
Emm
Hasna melenguh, dia merasakan sesuatu di wajahnya. Di buka kedua kelopak indahnya itu dan mengernyit.
"Pagi kesayangan ku," sapa Serkan tersenyum. Dia mencoel hidung Hasna yang menggemaskan itu.
"Emm, Om, Au," Hasna merasakan sakit di bawah sana, seketika dia teringat kejadian tadi malam dan membuat pipinya semerah tomat.
"Sakit ya sayang, maaf ya ...tapi rasanya enak aku pengen." Serkan menjahilinya dengan menggoda istri mungilnya, ia merasakan istri kecilnya ini tampak malu-malu kucing.
"Om Se," Hasna menarik selimutnya sampai menyelimuti tubuhnya. Dia begitu malu pada suaminya ini.
"My love," Serkan memeluk tubuh Hasna dengan erat, seperti bantal guling yang tak ingin di lepaskan.
"Om Se, lepas." Hasna memberontak karena tidak bisa bernafas.
Serkan tertawa lebar, bahkan giginya yang putih terlihat jelas, baru kali ini dia tertawa lepas seperti dulu, seakan tidak pernah merasakan apa yang namanya kesakitan.
"Ups... Ya sayang maaf." Serkan begitu menyesali perbuatannya, tapi melihat wajah Hasna yang menggemaskan itu, ingin rasanya ia membungkusnya, layaknya sebuah permen dan hanya lah ia yang boleh melihat, membuka dan memakan rasanya.
Hasna mengintip lewat selimutnya saat merasakan derit ranjangnya yang bergerak. Kedua mata Hasna memanas, dimana dia melihat seorang pria yang memunggunginya tanpa menggunakan benang sehelai pun.
"Om Se, kenapa tidak pakai baju."
__ADS_1
Serkan langsung menoleh, dia baru saja ingin memakai kemejanya, tapi istrinya sudah melihat tubuhnya lagi. "Honey maaf aku tidak bisa au ah dengan mu lagi, aku capek Honey dan lagi aku mau buat sarapan untuk mu." Serkan menggeleng seakan merasa bersalah
Plak
Serkan tertawa geli, dengan cepat dia mencari celananya dan menuju ranjangnya lalu mencium Hasna yang membungkus lagi wajahnya.
Serkan berlalu sambil bersiul dan merasakan hari ini hari yang paling bahagia seumur hidupnya, seolah ia merasakan baru terlahir kembali.
Dia wajah yang cerah, secerah matahari yang baru terbit. Dia menaruh wajan ke atas kompor, menuangkan minyak, lalu menyalakan kompornya.
Dia pun mengambil empat telur di kulkas, lalu memecahkan telur itu ke atas wajan. Dalam hidupnya baru pertama kali dia membuatkan sarapan untuk Hasna, pernah dulu dia menyiapkan untuk Almarhum istrinya, tapi istrinya tidak pernah menyentuh sarapan yang dia buat. Semenjak itulah Serkan tidak lagi menyentuh dapur.
"Hasna, kau penerang ku."
...
Hasna tersenyum, dia membayangkan kejadian tadi malam. "Azzam, aku berharap kau merestui kami. Aku tidak akan melupakan mu, karena tempat mu dan Daddy mu berbeda. Izinkan aku membahagiakan Daddy dan juga aku ingin memulai hidup baru, kau benar Daddy mu baik, hanya karena sebuah luka menjadikan dirinya berubah."
Hasna memandang sebuah foto yang menghadap ke arahnya.
"My Honey," Serkan memanggil dengan mesra, segala panggilan yang mewakili hatinya, ia akan mengungkapkannya.
"Kau belum memakai baju mu." Serkan menaruh nasi goreng dengan telur ceplok itu ke atas nakas. Dia menggunakan satu piring untuk di makan berdua.
__ADS_1
"Om Se bisa keluar,"
"Tidak mau," Serkan menggeleng lemah, seakan dia tidak bisa hidup kalau tak melihat Hasna.
"Om Se!" teriak Serkan. Hasna melemparkan bantal ke wajah Serkan dan pria itu kembali tertawa.
"Ok my Love aku pergi, ..." Serkan tertawa lepas hingga seseorang di depan pintu itu menghentikan tangannya yang ingin mengetuk pintu.
Pak Aren menunduk dan tersenyum, tanpa sadar ada air mata yang ingin keluar dari sudut matanya. Dia menarik kaca matanya dan menangis dengan menahan suaranya.
"Dia kembali, tuan ku kembali."
....
Sedangkan di tempat lain, entah setan mana yang merasuki Andreas dia datang pagi-pagi sekali ke rumah Eli. Dia pun mengetuk pintunya sambil melihat sekeliling rumah Eli.
"Ya sebentar!!" teriak Eli dari dalam. Eli membuka pintunya dan menatap Andreas dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Eli dengan nada tak bersahabat. Dia sakit hati dengan ucapan Andreas yang menghinanya. Walaupun tidak jatuh cinta padanya, setidaknya Andreas tidak perlu menyemburkan perkataan yang menyakitinya.
"Oh, aku mampir," Andreas menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tidak ada lagi kan?" Eli ingin menutup pintunya lagi, namun dengan sigap Andreas menahannya.
__ADS_1
"Aku ingin mengajak mu untuk bertemu nyonya Hasna," ucap Andreas, karena tujuannya memang ingin mengajak Eli bertemu Hasna.
"Aku bisa sendiri mendatanginya, dan hari ini aku kerja. Silahkan Om pergi," Eli menutup kasar pintunya dan membuat Andreas mematung, dia bingung dengan sikap Eli padanya yang terasa dingin.