Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#Rencana Alena dan Leon


__ADS_3

"Sayang, bukannya kamu tidak suka saat ada orang lain makan bersama mu?" tanya Alena.


Hasna langsung menoleh ke arah Serkan. Suaminya itu tidak mengatakan apa pun. Bahkan suaminya lah yang menyuruh Eli makan bersamanya.


Sedangkan Eli, yang menjadi tersangka pun bingung. Dia malah berpikir kalau Serkan pilih kasih, mungkin karena ada rasanya. Ingin sekali dia menyombongkan diri pada wanita di depannya. Dalam hatinya bersorak, seakan menjadi pahlawan kalau temannya semakin maju.


"Ah itu, aku merasa kasihan pada Hasna. Biarkan saja, mungkin dengan kehadiran Eli di rumah ini membuat Hasna betah, aku tanya kau mau kemana?" tanya Serkan mengalihkan pembicaraannya karena tak enak hati dengan Hasna.


"Sayang, aku mau keluar sebentar." Tidak ingin di tanyakan beruntun, ia pun langsung pergi.


"Om Se apa benar yang di katakan tante Alena?" tanya Hasna. Ia merasa tidak nyaman karena ini menyangkut privasi Serkan.


"Ah tidak, jangan memikirkannya. Sudahlah, ayo makan."


Eli mencoel paha Hasna dan membuat wanita itu menoleh. Eli pun mendekatkan mulutnya ke telinga Hasna.


"Sepertinya Om Serkan sudah tertarik pada mu."


Hasna melotot tajam, dia mencubit paha Eli dan membuat wanita itu mengusap kulitnya yang sakit.


"Jangan bicara sembarang."


"Tapi beneran loh, Om Mons, eh maksudnya tuan Serkan sepertinya menyukai mu."


"Ehem," Serkan berderhem. Telinganya yang lebar dan tajam itu menangkap perkataan Eli.


Kedua wanita itu pun langsung menunduk dan melanjutkan sarapannya.


***

__ADS_1


Selesai sarapan, Hasna mengantarkan suaminya untuk berangkat kerja. Dia mengikuti Serkan sampai di depan teras depan dengan Eli yang berada jarak jauh di belakangnya, memperhatikan pasutri itu sambil bersendekap.


"Om Se, apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Hasna. Dia menyerahkan dokumen dan tas kerja suaminya. Pak Arenlah tadi yang memberikannya padanya.


"Tidak ada, sudah cukup. O iya, nanti makan siang kau bawa bekal ke kantor ya, aku malas makan di luar."


"Oh iya,"


Hasna meraih tangan Serkan dan menyalaminya, sejuk rasanya hati Serkan mendapatkan istri yang sangat baik. Tidak pernah tangannya di cium dan di antar seperti ini oleh para istrinya, bahkan Yuna pun tidak pernah. Hingga dia tau, kalau dirinya di khianati.


Hatinya semakin berharap mengarungi bahtera rumah tangga dengan Hasna, sejuk hatinya pulang kerja di sambut istri dan anaknya. Memikirkan tentang anak, akankah Hasna mau dengannya?


"Minta antar saja pada pak enan,"


"Iya."


Serkan pun berbalik, beberapa langkah dia menghentikannya dan menoleh, lalu tersenyum dan Hasna pun membalasnya sampai Serkan memasuki mobil hitamnya dan mobil itu menghilang di balik gerbang.


"Eli jangan berbicara sembarangan, aku kesini karena permintaan tante Alena."


"Idih, kamu jangan percaya sama tu tante-tante. Aku mencium bau-bau busuk."


"Memangnya hidungnya reinkarnasi dari hidung anjing?"


"Hey, jangan menyalahkan hidung ku. Tapi ngomong-ngomong, kalau Om Sese itu mencintai mu, kau harua bagaimana?"


"Jangan berbicara sembarangan."


"Aku sarankan kau menerimanya saja, dia sepertinya menyukai mu dan lagi, tidak ada salahnya kau menerima Om Se. Aku lihat dia lebih bahagia dari pada bersama si tante-tante itu."

__ADS_1


"Sudahlah, ayo masuk."


Eli semakin gemas dengan temannya itu, sejujurnya ia memang kasihan, tapi ia butuh seseorang yang bisa melindungi Hasna. Dia bisa menilai Serkan, sudah tampan, matang, kaya, tapi satu kekurangannya memiliki istri dua.


***


Di tempat lain.


Alena melihat seorang pria, dia pun menghampirinya dan duduk di hadapannya.


Pria itu pun menatap sekilas, lalu meminum jus di depannya. "Apa yang harus aku kerjakan?"


"Aku ingin kau mendekati Hasna." Jawab Alena tanpa basa-basi. Dia tidak mau mengulur waktu, hari ini ia akan ke Dokter untuk memeriksa kandungannya.


"Hem, siapa Hasna?"


"Dia tunangan Azzam, tapi setelah Azzam meninggal, Serkan menikahinya dengan dalih balas dendam. Tapi aku takut, dendam itu tidak tersalurkan karena aku merasakan suami ku mulai dekat dengan Hasna."


"Kau takut? aku jadi penasaran wanita seperti apa yang bisa menaklukkan Serkan? sedangkan kau sendiri tidak bisa menaklukkannya, kau harus bersusah payah memutar otak dan menggunakan rencana licik."


"Dia tidak lebih dengan wanita *****." Dia berucap dengan nada amarah.


Alena mengambil sebuah foto di tasnya dan menaruhnya di depan Leon. "Ini orangnya, aku ingin seperti dulu, berjalan rapi." Ia tidak ingin terlibat dan membuat Serkan membuangnya, tapi ia sudah mencadangkan sesuatu sehingga dirinya tidak di salahkan.


Leon dulu memang tidak mencintai Yuna, karena ingin hidup nikmat dia memanfaatkan Yuna.


"Ini ... lumayan cantik. Pantas saja Serkan tergila-gila padanya."


Alena menggebrak meja di depannya dengan marah dan membuat beberapa orang menoleh. "Aku tidak mau tau, kau harus mendekatinya dan membuatnya menyukai mu. Tapi aku meragukan mu, selama ini dia mencintai Azzam, apa pesona murahan mu bisa memikatnya?" Alena justru balik mengejek.

__ADS_1


"Kalau dia mencintai Azzam kau tidak perlu khawatir bukan."


"Sudahlah, tugas mu hanya untuk membuatnya menyukai mu." Alena menaruh sesuatu di depan Leon dan membuat pria itu tersenyum, lalu mencium sesuatu di dalamnya.


__ADS_2