Mentari Dan Bulan

Mentari Dan Bulan
Bab 7


__ADS_3

Bulan yang di peluk itu pun bingung, karena ia sama sekali tidak tahu sedang berada di mana, dan sama sekali tidak mengenal orang yang ada di situ.


" Alhamdulillah Tari, akhirnya Lo sadar juga. Lo kenapa sih Tar, ko bisa sampai pingsan ?" kata Bagas yang juga masih berada di situ.


Bertambah bingung lah Bulan, sampai ia tidak bisa menjawab pertanyaan mereka sama sekali karena belum mengerti dengan semuanya.


" Ya sudah Bagas, biarkan Mentari istirahat dulu badannya panas sekali " kata Bu Diah yang sangat khawatir dengan kondisi anaknya.


" Lo sakit Tar, perasaan tadi Lo baik - baik saja kenapa bisa panas begini badannya " kata Bagas yang juga ikut memegang kening Bulan yang memang terasa panas.


" Ya sudah ibu ambilkan obat dulu ya nak, kamu istirahat dulu di sini " kata Bu Diah yang langsung keluar mengambil obat penurun panas.


" Ya sudah Tar, Lo istirahat saja gue pulang dulu ya " kata Bagas juga yang langsung keluar dari kamar mentari.


" Apa mereka salah orang ya, mungkinkah aku sangat mirip dengan perempuan yang bernama mentari itu, sehingga mereka mengira aku ini mentari. Ya sudahlah jalani saja, disini sepertinya jauh lebih baik. " kata Bulan dalam hati, sambil melihat sekelilingnya berada saat ini.


Tidak lama Bu Diah pun datang membawakan bubur, dan obat untuk bulan.

__ADS_1


" Sayang makan dulu ya buburnya, lalu minum obat biar cepat sembuh " kata Bu Diah yang langsung menyuapi anaknya itu.


Bulan pun mengangguk dan membuka mulutnya, perlahan tapi pasti Bulan menerima suapan demi suapan yang di berikan Bu Diah dengan penuh kasih sayang.


Sampai - sampai Bulan hampir mengeluarkan air matanya karena sangat terharu mendapatkan perlakuan hangat dari orang yang sama sekali tidak ia kenal ini.


Bulan sangat bahagia, karena selama ini ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya, terutama seorang ibu.


Karena selama ini Bulan hanya tinggal sebatang kara, dan hanya di asuh oleh pengasuhnya saja.


Sampai akhirnya Bulan memutuskan untuk pergi dari rumah yang selama ini sudah membesarkannya.


" Sayang kamu istirahat lagi ya biar cepat sembuh " kata Bu Diah yang membantu Bulan berbaring kembali dan menyelimuti tubuhnya.


Setelah melihat anaknya istirahat, Bu Diah pun keluar dan membiarkan anaknya beristirahat dengan tenang.


Setelah melihat Bu Diah keluar dari kamar, Bulan pun sangat bersyukur dengan apa yang baru saja ia terima.

__ADS_1


" Terimakasih ya Allah, atas kebahagiaan yang baru saja engkau berikan. Alhamdulillahhirobbilalamin..." kata Bulan dalam hati sambil memandang langit kamar itu.


🌻🌻


Di tempat lain saat ini Mentari sedang beristirahat di kamar Bulan, ia tertidur sangat pulas sekali, sampai seseorang mengetuk pintunya dan membangunkannya.


" Non, non Bulan bangun non " kata bi Lastri yang membangunkan Mentari


" Ayo cepat bangun non, terus mandi dan makan ini sudah sore, mumpung orang rumah tidak ada, nanti kalau mereka sudah pulang, non tidak bisa makan lagi " kata bi Lastri lagi.


Tari pun akhirnya bangun, dan masih setengah sadar ia pun menurut apa yang bi Lastri katakan.


Tari langsung pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi Tari pun akhirnya sadar sepenuhnya, dan langsung menuju ke lemari untuk berpakaian.


" Ya ampun, nih pakaiannya kenapa banyak rok nya sih, gerah gue kalau pakai beginian. " kata Tari yang terus mencari celana tapi tidak menemukannya.


Akhirnya mau tidak mau ia pun memakai rok yang sedikit pendek tapi masih di bawah lutut.

__ADS_1


" Ya ampun ribet banget sih, susah banget sih pakai beginian. " kata Tari yang terus menggerutu setelah memakai rok dan baju kaos lengan panjang.


Yah begitulah Tari yang tidak pernah berpakaian peminim, ia lebih suka berpakaian yang lebih simpel pakai celana dan kaos lengan pendek, itu sudah terasa sangat nyaman untuknya.


__ADS_2