
Serkan bergegas turun dari ranjangnya saat terdengar suara pecahan dan membuat Hasna yang tertidur pulas malah terganggu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" seru Serkan. Dia menatap dingin Alena seakan tatapan itu membekukannya.
"Maaf sayang, tadi aku ingin ke kamar Hasna, tapi melihat kalian berdua aku tidak ingin mengganggunya dan malah menabrak guci ini." Jelas Alena.
"Kau bisa menunggunya, lagian ini sore kau bisa membawa Hasna besok pagi." Serkan menarik sebelah alisnya, ia merasa janggal dengan Alena yang tiba-tiba keluar ingin berbelanja kebutuhan dapur. Rasanya, bukan Alena yang ia kenal.
"Aku ingin keluar saja sayang, lagian aku ingin saja." Karena gugup ia tidak lancar berbicara.
"Om Se, tante Alena, ah iya aku hampir lupa. Apa jadi yang mau ke supermarket?" tanya Hasna mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya iya, Hasna. Iya jadi."
"Ya sudah, tunggu Hasna ya tante."
Melihat Serkan yang diam, Alena pun meminta ijin untuk pergi. "Sayang, aku tunggu di luar."
"Apa boleh aku ikut?" seketika langkah kaki Alena mematung. Kalau Serkan ikut maka rencananya tidak akan berhasil dengan lancar.
"Sayang kau bisa beristirahat,"
"Aku tidak lelah," ucap Serkan dengan cepat.
"Baiklah, kalah kau mau ikut." Ucap Alena. Dia pun segera bergegas pergi dan menghubungi seseorang rencananya berubah.
"Hallo, kau di mana?" tanya Alena.
__ADS_1
"Aku ada di Supermarket," ucap Leon. Dia berniat sekaligus berbelanja karena stok makanan di Apartementnya sudah habis. Tapi sampai beberapa menit ini, keranjangnya masih kosong. Dia hanya berkeliling dan melihat-lihat sambil menunggu Alena.
"Serkan ngotot ingin ikut, kita tidak bisa mempertemukan Hasna dengan mu." Ucap Alena sambil melirik kanan kiri takut ada yang mendengar dan menguping pembicaraan mereka.
"Kau bagaimana bisa melakukannya? kau benar-benar bodoh."
"Kau!!!
Alena sangat kesal, ia tidak terima dirinya di katai orang bodoh.
"Kalau kau becus kau seharusnya bisa membuat wanita itu pergi," ucap Leon. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Hasna.
Alena mematikan ponselnya, dia mengusap kepalanya. "Bahkan aku sampai melupakan kalau aku harus ke rumah sakit, sepertinya besok aku harus kesana."
"Nyonya!" sapa pak Aren.
Pak Aren pun bingung, padahal tadi ia hanya mendengarkan samar-samar pembicaraan Alena saja. "Aneh."
***
"Sayang, ayo." Serkan berpapasan dengan Hasna. Dia menggenggam tangan Hasna untuk menuruni anak tangga.
Hasna menatap tangannya yang di genggam itu, rasa hangat dan nyaman. Apa lagi mendengarkan Serkan memanggilnya sebutan sayang.
Rasa sakit, perih dan sesak ia rasakan. Namun ia tetap ingin seperti biasa saja. Ia tidak akan membiarkan kesakitan di hatinya terus menerus terbuka lebar.
"Sayang, em Hasna kau cantik sekali."
__ADS_1
"Ah terima kasih Tante," ucap Hasna. Alena beralih melingkarkan lengan ke lengan Serkan.
"Ayo sayang kita berangkat."
***
Sesampainya di Supermarket. Alena langsung bergelanyut di lengan Serkan. Ia tidak mau Hasna menguasai Serkan dan pria itu hanya manut saja karena ingin lebih dekat dengan Alena dan seseorang yang Alena suruh mendekati Hasna.
"Siapa sebenarnya yang di suruh Alena?" batin Serkan.
Kedua orang itu pun berjalan lebih dulu meninggalkan Hasna. Wanita itu pun mengambil troli dan mendorongnya sambil mencari sesuatu.
Hasna melihat-lihat beberapa sayuran, sedangkan Serkan malah kehilangan jejak Hasna.
"Sayang sudah, Hasna pasti mencari sesuatu."
"Em, sayang aku ke toilet dulu ya. Kamu tunggu di sini dulu." Ucap Serkan berbohong.
"Baiklah sayang," ucap Alena. Dia melambaikan tangannya pada Serkan, namun setelah pria itu pergi dia menghubungi seseorang.
"Hallo, kamu ada di mana? aku dan Hasna sudah sampai, kebetulan aku bersama suami ku jadi kau bisa menemui Hasna." Jelas Alena.
Alena, kalau sampai kau menjebak Hasna. Aku tidak akan tinggal diam batin Serkan.
Dia memang berpura-pura ke toilet hanya ingin melihat sampai mana Alena berbuat.
"Hallo Andreas, kamu awasi Hasna." Titah Serkan pada Andreas. Sebelum pergi dia menyuruh Andreas mengawasi Hasna dan menceritakan semuanya sedangkan Andreas mendengarkan cerita itu, mengurungkan niatnya untuk mengatakan kejujuran lebih dulu.
__ADS_1