak menyadari, semua kejadian ini tak akan terjadi kalau ia menemukan Alena dengan cepat.
"Ini salah ku sayang,"
"Sudah, sekarang tugas kita menjaganya dengan baik."
Seorang wanita berjas putih memeriksa Hasna, menghentikan obrolan keduanya. Setelah selesai di periksa, Serkan mendengarkan perkataan Dokter untuk menjaga Hasna dengan baik, makanannya dan istirahatnya.
Dengan teliti, Serkan menyimak, dia tidak ingin melewatkan sedikit pun tentang Hasna dan anaknya.
Serkan mengangguk, tekadnya yang kuat untuk menjaga Hasna dan anaknya sepanjang hidupnya. Ia sangat senang karena di berikan kepercayaan oleh Tuhan, mendapatkan cinta yang tulus dan mendapatkan seorang anak. Hidupnya sangat bahagia.
...
"Suami ku, aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
Serkan tersenyum sambil mengelus kepala Hasna. "Aku tau, istri kecil ku ini tidak akan diam saja. Jadi aku ingin menjaga istri ku dan mengawasi istri ku."
"Bagaimana kalau aku menjaga Hasna? Aku akan ikut andil untuk menjaga mu," ucap Eli yang berjalan ke arah mereka. Dia mengambil air putih untuk sahabatnya itu.
Hasna tersenyum, ia bersyukur hidupnya masih ada orang yang begitu menyayanginya dan menjaganya.
__ADS_1
Tak terasa berhari-hari, berminggu-minggu, hingga tak terasa kini waktunya Hasna melahirkan. Tepat jam 04.30 Hasna merasakan luar biasa sakitnya di bagian bawah perutnya, Serkan segera membawanya ke rumah sakit dan di sinilah dia.
Hasna memperjuangkan hidup dan matinya, dia mengejam sambil menggenggam kuat tangan Serkan. Sedangkan pria itu tak berhenti berdoa dan menyemangatinya. Bahkan tak jarang, Dokter dan suster melihat Hasna menjambak rambut Serkan dan menggigit lengannya, seakan Serkan menjadi sasaran empuk kesakitan yang di alaminya.
Serkan tak peduli dengan kesakitan yang Hasna lakukan, dia lebih fokus pada perjuangan istrinya.
Dan inilah yang di tunggu, detik-detik seorang bayi mungil dan merah menangis, suaranya begitu nyaring memekik di ruangan itu.
Serkan menghapus kedua sudut air matanya, dia merasa lega melihat putrinya keluar dan Hasna yang tampak lelah.
"Sayang ...." Serkan mencium kening Hasna dengan sangat lama. Menuruni wajahnya mengecup hidung mancungnya, lalu bibirnya.
"Terima kasih,"
Hasna tersenyum di balik bibir pucatnya. Kini ia menjadi seorang ibu yang akan memiliki tanggung jawab untuk anaknya.
"Terima kasih, kau ayah yang baik, yang menjaga putri kita dengan baik." Hasna teringat selama masa kehamilan. Serkan begitu menjaganya, bahkan dia pernah membuat Serkan bolak balik ke kantornya saat dia mengidam, tapi pria itu tak pernah, justru merasa senang.
Seorang Dokter menaruh bayi merah itu di atas dada Hasna, dengan cepat bayi merah itu menghisap miliknya.
Dengan tangan bergetar, Serkan meraba kepala putrinya. "Dia lucu sekali."
"Ameera, Ameera Putri Abhizar Acnaf."
......
__ADS_1
Mohon maaf ya, kalau ada beberapa kesalah tulisan dan ceritanya kurang menghibur. Mohon maaf sebanyak-banyaknya, terima kasih sudah membaca karya Author, jangan lupa baca juga punya author "Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku" masih belum tau kapan publishnya, jangan lupa baca ya🙂