
Hasna melerai pelukannya, dia menghapus air mata yang membasahinya. "Tidak, aku bukan perebut suami orang, aku masih memiliki harga diri. Om Se, tolong lepaskan Hasna." Hasna menggeleng, hatinya terasa sakit. "Ini tidak benar."
"Benar, memang tidak benar. Seharusnya kau sadae Hasna."
"Alena, diam!!! Aku akan merobek mulut mu." Serkan bersuara seakan membuat sebuah gunung runtuh. Kedua tangannya semakin terkepal dan ingin mencekik Alena.
"Hasna, kau lihat! Serkan tidak pernah berteriak dan marah pada ku, tapi apa? Dia bahkan marah pada ku hanya karena mu. Kau perusan Hasna."
Serkan meraih tangan Hasna. "Ini bukan salah mu, aku yang salah karena telah mencintai mu."
"Tapi Om Se ini salah,"
Serkan membelai kedua pipi Hasna. "Sayang, ini tidak benar. Kau istri ku, aku berhak mencintai mu."
"Tidak!! Ingat Azzam Hasna, dia pasti sedih." Alena langsung menghampiri Hasna.
"Ini salah Om, tidak seharusnya Om menyukai Hasna. Ini tidak benar," Hasna tidak percaya, kalau mencintai ia sulit. Apa lagi hatinya masih Azzam.
"Tidak ada yang salah dengan cinta Hasna." Serkan meyakinkan Hasna, apa salahnya dia menyukai Hasna dan mencintai Hasna dengan tulus? "Masalah status, kau belum menikah dengan Azzam."
"Aku masih mencintai Azzam."
"Tidak masalah, tidak masalah kau mencintai Azzam, aku hanya minta seujung jari mu untuk membuka perasaan mu pada ku."
__ADS_1
Kemarahan api Alena semakin berkobar, dia harus membujuk Hasna. "Serkan apa yang kau lakukan, Hasna seandainya tidak ada kau, mungkin aku dan Serkan tidak akan seperti ini."
Deg
Hasna semakin rasa bersalah, dia menatap Serkan dan Alena bergantian, dia pun berbalik dan langsung bergegas pergi. Dia menaiki anak tangga satu per satu sambil berderai air mata.
"Hasna!" Serkan ingin menyusul Hasna. Namun tangannya di cekal oleh Alena.
"Alena, kalau sampai aku menemukan bukti kau ada kaitannya dengan Yumna, akan aku pastikan kau membusuk di penjara."
"Lepaskan!!"
Alena menggeleng, ia begitu berat untuk melepaskan tangan Serkan. "Aku mohon jangan seperti ini, aku melakukan semuanya demi diri mu,"
Perlahan Alena melepaskan lengan Serkan.
"Alena, aku bisa memaklumi kau membohongi ku tentang kehamilan mu, tapi tidak untuk seorang pria yang kau suruh mengganggu Hasna. Aku tidak bisa memaafkan itu."
Serkan berbalik, namun langkahnya berhenti. Dengan kedua matanya, dia melihat Hasna yang membawa sebuah tas.
"Hasna, kau mau kemana?'' tanya Serkan.
"Aku mau pulang Om, aku tidak mau tinggal di sini lagi."
__ADS_1
Alena menghapus air matanya, ia tersenyum licik. Percuma saja Serkan mempertahankan pernikahannya dengan Hasna, sedangkan Hasna tidak ingin mempertahankannya. Setidaknya, ia bisa membuat Hasna pergi jauh dari hidup Serkan.
"Tidak Hasna, aku mohon, tetaplah tinggal di sini."
"Aku tidak bisa Om,'' Hasna kembali melangkah, namun Serkan menghadangnya. Dia menjatuhkan kedua lututnya dan menggenggam sebelah tangan Hasna. Dia menciumnya dengan sangat lama, melihat Hasna pergi seakan membawa sisa jiwanya.
"Aku mohon tinggalah di sini, jangan pergi. Aku tau aku salah, aku ingin menebus kesalahan ku."
"Om Se, aku tidak mau tinggal di sini. Aku pergi bukan untuk berlari dari kenyataan tapi aku ingin menenangkan hati dan pikiran ku, tolong beri Hasna waktu, Hasna belum bisa." Hasna menarik sebelah tangannya dan melewati Serkan.
"Hasna!!" Serkan ingin mengejar Hasna, namun pak Aren segera menghentikannya.
"Tuan tolong beri waktu pada nyonya Hasna, biar saya yang mengantarnya."
"Tapi ..."
"Tuan percayakan saja pada ku." Pak Aren berlari kecil menyusul langkah Hasna.
"Nyonya!" seru pak Aren.
Hasna menoleh dan menunggu pak Aren yang menghampirinya.
"Ada sesuatu yang saya ingin katakan, tolong pikirkan dulu perkataan saya waktu itu."
__ADS_1