
" Kalau benar apa yang kalian katakan, gawat ini, akan sangat susah lagi untuk kita menguasai semua harta warisan almarhum Permana ini..." kata Darwin lagi sambil memijat keningnya.
" Terus sekarang kita harus bagaimana Pah... " tanya Linda yang di anggukan juga oleh Vika
" Mm... papah punya ide, kalian berdua tinggal ikuti saja rencana papah... oke " kata Darwin lagi yang menemukan ide rencana liciknya.
Linda dan Vika pun mengangguk dan mereka tersenyum bersama, karena memiliki ide dan rencananya.
**
Sedangkan di kamar Tari, saking pusing nya Tari memikirkan cara untuk mengungkap kecelakaan kedua orang tuanya itu, ia tiba-tiba sangat rindu pada ibu dan sahabat gesrek nya itu.
" Huh... coba saat ini gue bersama ibu dan Bagas, pasti mereka akan bantu memikirkan caranya. " kata Tari sambil berbaring di tempat tidur menatap langit kamarnya.
" Gue jadi kangen banget sama ibu sekarang... Gimana kabarnya ya, Terus sahabat gue itu apa dia jagain ibu dan saudara gue dengan baik... HAH... tuhan gue kangen banget sama mereka. " katanya lagi yang terus bergumam sendiri.
__ADS_1
" Apa gue jemput saja ya mereka besok... Tidak enak juga tinggal di istana tapi rasanya hidup sendiri gini. Ya sudah lebih baik besok saja gue jemput mereka... ya itu lebih baik. " kata Tari lagi yang sudah yakin dengan keputusannya untuk menjemput ibu, saudara serta sahabatnya itu.
*
Ke esokan paginya Mentari pun bersiap pulang kerumahnya untuk menjemput ibu dan kembarannya, serta sahabatnya itu.
Setelah siap Tari pun langsung berangkat dengan menggunakan taksi.
Sedangkan di kamar Darwin, saat ini mereka bertiga sedang merencanakan sesuatu.
" Baru saja aku memerintahkan anak buah ku untuk menculik Bulan dan wanita tua itu. Kita akan memaksa Bulan untuk menandatangani surat pengalihan harta warisan ini atas nama kita. Kalau ia tidak mau menandatangani nya, kita ancaman dia agar mau menandatangani surat kuasa itu. " kata Darwin lagi dengan tersenyum miring.
" Wah papah pintar sekali, kita tidak perlu menunggu Bulan berumur dua puluh lima tahun, sekarang saja itu jauh lebih baik. Setelah itu, kita singkirkan kedua perempuan kembar itu. Seperti kita menyingkirkan kedua orang tuanya dulu " kata Linda lagi
" Papah dan mamah benar... Setelah itu aku yang akan menggantikan Bulan palsu untuk menikah dengan Rendra yang sangat tampan itu... Uh... senangnya. " kata Vika juga yang membayangkan bersanding dengan Rendra
__ADS_1
" Hush... kamu masih kecil sayang, belum waktunya untuk menikah. " kata Darwin yang belum siap untuk melepas putri satu - satunya itu
" Kecil apanya sih Pah... aku tu sudah waktunya untuk menikah, kenapa papah dan mamah malah menjodohkan Rendra dengan Bulan, kenapa bukan dengan ku saja sih..." kata Vika yang sebal dengan kedua orang tuanya itu.
" Ya sudahlah itu bisa kita pikirkan nanti, lebih baik sekarang kita urus saja dulu anak kembarnya si Permana ini. " kata Darwin lagi yang di anggukan oleh Linda.
Sedangkan Vika hanya mengerutkan bibirnya saja setelah mendengar kata papahnya itu.
Tanpa mereka sadari, bi Lastri mendengar semua.
Bi Lastri yang mau membersihkan kamar Tari tak sengaja lewat di depan kamar Darwin lalu mengintip dan mendengar semuanya.
Tanpa menunggu waktu lagi, bi Lastri langsung pergi ke kamar Tari, untuk mengatakan semuanya.
" Non, Non Mentari... Loh kemana nona mentari kenapa tidak ada di kamar, terus harus bagaimana ini, saya harus kemana, siapa yang bisa membantu sekarang... " kata bi Lastri yang benar - benar bingung dan khawatir saat ini, setelah mendengar semuanya.
__ADS_1