
Serkan menuangkan air di dalam teko itu ke gelas, dia membantu Hasna meminumnya. "Minumlah," ucap Serkan.
Hasna menyisakan setengah air putih itu, "Apa ada yang sakit?" tanya Serkan memastikan. Hasna menggeleng, air matanya terus mengalir dan membuat Serkan bingung.
"Gantilah dulu gamisnya," Serkan melangkah ke kamarnya, dia membawa sebuah gamis. "Ayo aku antar ke kamar mandi." Serkan merangkul Hasna berjalan ke arah kamar mandi.
Hasna menurut, dia mengganti gamisnya dan memakai pakaian yang di bawa oleh Serkan. Dia membasuh wajahnya yang terasa hangat karena air matanya. Pikirannya berkecambuk saat melihat Serkan yang begitu peduli padanya.
"Hasna, kau sudah selesai?" tanya Serkan sambil mengetuk pintu. Dia khawatir karena Hasna terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
"Hasna."
Ceklek
Serkan tersenyum, dia menyatukan keningnya. "Jangan menangis, jangan membebani pikiran mu sendiri. Ingatlah masih ada aku, pakai aku saat kau membutuhkan ku." Serkan merangkuo kedua pipi Hasna. Mencium kedua kelopak Hasna dan keningnya.
__ADS_1
"Om Se," Hasna membuka kedua kelopak matanya..
Serkan menggeleng, "Jangan menyalahkan dirimu. Kau tidak salah, ini hanyalah permainan takdir. Hasna, Maafkan aku yang selalu menyakiti mu, saat aku sebagai mertua mu kau sering kali mendapatkan perlakuan kasar dari mulut, tapi aku bangga pada Azzam yang mampu melindungi mu. Dan saat aku menjadi suami mu, aku malah memperlakukan mu dengan kasar, tidak hanya mulut tapi sikap ku. Maafkan aku Hasna, izinkan aku menebusnya memperbaiki semuanya."
"Bagaimana dengan tante?"
"Jangan memikirkan Alena, dia tidak lagi memiliki urusan dengan ku, secepatnya aku akan menceraikannya. Ternyata selama ini dia ada hubungan dengan kematian ibunya Azzam dan berencana untuk mencelakai mu melwati Leon, pria yang dulunya menjadi selingkuhan Yumna."
Deg
"Tidak masalah, bersama mu saja sudah membuat ku bahagia. Aku tidak masalah dengan hal itu, aku akan menunggu mu." Ucap Serkan. Dia kembali mencium kening Hasna dengan sangat lembut, mencurahkan seluruh hatinya pada Hasna.
....
Hasna memeluk tubuh Serkan layaknya guling, dia menghirup dalam aroma tubuh Serkan yang seakan menggelitik hatinya dan pikirannya menjadi tenang. Dalam beberapa menit, Hasna menyelami mimpi indahnya, dan Serkan terus mengusap lembut surai hitam milik Hasna. Sering kali dia mencium keningnya.
__ADS_1
Ia sangat bersyukur, Hasna mau menerimanya dan memaafkannya, sekalipum dia belum bisa menyentuh Hasna, tapi setidaknya Hasna sudah membuka hatinya untuknya.
"Aku berjanji pada diriku, aku akan membahagiakan mu, melindungi mu dan aku berjanji sebagai seorang ayah untuk Azzam." Gumam Serkan tersenyum.
Sedangkan Andreas dan Eli, dia mencari Leon bersama dengan para warga, pria itu tidak menyerah dan malah mencari apartement milik Loen atas nama Alena. Dia sana dia juga tidak menemukan apa pun.
"Bagaimana ini?" tanya Eli, jiwanya tidak pernah tenang sebelum melihat Leon tertangkap.
"Aku akan menghubungi beberapa teman nyonya Alena.'' ucap Andreas. Dia pun menghubungi Anita, bahkan Anita tidak mau mengaku, dan pada akhirnya dia pun datang ke Apartement Anita.
...
Seorang pria yang tengah keluar dari lift pun langsung berbalik saat melihat Andreas dan Eli berada di depan pintu Apartement milik Anita.
"Sial! Kenapa mereka ada di sin?" dia pun kembali memencet tombol lift itu menuju lantai bawah.
__ADS_1