Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Anu Tidak Bisa Anu


__ADS_3

Masih terngiang perkataan Serkan, Hasna tak menyadari ada seorang pria yang memeluknya dari belakang, pria itu pun menyandarkan bahunya dan membuat Hasna terkejut.


"Om Se," Hasna menoleh dan menghirup aroma shampo milik Serkan.


"Hemmpz .... Kau melamun? Apa perlu aku memberikan pelajaran untuk warga itu?"


Hasna menggosok kepala Serkan denga handuk di tangannya. "Tidak, hanya saja aku merasa canggung." ucap Hasna dengan polos. Setiap bertemu dengan Serkan jantungnya berdebar dengan kencang.


Serkan tersenyum, dia menoleh dan melihat bola mata Hasna yang polos. "Apa jantung mu pernah berdebar kencang saat menyebut nama ku?"


Hasna mengangguk dan membuat Serkan langsung membalikkan tubuhnya memeluk dirinya. Usahanya selama ini tidak sia-sia, ternyata dia sudah membuat Hasna membuka hatinya.


"Terima kasih,"


"Terima kasih untuk apa Om Se?" tanya Hasna dengan polos.


"Terimakasih karena menerima ku." Serkan mengecup bibir Hasna sekilas dan membuat sang empu mematung dan hanya mengedipkan kedua mtanya.


Jantungnya seakan ingin meledak, aliran darahnya seakan berhenti dalam sekejap. Seakan waktu ini dalam sekejap berhenti.


"Terimakasih, kerena telah menerima ku. Aku mencintai mu,"


Hembusan nafas Serkan seakan menarik jiwanya, ia merasakan seolah tenggelam dalam sesuatu yang hangat dan nyaman dan tak ingin terbangun.


Entah semenjak kapan, kening keduanya menyatu. Hasna membuka kedua matanya dan hanyut dalam ciuman yang semakin dalam itu.


Tok

__ADS_1


Tok


Serkan memejamkan kedua matanya, ia merasa suasana nyaman ini telah di ganggu. Dia pun menoleh ke arah pintu.


"Om Se, Hasna buka pintu dulu." Ucap Hasna berlalu dengan wajah semerah tomat.


Serkan berkacak pinggang, dia menghampiri Hasna dan ingin tau siap yang mengganggunya pagi-pagi sekali.


"Selamat pagi nona Hasna," ucap seorang pria bertubuh gembul. Pagi-pagi sekali dia ingin meminta maaf.


"Pak Rt, silahkan masuk pak."


Pak Rt pun masuk, namun seketika tubuhnya merinding. Dia seolah masuk ke dalam gua es.


"Silahkan duduk pak."


"Saya datang kesini ...."


"Ada apa pak Rt datang kesini pagi-pagi sekali? Mengganggu saja." Serkan menggeram kesal, lantaran suasana yang tadi hampir saja membuat cerita berdua langsung menghilang.


Sedangkan Hasna bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi.


"Anu pak," Pak Rt meneguk ludahnya, kerongkongannya terasa kering. "Ini pak, anu ..."


"Anu, anu, anu apa? Gak ada anu, anu, jadi gak bisa anu." Serkan mengomel dengan putaran kata Anu, yang seharusnya sekarang ia anu-anu dengan Hasna.


"Bagini pak, kami eh salah maksudnya saya mewakili warga sini ingin mengucapkan minta maaf pada nona Hasna."

__ADS_1


"Bukan Nona ya, Hasna tidak single, sudah ada suaminya jadi di panggil nyonya." Serkan menekan setiap bait perkataannya itu.


"Oh begitu," Pak Rt merasa tak enak. "Saya pamit dulu pak, saya masih ada pekerjaan lain." Pak Rt langsung berlari keluar, ia tak berani berlama-lama di rumah Hasna. Nafasnya ngos-ngosan seperti di kejar anjing.


"Aneh, kok mau ya nona Hasna sama laki-laki seperti itu, sudah serem kayak monster pula."


....


"Loh kemana pak Rt?" tanya Hasna. Dia melihat kursi yang sudah kosong itu. Di tangannya masih ada secangkir kopi panas.


"Om Se, kemana pak Rt?" tanya Hasna pada Serkan yang memunggunginya.


Seketika raut wajah Serkan berubah. "Oh dia sayang, sudah pergi katanya mau ngurusin ternak." Serkan mengambil secangkir kopi di atas nampan itu lalu menyeruputnya.


"Pak Rt gak memiliki ternah loh Om Se?" tanya Hasna dengan bingung.


"Sudahlah sayang, yang penting sudah pergi." Serkan menutup pintu itu dengan rapat dan merangkul Hasna dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan lainnya masih memegang secangkir kopi.


Tok


Tok


Tok


Serkan langsung berbalik dan melihat garang seseorang di depan pintu. "Apa lagi?" tanya Serkan.


Andreas menaikkan sebelah alisnya, dia baru saja datang langsung di sambar petir.

__ADS_1


"Kalau tidak penting cepat pergi jangan mengganggu ku." Serkan mengusir sambil menendang sebelah kaki Andreas. Dia pun menutup pintunya dengan kasar.


__ADS_2