
Serkan terdiam, dia hanya mengangguk dan Hasna pun langsung berbalik menuju ruang makan. Hari ini ia merasa tak nyaman, lantaran dua orang yang hadir di rumahnya.
Sebuah meja makan yang dulunya hanya ada Azzam dan dirinya, kini malah ada suaminya yang dulu mertuanya sekaligus madunya yang dulu juga mertuanya. Harapannya saat bersama Azzam, membangun sebuah keluarga yang sederhana, memiliki impian tinggal di rumah sederhana. Kini semuanya hanya tinggal kenangan.
"Alena, kau makan juga?" tanya Serkan. "Cobalah makan, masakan Hasna sangat enak."
Alena menarik kedua sudut bibirnya, tapi hatinya mengutuk Hasna. Serkan memuji Hasna terlalu berlebihan menurutnya yang hanya bisa masak makanan rendahan seperti di depannya.
"Maaf Honey, aku tidak makan masakan ini. Aku takut anak ku tidak sehat."
"Masakan Hasna sangat sehat, tadi dia sudah mencucinya, aku sudah beberapa kali makan masakan Hasna, hem.. kau berlebihan." Serkan tidak suka apa yang di katakan Alena. "Kau datang kesini hanya untuk minta maaf kan, jadi jagalah sikap mu pada Hasna."
"Honey, kau memarahi ku. Dokter saja mengatakan aku tidak boleh stres."
Serkan menghela nafas, ia tidak suka, tapi ia juga takut terjadi sesuatu pada anaknya. "Sudahlah, kau makan saja. Kalau kau tidak mau makan ya sudah."
"Aku memesan saja,"
Serkan tak menanggapi, dia mengambil tiga sendok kangkung di depannya, lalu memakannya dengan lahap.
"Cobalah kau belajar memasak," ucap Serkan.
Hasna melirik Alena yang terlihat kesal. Mana mungkin seorang Nyonya kaya raya akan memasak.
"Sayang, lain kali saja aku akan memasak. Saat ini aku lagi hamil, jadi aku tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat."
Serkan tak menanggapi, padahal ia ingin makan seperti ini di rumahnya. Ia ingin Hasna yang memasaknya. Merasakan setiap harinya di sambut oleh istrinya, makan malam bersama, sarapan bersama.
__ADS_1
"Sayang, kau tak ingin memesan sesuatu?"
"Tidak, aku makan ini saja. Masakan Hasna lebih enak dari pada makanan di luar." Jawab Serkan tanpa melihat ke arah Alena.
Alena semakin kesal, entah ramuan apa yang Hasna masukkan ke dalam makanan itu sehingga membuat Serkan tak mau berpaling ke makanan yang lain. Padahal, Serkan anti makanan kucel.
"Ya sudah, aku akan memesan makanan ke sukaan mu."
Seperti biasa, tidak ada makanan yang tersisa. Hanya nasi putih yang tinggal separuh saja. Serkan mampu menghabiskan semua masakan Hasna. Alena pun menatap tak percaya. Serkan yang dulunya anti makanan banyak kini memakannya sangat lahap.
"Hasna, aku mau di buatin bekal." Serkan menyandarkan tubuhnya, perutnya terasa penuh.
"Sayang, bagaimana kau bisa makan seperti itu? bagaimana kalau kamu gendut?"
"Gendut, aku tidak peduli."
"Om Se Hasna belum berbelanja. Semua makanan yang Hasna masak di habiskan sama Om Se."
Serkan nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya. "Ya sudah, ayo kita berbelanja."
"Om Se sebaiknya menemani tante Alena, biar aku saja nanti dan juga Om Se mau mengantar bagaimana kalau tidak menggunakan celana?"
"Iya juga Ya."
Alena menatap jengah, dia malas melihat kedua orang yang tampak tak memikirkan keadaannya. Padahal dia berada di hadapan mereka.
"Tuan," sapa Andreas. Dia melihat ke arah meja makan dan melihat Alena serta yang lainnya. "Ini pakaian Tuan."
__ADS_1
"Kau lama sekali." Serkan hanya menoleh, ia malas berdiri karena perutnya seakan meledak.
Hasna pun bangkit dan mengambil alih pakaian Serkan. "Ini sudah lengkap kan?" tanya Hasna tampan melihat Andreas, dia memilah Jas dan celananya, takut masih ada yang ketinggalan. "Dasi ada? tas sama sepatu, kaos kaki?" tanya Hasna.
"Sudah Nyonya," jawab Andreas.
dia mulai perhatian pada ku batin Serkan.
Selama ini tidak ada yang pernah tanya saat dirinya berpakaian ke kantor, masih harus pakai ini dan ini, dia sibuk sendiri tanpa ada yang membantunya.
"Hasna?"
"Iya?" Hasna menoleh.
"Terima kasih."
Serkan pun berdiri, dia mengambil setelan kantornya lalu menuju kamar Hasna.
"Hah? pfuft..." Andreas menahan geli di perutnya yang menangkap pink-pink.
Bagus Hasna, kau ingin merebut posisi ku. Lihat saja, aku tidak akan membiarkannya batin Alena. Dari tadi ia menahan amarahnya pada madunya itu dan suaminya.
Tanpa berpikir panjang Hasna masuk ke kamarnya, untungnya Serkan telah menggunakan pakaiannya dan tinggal memasang dasinya saja.
"Om Se biar Hasna."
Serkan menahan tangannya, ia pun berdiri tegak dan menunggu tangan mungil Hasna yang membantunya.
__ADS_1
Dada Alena naik turun, bibirnya menahan segunung cacian pada Hasna. Kedua matanya terasa panas, Serkan menerima begitu saja perlakuan Hasna tanpa memberikannya hak. Padahal dirinyalah istri pertama Serkan. Seharusnya dia yang berada di depan Serkan.