Mentari Dan Bulan

Mentari Dan Bulan
Bab 26


__ADS_3

☘️☘️


Mendengar pertanyaan Bagas itu, Bulan begitu terkejut, tapi ia juga sangat senang dan bahagia, karena ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Bagas.


Bulan pun tidak menjawab, tapi ia tersenyum dengan sangat indahnya kepada Bagas yang masih memegang erat tangannya dan masih meletakkan tangan Bulan di dada Bagas, sehingga Bulan dapat merasakan debaran jantung Bagas yang berdetak lebih cepat seperti yang ia rasakan saat ini.


Merasa tidak mendengar jawaban dari sahabatnya itu, Bagas pun memberanikan diri untuk melihat ke arah Bulan, dan memberanikan diri lagi untuk bertanya, karena melihat senyuman yang di berikan Bulan untuknya.


" Lo... Lo ko senyum aja sih Tar... Apa itu tandanya Lo menerima perasaan gue... ?" Tanya Bagas yang sangat penasaran dengan jawaban sahabatnya itu.


" Mm... " jawab Bulan sambil tersenyum dan mengangguk pada Bagas


" HAH... Sumpah Lo... Lo serius terima perasaan gue... Lo... Lo beneran terima cinta gue... " kata Bagas, memastikan lagi sambil berteriak dengan sangat antusias nya setelah mendapat Jawaban dari orang yang sangat ia cintai ini.

__ADS_1


Dan Bulan pun hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Bagas, karena ia juga sangat bahagia cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.


Melihat itu Bagas sangat bahagia, ia langsung memeluk Bulan dan langsung menggendong dan membawa Bulan berputar - putar saking bahagianya.


Mereka berdua pun saling tertawa dan bahagia bersama, setelah itu Bagas langsung memberikan sekuntum mawar merah yang tadi sudah di siapkan nya di balik bajunya.


Dengan senang hati dan bahagia Bulan menerima setangkai bunga dari pria yang baru saja jadi kekasihnya itu lalu mencium bunga itu sambil tersenyum dengan sangat indahnya.


Sungguh kesabaran yang berbuah kebahagiaan untuk Bulan sekarang...


🌻🌻


Sedangkan di rumah besar, tak kalah jauh berbeda dengan Bulan.

__ADS_1


Hari ini Mentari juga merasakan kebahagiaan yang sama, sampai - sampai ia enggan bangun dari tidurnya, karena masih mengingat mimpinya yang sangat membahagiakan itu.


Dan hampir tengah hari Mentari baru mandi dan membersihkan diri, masih tersenyum dengan manisnya juga, karena masih merasa bahagia oleh mimpinya.


" Alhamdulillah bahagianya gue hari ini, seandainya ibu dan Bagas saat ini bersama gue, mungkin sudah gue peluk dan cium sepuasnya mereka, karena saking bahagianya gue. Huh... gimana ya kabar mereka, jadi kangen gue... Ya sudahlah... gue harus cari cara dulu buat nyingkirin keluarga macam itu, dan mengungkap penculikan gue masih bayi dan membalas kematian nyokap dan bokap gue. Baru gue menjemput mereka semua dan gue bawa kerumah gue yang besar ini, pasti ibu dan sahabat gesrek gue itu seneng banget. HAH... udah ga sabar gue rasanya. " kata Tari yang sambil merapikan pakaian serta penampilan sambil tersenyum sendiri menatap dirinya di cermin yang sangat sempurna menurutnya.


Setelah selesai dan rapi, Mentari langsung keluar kamarnya mau menuju dapur. Tapi saat sampai di ruang keluarga ia sudah di sambut oleh keluarga macam.


" Wah si pemalas baru bangun nih, enak banget kamu ya sekarang seenaknya saja... " kata Vika dengan tampang sinisnya.


" Suka - suka gue lah, rumah gue juga mau gue siang ke bangunnya, mau seharian ke gue di dalam kamar, apa urusan Lo... Seharusnya Lo tu yang sadar diri, sudah numpang songong lagi, ga tahu diri banget sih. " kata Mentari yang membalas tatapan sinis dan berlalu begitu saja menuju dapur.


Sedangkan Bu Linda dan Darwin hanya diam saja karena merasa tersindir dengan ucapan Tari, dalam hati mereka berdua sangat marah pada Tari dan ingin cepat - cepat menyingkirkan Tari dari rumah besar ini.

__ADS_1


__ADS_2