Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#bab 65


__ADS_3

Brak


Andreas memegang dadanya yang terasa copot, dia bahkan belum berbicara tentang Leon yang belum ia temukan dan ingin mengatakannya agar Hasna berhati-hati. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Anita datang, dia menghampiri Andreas. "Bagaimana?" tanya Anita. Setidaknya ada perintah dari Serkan melakukan sesuatu.


"Bagaimana apanya?" tanya Andreas. Dia saja bingung pada tuannya yang memarahinya tanpa alasan yang jelas.


"Sudahlah, kita pergi saja." Andreas berlalu. Dia juga pusing memikirkan Eli yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya.


Anita mengekori Andreas, dia pun duduk di belakang dan tidak ingin duduk di depan. Biasanya Eli lah yanh duduk di depan untuk menghilangkan suasana sepi seperti ini. Dia akan bertanya pada Eli untuk sekedar basa basi.


Anita tak menyadari beberapa menit telah berlalu dan kini mobil yang di tumpanginya telah berhenti. "Kok berhenti?" tanya Anita menatap sekelilingnya, ternyata dia melewati sebuah gang sempit.


"Aku ada perlu sebentar, kau tunggulah di sini." Andreas keluar menuju salah satu rumah. Dia membuka pintu gerbang kecil dan tampak usang.


"Ini rumah siapa sih?" tanya Anita.


"Kamu diam saja kalau tidak tau," ucap Andreas yang merasa pusing jika di tanya terus menerus. Andreas pun masuk, dia ingin mengetuk pintu dan terdengar suara kaki dari dalam rumah.


"Siapa ya?" tanya seorang wanita. Dia menggunakan jaket dan wajahnya pucat. Sebelah tangannya menutup mulutnya.


"Dengan siapa ya, Nak?"

__ADS_1


"Saya mau mencari Eli, Bu."


Wanita berwajah pucat itu tersenyum. "Eli ke rumah temannya, Hasna. Baru beberapa menit yang lalu."


Andreas mengangguk, "Baiklah Bu, saya permisi dulu."


"Tidak mau mampir dulu, Nak."


"Oh gak usah, Bu." Tolak Andreas dengan sopan. Dia pun menyalami wanita setengah baya itu dan berlalu.


"Laki-lakinya sudah tampan, kekasihnya juga cantik," ucap Ibu Eli melihat Anita yang keluar dari mobil.


....


Serkan menatap istri kecilnya dan mengelus pipinya. "Ikut aku pulang,"


Hasna menggeleng, ia takut dirinya akan kembali terhina.


"Percaya pada ku, aku akan melindungi mu dan Alena sudah di penjara." Serkan meyakinkan istri imutnya itu. "Aku mohon percaya pada ku."


"Om Se bukannya aku tidak percaya, tapi masalahnya aku tidak enak."


"Enakin lah sayang, masak sama suami sendiri gak ada enaknya." Bujuk Serkan dengan suara rengekannya.

__ADS_1


Hasna merasa tidak tega, kedua mata Serkan berkaca-kaca. Dia pun menyerah dan akhirnya mengangguk.


Seperti anak ABG, Serkan memeluk Hasna dengan erat saking senangnya dan berputar-putar.


....


Di sebuah ruangan jeruji besi, seorang wanita berdiri sambil menggenggam erat besi yang menghalanginya itu. Dalam hatinya selalu mengutuk Hasna, selama ia hidup dan bisa keluar. Ia akan keluar dan mencari Hasna, lalu membunuhnya.


"Pak keluarkan saya, saya tidak bersalah."


"Pak!!"


Teriakan Alena membuat beberapa orang yang duduk di lantai dan bersandar itu menaikkan sebelah sudutnya.


"Bisa diam gak, kalau tidak diam aku robek mulut mu."


"Apa? Hah! Jadi orang jangan sok," ucap Alena menantang. Dia takut pada ibu-ibu yang berambut kribo itu.


Tersulut emosi, wanita berambut kribo itu berdiri, sedangkan kedua temannya tersenyum miring. Dia menghampiri Alena dan menjabak rambutnya.


Kulit rambut Alena seakan tertarik, dia langsung berteriak kesakitan. "Sakit brengsek, lepaskan aku!" sentak Alena. Dia memegang lengan wanita berambut kribo itu dan mencakarnya.


"Wanita sialan! Kau mencajar lengan ku." Wanita berambut kribo itu langsung membenturkan kepala Alena ke dinding.

__ADS_1


Alena merasakan pusing, tanpa sadar darah segar mengalir dari hidungnya. Wanita berambut kribo itu pun menghampiri Alena. Dia menarik kerah baju Alena dan menamparnya dengan keras hingga pipi Alena terlihat keunguan.


__ADS_2