Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Memungut Makanan


__ADS_3

"Hah?" masih koneksi terputus, Andreas masih bingung.


Pak Aren menggaruk kepalanya dengan rambut yang separuhnya telah di tumbuhi uban itu. "Begini kalau jomblo akut, susah bilangnya."


"Sudahlah, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Nyonya Alena kabur, aku ingin mengatakannya pada tuan dan nyonya, agar berhati-hati."


Pak Aren mengangguk, "Tunggu beberapa menit lagi,''


Andreas pun memilih duduk di teras depan, kedua pria berbeda umur itu menunggu hingga sekian menit dan menjadi beberapa jam.


"Pak Aren, kau sangat menyukai bersama ku? Sampai kapan kita harus menunggu?" tanya Andreas mendesah pelan.


"Hah, ya sudah kau cobak ketuk saja," ucap Pak Aren menyerah. Ia juga lelah menunggu dan ingin secepatnya membawa tuan dan sang nyonya.


Tok


Tok


Ton


Andreas mengetuk pintu itu hingga tiga kali dan beberapa detik terdengar langkah kaki.

__ADS_1


"Andreas, oh pak Aren," sapa Hasna dengan ramah. "Masuklah," Hasna membuka pintunya dengan lebar dan mundur ke samping. Dia buru-buru membangunkan Serkan yang masih tidur pulas itu.


"Mas, di luar ada pak Aren dan Andreas, sepertinya sangat penting." Hasna mengelus pipi Serkan dengan lembut.


"Pak Aren?''


Serkan beranjak, kesadarannya belum terkumpul. Dia masih lelah dan ingin tidur lebih lama.


Hasna menggeleng pelan, dia mencubit pelan pipi Serkan yang menggemaskan menurutnya. Segera dia mengambil kemeja dan memakaikannya pada tubuh Serkan.


"Apa?" tanya Serkan. Dia duduk di kursi plastik di depan Andreas dan pak Aren.


"Tuan, kapan tuan akan membanya nyonya? Renovasinya sudah selesai."


"Nanti," jawab Serkan.


Mendengarkan nama Alena, seketika membuat Serkan sadar, jiwanya yang berkeping-keping itu langsung menyatu secara sempurna.


"Apa bagaimana bisa?" tanya Serkan dengan panik.


"Kita harus ke kantor polisi," Serkan berbalik dia menggenggam kedua tangan Hasna. "Sayang aku harus ke kantor polisi, kamu di sini jangan kemana-mana, aku akan menghubungi beberapa orang menjaga mu dan pak Aren juga akan di sini menjaga mu."


Hasna mengangguk, "Berhati-hatilah."

__ADS_1


Serkan mencium kening Hasna dan meminta pak Aren untuk menenjaganya saat dia tidak ada.


...


Sedangkan Alena, demi keluar dari rumah sakit dia harus berpakaian daster dengan wajah yang di olesi oleh lumpur, dia duduk di pinggir jalan, tidak mudah untuknya kabur dari cengkraman polisi, ia harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam cengkramannya.


"Aku ingin menghubungi kedua teman ku, tapi masalahnya beberapa polis pasti sedang mencari ku lewat dari mereka." Alena sungguh frustasi, bagaimana caranya ia bisa bertahan hidup sedangkan perutnya mulai tadi sudah keroncongan.


Tidak pernah dalam jejak hidupnya kelaparan, bahkan mencuri pakaian murahan seperti yang dia pakai saat ini. "Ini semua gara-gara Hasna, aku akan menbunuhnya."


"Jika aku tidak bisa memiliki Serkan maka Hasna tidak boleh,"


Alena kembali berjalan dengan pelan, sesekali dia mengusap perutnya, tepat dirinya berhenti saat melihat warung makan dan membuat perutnya berbunyi. Dia pun ingin meminta, namun seorang pedagang wanita yang melihatnya melongos saat melayani para pembelinya.


Dia pun duduk dan membantinkan nama Hasna yang semakin ia benci hingga ke tulangnya, nama Hasna bagaikan kutukan untuknya.


"Ini semua gara-gara wanita sialan itu."


Bak


Alena menoleh saat seorang pembeli membuang bungkus makanan ke tempat sampah dan terlihat seekor kucing berbulu orens dan putih yanh sedang mencakar bungkus makanan.


"Hus, hus, hus," Alena mengusir kucing berbulu orenz itu dan mengambil sisa makanan yanh di buang oleh seorang pria tadi.

__ADS_1


Alena membuka kertas makanan itu dan melihat sedikit sisa nasi dan tempe. Dia langsung memakannya dan saat kunyahan pertama air matanya langsung mengalir, seumur hidupnya dia tidak pernah makan dengan makanan bekas bahkan memungutnya dari tong sampah, hidupnya berkelas dan mewah, apa yang ia mau, ia bisa membelinya.


Kedua giginya bergemelatuk, menahan cacian yang ingin ia umpat habis. "Hasna, aku tidak akan mati sebelum aku membunuh mu."


__ADS_2