
Setelah melihat pria paruh baya itu sudah tidak berdaya lagi, baru Tari menghentikan cambukan nya.
" Huh... cape juga gue... Tu rasakan enak tidak kalau di cambuk seperti itu HAH... " kata Tari yang mendekati orang yang sudah tidak berdaya itu.
Bu Linda langsung memeluk suaminya, begitu juga dengan Vika, ia langsung menghampiri dan memeluk papah nya.
" Papah... Papah tidak apa-apa pah... hiks hiks hiks... Papah ayo kita ke kamar ibu akan obati " kata Linda yang langsung memapah suaminya
" Papah... Ayo pah kita ke kamar, sini Vika bantu hiks hiks hiks... " kata Vika juga yang ikut memapah papahnya untuk di bawa ke kamar mereka.
" Hey tunggu... Nih bawa sabuk Lo, ingat kalau gue perlu gue ambil lagi... Hmm...emang enak " kata Tari yang langsung melempar sabuk untuk mencambuk tadi ke arah mereka bertiga.
" I... iya... hiks hiks hiks..." kata Linda yang menangkap sabuk yang hampir mengenai muka suaminya itu.
__ADS_1
Setelah itu mereka bertiga langsung berlalu ke kamar, meninggalkan Tari yang lagi istirahat di sofa depan TV karena kelelahan habis mencambuk pria tua itu.
Bi Lastri, dan mang Dadang supir sekaligus pengawal itu pun langsung menghampiri Tari yang sedang beristirahat di sofa, dan Bu Lastri sambil membawakan minuman untuknya.
" Ini non Bulan minum dulu, Non bibi tidak menyangka kalau non Bulan bisa seberani itu hari ini, sampai - sampai mereka semua sudah tidak berdaya " kata bi Lastri yang memberikan minum untuk Tari.
" Benar non, mamang juga hampir tidak percaya. Sebenarnya non Bulan dapat keberanian darimana sih, ko bisa sampai sehebat itu? Biasanya nona hanya pasrah mendapat dan menerima perlakuan dari tuan besar dan keluarganya. " kata mang Dadang.
" Adalah bi, mang. Sudah cukup selama ini mereka menyiksa dan menyakitiku, sudah saatnya aku membalas semuanya, biar mereka tahu rasa, seperti yang aku rasakan selama ini ." kata mentari sambil meminum minuman nya.
" Ini semua untuk Bulan, bi mang. Karena apa yang di alami Bulan selama ini, aku juga merasakan sakitnya, jadi mereka juga harus merasakan apa yang kami rasakan selama ini. " kata Tari dalam hati.
" Ya sudah non, non istirahat saja dulu di sini bibi mau ke dapur dulu ya. " kata bi Lastri yang di anggukan oleh Tari dan bi Lastri pun langsung pergi ke dapur.
__ADS_1
" Iya non, mang Dadang juga keluar dulu ya non, mau bersih - bersih dulu. " kata mang Dadang yang juga di anggukan oleh Tari, dan mang Dadang juga langsung keluar meninggalkan Tari yang beristirahat di depan tv.
" HAH... sepertinya gue harus sedikit bersabar dulu untuk mencari tahu semuanya, yang penting sekarang gue harus menyingkirkan keluarga macam yang menjadi parasit di rumah Bulan ini dulu. Setelah itu baru gue mencari tahu ada hubungan apa antara gue dan Bulan. " kata Tari dalam hati sambil memejamkan matanya untuk beristirahat di depan tv.
Sedangkan di dalam kamar, Bu Linda dan Vika sedang sibuk mengobati pria paruh baya itu.
" Papah, papah istirahat ya biar cepat sembuh. " kata Vika yang tidak tega melihat kondisi ayahnya.
" Kurang ajar sekali si Bulan itu sekarang, Mama heran kenapa ia bisa berubah seperti itu sekarang, bukannya biasanya ia hanya perempuan yang lemah " kata Linda yang penasaran dengan perubahan sikap Bulan.
" Ia mah, Vika juga heran, perasaan kemarin ia masih lemah, baru bangun tadi pagi ia berubah menjadi ganas seperti itu. Apa kepalanya habis terbentur di kamar mandi, sehingga otaknya geser, atau habis kerasukan setan jadi ia bisa berubah ganas seperti itu. " kata Vika yang mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
" Mm.. Bisa jadi " kata Linda yang membenarkan apa kata anaknya.
__ADS_1
Sedangkan pria paruh baya yang bernama Darwin itu hanya mendengarkan saja apa yang istri dan anaknya katakan sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, akibat ulah keponakan angkatnya itu.