
Mahendra dan Bagas kembali memerintahkan anak buahnya itu.
" Sebelum ia bertindak lebih jauh lebih terhadap keluargaku, segera urus dia seperti biasa..." kata Mahendra pada anak buahnya itu.
" Benar, ingat jangan sampai meninggalkan jejak..." perintah Bagas juga.
" Baik tuan, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi sekarang untuk melakukan semuanya... Permisi tuan." kata orang itu yang langsung di anggukan oleh Mahendra dan Bagas.
Anak buah Mahendra itu pun langsung pergi, setelah itu Mahendra dan Bagas kembali keruang untuk melihat semuanya.
" Bagaimana Pah, Bagas. Apa kata polisi tadi...?" tanya Ariana yang juga di anggukan oleh Bulan, Bu Diah dan bi Lastri.
" Polisi hanya memberi kabar hasil penyelidikan tentang kecelakaan itu saja, tapi tidak bisa memastikan siapa pelakunya. Tapi anak buah papah sudah mendapatkan semuanya... " jawab Mahendra yang juga di anggukan oleh Bagas.
" Terus apa kata anak buahnya papah... " tanya Ariana lagi
Sedangkan mereka bertiga masih setia mendengarkan sambil penasaran.
" Ini mah, semua. " kata Mahendra yang memberikan hasil penyelidikan anak buahnya itu pada semuanya.
Ariana, Bu Diah, Bulan dan bi Lastri langsung mendekati dan melihat hasil penyelidikan itu secara bersamaan.
__ADS_1
Setelah melihat itu, seperti halnya Mahendra dan Bagas, mereka ber empat pun langsung sangat marah dan murka setelah mengetahui semuanya.
Dan malam ini mereka semua memutuskan untuk beristirahat dan menginap di ruangan rawat Rendra dan Tari yang lumayan besar, karena Mahendra memesan kamar rawat VIP, khusus untuk anak dan menantunya, sehingga mereka yang berjaga bisa lebih nyaman untuk menjaga keduanya.
**
Ke esokan paginya, setelah membersihkan diri secara bergantian mereka pun sarapan bersama, dengan makanan yang di pesan langsung oleh Ariana, dan langsung di antarkan ke ruangan itu.
Setelah sarapan, Mahendra langsung mendapatkan kabar dari anaknya buahnya melalui ponsel.
" Mah, semua... Saya keluar sebentar ada urusan mendadak, ayo Bagas, temani papah..." kata Mahendra yang berpamitan pada semuanya dan langsung mengajak Bagas.
" Baik pah..." sahut Bagas dan langsung di anggukan oleh semuanya.
" walaikum salam..." jawab mereka semua.
Setelah berpamitan , Mahendra dan Bagas langsung pergi menuju ke lokasi, yang sudah di beri tahu oleh anaknya itu.
Sesampainya di sana Mahendra dan Bagas langsung di sambut anak buah Mahendra yang sangat banyak itu.
" Selamat datang tuan besar, tuan..." kata ketua dari semua anak buahnya itu.
__ADS_1
" Mm... Dimana dia...?" tanya Mahendra yang juga di anggukan oleh Bagas yang berada di sebelah Mahendra.
Bagas sudah tidak terkejut lagi melihat semua anak buah Mahendra yang begitu sangat banyak itu.
" Dia ada di sebuah ruangan, silahkan tuan..." kata ketua anak buahnya itu yang langsung di anggukan oleh Mahendra dan Bagas.
Mereka langsung menuju sebuah ruangan yang tadi di katakan oleh ketua anak buahnya itu.
Sesampainya di sana, Mahendra dan Bagas langsung masuk untuk melihat dan memberikan pelajaran kepada orang itu.
Plakh...
" Meskipun kamu merubah wajahmu beberapa kali, kami akan tetap mengenalimu. Dan kau harus mengakui semuanya..." kata Mahendra yang berusaha menahan amarahnya setelah menampar pipi orang .
Plakh...
" Orang, - orang seperti mu ini memang pantas mendapatkan semua..." kata Bagas juga yang langsung menampar pipi orang itu.
Orang itu langsung meringis menahan sakit, akibat tamparan Mahendra dan Bagas dengan sangat kerasnya.
Sampai bibir pelaku itu pun langsung mengeluarkan darah.
__ADS_1
Orang itu telah lebih dulu di tangkap anak buah Mahendra, dan langsung di ikat tangan kakinya di kursi. Sedangkan polisi masih mencari tahu semuanya.
Mahendra dan Bagas rasanya ingin kembali menampar pelakunya, akibat saking marahnya mereka kepada pelaku itu.