
Andreas menggunakan sedikit menarik topi hitamnya ke bawah, dia menggunakan kaos hitam dan jaket hitam. Dia pun mencari ke seluruh Mall, namun sayang dia tidak menemukan Hasna. Dia pun terus mencari dan melihat Hasna dari jauh sedang memilih sebuah minuman. Dia hendak menghampiri, namun langkahnya berhenti dan berbalik sambil mengambil sesuatu, namun matanya tetap mengawasi seorang pria.
"Ah, maaf aku tidak sengaja." ucap pria itu. Dia Leon dan pura-pura mengambil minuman yang sama.
"Silahkan," ucap Hasna yang merasa risih, tangannya di sentuh oleh pria yang tidak ia kenal. Ia merasa tak nyaman, ada bau-bau mesum pada pria di depannya itu.
Hasna hendak pergi, namun pria itu menahan lengannya.
"Tunggu, sepertinya aku melihat Nona." Ucapnya tersenyum ramah.
Hasna mengerutkan keningnya, ia tidak pernah melihat pria di depannya. "Maaf, saya sibuk." Ucap Hasna menarik lengannya. Ia tidak mau Serkan salah paham padanya.
"Tunggu Nona, kau belum mengambil minuman mu." Leon mengambil minuman kaleng itu dan menyusul Hasna menjajarkan langkahnya.
"Ini, saya khusus memberikannya."
Hasna langsung mengambil minuman kaleng itu. "Terima kasih," ucap Hasna bergegas pergi dan membuat Leon tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Menarik, wanita itu tidak mudah aku taklukkan, aku harus mendekatinya." Ucap pria itu. Dia pun berbalik pergi.
Andreas menaruh makanan snack itu, dia mengikuti langkah Leon sampai ke mobilnya dan mencatat plat mobilnya di dalam otaknya. Dia akan mencari tau siapa pria itu.
"Apa dia suruhan nyonya Alena?" tanya Andreas.
Dia pun menghubungi Serkan dan mengatakan semuanya membuat darah Serkan mendidih bagaikan lautan api, dia langsung mencari Hasna dan melihat pria itu menoleh dan tanpa sadar menabrak seseorang.
"Maaf-maaf saya tidak sengaja," ucap Hasna gugup.
Serkan menghampiri Hasna dan mewakilinya meminta maaf. Lantas wanita itu pun mengangguk dan pergi.
"Kenapa?" tanya Serkan dengan lembut. Dia mengusap sebutir keringat dari dahinya. Dinginnya Ac pun tidak membuat Hasna kedinginan.
"Sayang, hem."
"Aku tidak apa-apa," ucap Hasna dengan cepat. Serkan yang mendengarkan perkataan Andreas tadi pun paham dan tau kalau Hasna ketakutan dan hanya memendamnya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah, ayo ikut aku."
Salah satu tangan Serkan mendorong troli, sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Hasna. Dia sesekali melirik ke arah Hasna yang menunduk.
"Sayang kau kemana saja? aku mencari mu." Ucap Alena.
Kenapa dia di sini? apa Leon sudah melihatnya.
"Hasna kau sudah selesai, ayo kita pulang." Ajak Alena, dia malas berada di sini berlama-lama.
"Baiklah," ucap Hasna. Dia ingin sekali pergi dan meninggalkan tempat ini.
Selama di perjalanan, Hasna diam kadang dia melihat Alena yang mencium punggung tangan Serkan, ada sesuatu di dadanya. Namun ia tidak tau, sesuatu itu apa?
"Sayang, kalau anak kita laku-laki. Aku ingin seperti dirimu."
Serkan hanya tersenyum, dia tidak menjawab. Justru ia khawatir pada Hasna.
__ADS_1
"Besok aku akan menemani mu ke dokter," ucap Serkan. Sekalipun dia tidak menyukai pikiran Alena, tapi kalau menyangkut anak dia tidak akan mencampur adukkannya. Dia ingin tegas, Alena masalah Alena, anak masalah anak.
"Tidak perlu sayang, aku sendiri yang akan memeriksanya. Aku tidak ingin mengganggu mu." Alena teringat bahwa tubuhnya berdarah. Kalau ini keguguran, dia harus menjebak Hasna.