
Dada Alena naik turun, "Wanita ******, beraninya kau menggoda Serkan." Alena menarik krudung yang di pakai Hasna. Namun Hasna mempertahankan krudungnya itu dan beberapa pelayan membantu Hasna terlepas dari amukan Alena.
"Lepaskan aku, atau kalian aku pecat!" Alena berteriak keras, kedua pelayan itu langsung melangkah mundur.
Pak Aren yang mendengarkan keributan pun masuk, dia menyela dan membantu Hasna. "Hentikan Nyonya! Nyonya bisa membunuh nyonya Hasna."
Pak Aren membuat tubuhnya menjadi tameng, dia menghalangi Alena yang ingin menjambak krudungnya.
"Pak Aren jangan ikut campur, aku bisa memecat mu."
"Di sini saya di bayar oleh tuan Serkan, bukan nyonya dan nyonya tidak bisa mengatur saya."
Sedangkan Hasna malah mengigil ketakutan, pipinya terasa perih. Ia bagaikan bertemu dengan monster yang kapan saja menerkamnya. Hatinya sakit saat mendengarkan kata kasar itu. Dia tidak pernah menggoda Serkan, bahkan untuk menemaninya saja, ia jarang kalau bukan Serkan yang menyuruhnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku Pak Aren." Kedua tangan Alena ingin meraih Hasna.
Dua orang pelayan membantu Hasna berdiri, dia merasa kasihan pada Hasna, tidak masalah baginya jika harus kehilangan pekerjaan, tapi mereka tidak bisa melihat seorang yang di Hina dan di caci maki.
"Alena!"
Serkan memegang lengan Alena, menariknya dan melihat ke arahnya. Satu tamparan melayang di pipi Alena. "Hentikan!"
"Hasna, kau lihat, rumah tangga ku hancur gara-gara dirimu."
"Aku berbohong agar kau tidak berpaling Serkan," ucap Alena sambil menangis tersedu-sedu. "Aku sakit Serkan."
"Begitu, kau licik. Awalnya aku akan diam saja, tapi sepertinya aku tidak bisa diam. Kau menggunakan Leon untuk menjebak Hasna kan? Kau menyuruh Leon untuk mendekati Hasna agar aku percaya pada mu, begitu? Alena, kau membohongi ku perselingkuhan Yumna itu juga ada kaitannya dengan mu kan? Kau melindungi pria itu, lalu kau menyuruhnya datang sama seperti apa yang kau lakukan pada Yumna, tapi aku tau Yumna memang mencintai pria lain dan bermain di belakang ku, aku sekarang tidak mempermasalahkannya tapi kau ingin menjebak Hasna, jadi aku mempersalahkannya. Andaikan saja aku tidak tau, aku pasti terjebak oleh mulut busuk mu itu."
__ADS_1
Alena mematung, sebuah rahasia yang ia pendam kini terbongkar. Semua rencana matangnya telah di ketahui.
"Abhi, aku akan menjelaskannya. Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan."
Serkan melewati Alena, dia langsung memeluk Hasna yang menunduk dan mengusap kepalanya. "Maafkan aku, maafkan aku. Aku gagal melindungi mu,"
Hasna mengeluarkan sakit hatinya, di hina dan di permalukan di depan semua orang. Ia malu, sangat malu, bahkan menatap semua orang ia tidak berani.
"Bukan salah mu, ini salahku." Serkan mengecup kening Hasna.
"Serkan, kau tidak bisa melakukannya pada ku. Hanya aku yang mencintai mu, dia tidak akan pernah mencintai mu, di hatinya hanya ada Azzam, kau hanya bayangannya."
"Aku tidak peduli sekalipun aku adalah bayangannya Azzam."
__ADS_1
Hasna mendongak, dia menatap lekat kedua mata Serkan. Ia tidak percaya Serkan membelanya di depan semua orang, bahkan Serkan ingin melindunginya saat Alena menyuruh seseorang untuk menjebaknya.
"Aku menyayangi mu Hasna."