Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Pindah


__ADS_3

Hasna berdiri di belakang Alena mengantar kepergian Serkan ke kantornya. Dia menatap wanita yang terlihat seksi di depannya itu.


Setelah memastikan kepergian Serkan. Alena langsung membalikkan tubuhnya, menatap benci wanita di depannya, namun ia segera meleburkan nafas kebenciannya itu dan tersenyum manis.


"Bisa kita bicara berdua?" tanya Alena.


Dua orang warga pun melihat Alena dan Hasna. Keduanya berbicara dengan lantang mengejek Hasna.


"Lihat, itukan istri pria kemarin."


"Betul, kenapa dia datang kesini? apa jangan-jangan mau labrak Hasna?"


"Ish, tidak mungkin. Sepertinya dia mau berbicara dengan Hasna. Masak wanita seperti Hasna mau di terima begitu saja, kalau aku sih ogah ya."


Hasna menekan sakit di dadanya. Setiap hari pasti akan mendengarkan hinaan seperti ini. Dia pun beralih pada Alena yang tadinya tersenyum sinis.


Alena duduk di dekat jendela, dalam sejarah hidupnya. Dia tidak pernah memasuki rumah jelek seperti milik Hasna.

__ADS_1


"Ini tante," Hasna menaruh teh hangat dan membuat Alena sangat enggan meminumnya. saat melihat cangkir putih separuh ukiran bunga yang telah memudar.


"Hasna kau tetap berniat melanjutkan pernikahan ini? kalau begitu, aku ingin kita hidup satu atap. Aku berjanji tidak akan melakukan apa pun." Tutur Alena. Dalam hatinya mengumpati Hasna. Dia begitu membenci wanita di depannya, ia ingin berteriak di wajah Hasna. Namun ia harus menahannya jika ingin rencananya berjalan mulus.


"Maaf Tante, aku tidak bisa ikut."


Alena langsung duduk di depan kaki Hasna dan mendongak. Ia mengumpat habis Hasna di dalam hatinya, tidak pernah dalam hidupnya merendah seperti ini pada siapa pun.


"Aku mohon, iku aku pulang. Kau boleh ke sini jika kau merindukan rumah ini."


Hasna langsung bahu Alena, dia membantunya berdiri. Namun Alena menggeleng, sebelum Hasna menyetujuinya untuk ikut dengannya.


"Aku mohon, aku tidak mau berdiri kalau kau tidak mau menuruti ku. Aku harus apa Hasna? aku minta maaf atas semua yang ku lakukan kemarin? aku hanya ingin Serkan hidup bahagia jika itu harus menghadirkan dirimu."


Hasna menggeleng, ia ragu untuk menyetujuinya. Tapi rasanya tidak sopan kalau membiarkan Alena duduk di depan kakinya sambil memohon.


"Baiklah Tante, aku akan ikut dengan Tante."

__ADS_1


"Hari ini, aku ingin hari ini Hasna. Nanti malam saat Serkan pulang, pasti dia bahagia melihat kehadiran mu."


"Emm baiklah, tapi aku akan membereskan beberapa pakaian ku untuk di bawa ke rumah tante."


"Iya, terima kasih Hasna." Alena memeluk Hasna dan tersenyum licik.


*Masuklah Hasna, masuklah ke dalam neraka sehingga membuat mu menjerit, kau tidak akan terlepas. Anggap saja saat ini kau menang, tapi lihat kemenangan mu akan membuat mu sengsara.


Ya Allah, kenapa aku merasa tidak enak. Semoga Engkau selalu melindungi ku*.


Alena melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Aku tunggu di luar," ucap Alena.


Hasna mengangguk, dia pun bergegas mengambil pakaian separuhnya saja. Walaupun ia merasa ragu untuk melakukannya.


Hasna mengambil beberapa pakaian, menaruhnya di tas besar. Dia pun satu per satu melipat pakaiannya dan memasukkannya lagi ke dalam tas itu.


"Azzam." Hasna mengambil foto dirinya dan Azzam, ia masukkan ke dalam tasnya itu.

__ADS_1


__ADS_2