Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#paham!!


__ADS_3

" Apa? bagaimana bisa?" tanya Andreas. Baru saja dia mendapatkan kabar kalau Leon sudah di temukan, salah satu warga yang pernah melihatnya dan melaporkannya pada Polisi dan sekarang justru Alena yang kabur dan ia harus mencarinya.


"Dua orang ini tidak bisa membuat ku tenang."


Dengan cepat Andreas berlari ke arah mobilnya dan menuju ke salah satu tempat.


"Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya tiba-tiba panik? Apa terjadi sesuatu?" Eli bertanya-tanya, saat mencuekin Andreas tadi, ia merasa menyesal. "Sudahlah, itu bukan urusan ku, tapi kalau masalab Hasna?"


"Aku harus menghubungi Hasna."


....


Serkan menyuapi Hasna dengan telaten, dia sangat menyukai aktivitasnya hari ini, tidak melakukan pekerjaan tapi justru memanjakan istrinya.


"Om Se aku sudah kenyang," ucap Hasna. Padahal ada dua sendok, namun Serkan malah menyuruhnya diam dan menerima suapannya.


"Aku bisa sendiri, makan bisa sendiri."


Serkan menaruh sendoknya, sisa nasi goreng itu separuh, sedangkan telur ceploknya sudah ludes. Bahkan Serkan makan sedikit. "Aku tidak akan menghalangi mu apa pun yang mau kamu lakukan, tapi jangan menghalangi ku apa pun yang aku ingin lakukan pada mu, ini tugas ku untuk memanjakan mu, menjaga mu, mencintai mu dan melindungi, bahkan ini tugas ku untuk membuat mu mencintai ku."


Hasna terunyuh, Serkan begitu menginginkannya. Sebelah tangannya mengusap lembut tangan Serkan. "Aku akan berusaha mencintai Om Se."


Serkan tersenyum, kedua matanya berkaca-kaca, perkataan almarhum putranya tidak ada yang salah. "Bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Apa? Semoga sebagai istri aku bisa melakukannya."


"Aku ingin kau tidak lagi memanggill ku dengan sebutan Om, aku ingin kau memanggil ku sesuatu yang lainnya."

__ADS_1


"Panggil aku sayang,"


Hasna menunduk, dia tidak bisa mengatur suara jantungnya yang membuatnya harus berusaha menuruti perkataan Serkan. Padahal ucapan itu terdengar sepele, tapi terasa sulit untuk di ungkapkan.


"Huft," Hasna meremas selimut yang masih menutupi sebagian dadanya itu.


"Sayang," ucap Hasna dengan pelan.


"Sekali lagi, aku tidak bisa mendengarkannya." Serkan menaruh piring yang tersisa sedikit nasi goreng itu ke atas nakas.


Dia oun mengambil ponselnya dan ingin merekam sesuatu yang akan menjadi kenangan terindah.


"Lagi Honey,"


"Sa-sayang."


"Sayang," ucap Hasna sedikit keras di iringi dentuman jantungnya yang kencang.


Serkan langsung menarik dagu Hasna dan menciumnya dengan lembut, suara Hasna bagaikan sebuah nada yang sangat merdu. Dia menaruh gawainya ke atas nakas, lalu mendorong tubuh Hasna dengan pelan. Menyingkap selimutnya dan tidak memberikan Hasna untuk menyela dirinya.


Setiap melihat wajah cantik istri kecilnya ini, gairah yang terpendam itu langsung bangkit. Ia tak bisa menahannya lagi dan lagi.


Dada Hasna naik turun, di lihat tatapan yang penuh menginginkannya itu.


"Lagi, aku ingin mendengarkannya."


"Sayang,"

__ADS_1


Serkan langsung mencium leher Hasna dengan lembut, mencicipi setiap inci lehernya, meninggalkan sebuah tanda kepemilikannya.


Hasna terbuai dengan sentuhan indah itu, dia memejamkan kedua matanua dan memeluk punggung Serkan. Kedua kakinya menegang, dia merasakan sesuatu yang kembali menusuk, entah semenjak kapan Serkan telah melepaskan semua pakaiannya. Kini hanya terlihat dada kekar dan gagah itu.


Serkan kembali mencicipi dua milik Hasna, dia bagaikan pria yang haus bertahun-tahun. Sedangkan di bawah, dia terus menusukkannya, membuat Hasna melenguh dengan hebat.


Serkan membenajiri kecupan-kecupan indah, dan mengucapkan sebuah kata yang selalu ingin ia ungkapkan. Dia menarik Hasna kedalam dekapannya dan menghentikan miliknya, hingga sesuatu itu menyembur keluar memenuhi rahim Hasna.


Hasna duduk di atas paha Serkan, milik Serkan dan miliknya masih menyatu, ia merasa urat-uratnya kembali lagi di tarik. Hasna menyandarkan kepalanya di bahu Serkan, merasa sangat lelah dan kembali letih.


"Hasna, aku sangat mencintai mu. Jangan pernah meninggalkan aku."


Hasna membuka kelopak matanya yang terasa berat, dia merangkup wajah Serkan.


"Jangan mencintai ku karena aku mirip dengan Azzam dan jangan mencintai ku karena aku Daddy Azzam, pria yang kau cintai. Aku ingin kau mencintai ku sebagai pria lainnya, aku ingin meminta keadilan mu, Hasna."


Dengan penuh keberanian, Hasna mencium bibir Serkan dengan lembut. "Apa pun, akan aku turuti, Sayang."


...


"Pak Aren kenapa kau di sini?" tanya Andreas. Dia melihat pria setengah baya yang ia kenal di rumah bossnya itu duduk di teras depan, seperti orang yang melas saja.


"Aku, aku tidak ingin mengganggu seseorang."


"Apa maksudnya?" tanya Andreas yang tidak mengerti. Dia melewati pak Aren dan mengetuk pintu rumah Hasna.


"Tuan, ini saya, tuan harus tau ...."

__ADS_1


Seketika pak Aren membekat mulut Andreas. "Kau tidak bisa mengerti bahasa manusia kan? jangan mengganggu nyonya dan tuan yang sedang membuat tuan muda, paham!!!"


__ADS_2