
Seiring berjalannya waktu, kini baby Ameera berumur 11 bulan. Anak itu merangkak dengan cepat di lantai putih itu, menuju ke arah langkah kaki. Wajahnya.berbinar dan tersenyum memperlihat beberapa giginya yang sudah tumbuh, seakan menahan rindu, dia merangkak tanpa memperhatikan mainan yang berserakah itu, bisa saja mainan itu membuat goresan di kedua lutut baby Ameera.
Pria yang memakai tuxedo berwarna silver itu membuang tasnya ke atas sofa.
"Sayangnya Daddy," Serkan mengambil putrinya dan menciumnya dengan gemas. Saking gemasnya membuat baby Ameera tertawa karena merasa geli dengan rambut yang tumbuh di dagu Serkan.
"Mas, sudah pulang?" Hasna segera meraih tangan Serkan dan menciumnya dengan takdim.
"Baby Ameera membuat mu susah?" tanya Serkan. Seperti biasa dia akan menanyakan aktivitas Baby Ameera.
"Kau ini ada-ada saja, mana ada ngurus anak gak susah, tapi senang dan sekaligus tanggung jawab ku." Hasna ingin mengambil baby Ameera di gendongan Serkan, namun baby Ameera malah melengos dan tidak mau, seakan sangat merindukan sang ayah.
"Sayang, kasian Daddynya. Daddy pasti capek." Hasna kembali meraih sebelah tangan Ameera agar pindah.
"Aaa ..." Baby Ameera merengek.
"Sayang sudah, biarkan saja. Baby Ameera pasti merindukan Daddynya." Serkan menepuk pantat Ameera dengan pelan. Bocah mungilnya ini selalu manja padanya.
"Hemm, ya sudah." Hasna menyerah, toh percuma saja dia paksa.
"Hasna," sapa seorang gadis. Dia berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria.
__ADS_1
Keduanya tampak serasi, berbagai cekcokan keduanya yang kini menjadi sebuah cinta.
Serkan berdecih, dia tak menyangka seorang Andreas akan jatuh cinta pada Eli si bar-bar. "Ngapain kalian kesini?" tanya Serkan dengan tatapan menyelidik.
Eli membuka tas ranselnya, lalu memberikan sebuah undangan untuk Hasna.
"Ini ..." Hasna membuk dengan cepat undangan itu dan langsung memeluk Eli. "Akhirnya, Eli si jomblo gak jadi jomblo lagi." Ledek Hasna.
Eli tertawa, ia akui si cowok yang membuat ia naik darah bisa membuatnya jatuh cinta. Siapa sangka, ia akan terperangkap cinta sang Asisten yang berwajah dingin.
"Hem," Andreas menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia menyadari menjilat air liurnya sendiri yang telah ia buang.
"Bos,"
Semua orang tertawa melihat Andreas yang malu-malu kucing. Andreas yang begitu dingin dingin siapa sangka akan jatuh cinta.
....
"Andreas, aku bertanya pada mu sebagai seorang teman. Apa kau benar-benar menyukai Eli?" tanya Serkan. Dia yang tau kehidupan Andreas dan tak mungkin mudah jatuh cinta, tapi ya tergantung, dia saja bisa jatuh cinta pada Hasna dan bucin akut dalam sekejap.
Kini keduanya mengobrol hangat di teras samping sambil melihat Eli yang mengejar Hasna membawa Ameera. Sontak bayi gembul itu tertawa geli melihat Eli yang mengejarnya tak sampai.
__ADS_1
Andreas merasakan detak jantungnya yang hampir menyebut nama Eli. "Iya tuan, saya mencintai Eli."
"Kau benar-benar sudah melupakannya?" tanya Andreas. Ia takut suatu saat nanti Andreas akan goyah ketika melihat wanita masa lalunya yang tak bisa dia dapatkan.
"Saya yakin, saya sudah melupakannya." Andreas kembali menjawab dengan mantap.
"Bagaimana kalau suatu saat dia datang pada mu dan ..."
"Saya tidak akan goyah tuan, saya akan tetap mempertahankan Eli."
"Aku berharap begitu, aku tidak mau kau mengulang kesalahan yang salah seperti ku."
.
.
.
.
#Sebenarnya Author juga pengen buat kisah Eli dan Andreas, tapi sayangnya Author sudah publish karya lain dan Author juga punya tanggungan di tempat lain.
__ADS_1