Mentari Dan Bulan

Mentari Dan Bulan
Bab 16


__ADS_3

☘️☘️


Tidak lama suara sirine mobil polisi itu pun terdengar, tapi masih lumayan jauh dari sana.


" Pak... itu suara polisi pak, bagaimana ini " kata Bu Diah yang sangat panik sambil menggendong bayi perempuan mungil itu.


" Ayo cepat kita pergi dari sini Bu, nanti kita bisa di salahkan atas kejadian ini, padahal kita tidak tahu apa - apa. Lebih baik kita pergi dari sini sekarang, bapak tidak mau berurusan dengan polisi, ribet Bu... ayo..." kata pak Joko yang langsung menaiki motornya kembali lalu menghidupkan motornya.


" Iya pak... " kata Bu Diah yang langsung naik ke motor suaminya itu dan masih menggendong bayi itu.


Dan setelah Bu Diah naik ke motor, pak Joko langsung menjalankan motor nya dan langsung pergi dari sana.


Tidak lama setelah kepergian Bu Diah dan suaminya, mobil polisi itu pun sampai dan langsung mengevakuasi korban.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah mereka, Bu Diah dan pak Joko langsung masuk ke dalam rumahnya.


" Ya Allah Bu, kenapa ibu bawa bayi ini ?" tanya pak Joko kepada istrinya.


" Memangnya kenapa Pak, kasihan bayi ini kalau kita tinggalkan di sana, apalagi kedua orang tuanya sudah meninggal. Lagian aku sudah menyayangi bayi ini seperti anak ku sendiri, mungkin ini rejeki untuk kita dari Allah Pak, karena selama ini kita tidak memiliki anak, jadi Tuhan mengirimkannya untuk kita. " kata Bu Diah pada suaminya, sambil menimang dan mencium bayi mungil yang sedang tertidur pulas di pangkuannya itu.


Melihat istrinya yang begitu sangat menyayangi bayi itu, dan mendengar apa yang di jelaskan oleh istrinya tadi, hati pak Joko pun luluh.


" Ya sudah terserah ibu saja, mungkin ini jawab atas doa - doa kita selama ini ya Bu. " kata pak Joko yang memeluk dan mencium kening istri dan anak angkat mereka itu.


Pak Joko dan Bu Diah sangat menyayangi bayi yang bernama mentari itu dengan penuh cinta dan kasih sayang, hingga rumah tangga mereka sudah terasa lengkap karena kehadiran bayi mungil itu di tengah - tengah mereka.


( Plash back off )

__ADS_1


" Begitulah awal mula ibu dan bapak bertemu dengan mu nak, meskipun kamu bukan anak kandung kami, tapi kami sangat menyayangimu seperti anak kandung kami sendiri. Maafkan ibu yang baru mengatakannya sekarang... " kata Bu Diah yang sudah selesai menceritakan semuanya.


Bulan yang mendengar cerita dari Bu Diah itu pun sampai terharu, ia langsung memeluk Bu Diah dan berterima kasih atas kasih sayang yang di berikan kepada Mentari selama ini.


" Terimakasih banyak Bu, hiks hiks hiks... berkat ibu dan ayah Mentari tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua. " Kata Bulan yang merasa bersyukur atas nasib Mentari yang lebih beruntung darinya.


" Sama - sama sayang, meskipun suatu saat nanti kamu bertemu orang tua kandung mu, kau masih tetap anak ibu, putri ibu dan bapak yang paling kami sayangi. " kata Bu Diah yang membalas pelukan yang ia kira anaknya itu, dengan penuh kasih sayang sambil mengelus kepala dan mencium kening Bulan.


" Beruntung kamu Tari, mendapatkan orang yang sangat tulus menyayangimu, setelah orang tua mu tiada. Sangat jauh berbeda dengan ku, yang mendapatkan orang sangat kejam dan jahat setelah kepergian orang tua kandung ku Hiks hiks hiks... " kata Bulan dalam hati sambil menangis meratapi nasibnya selama ini yang selalu di sakiti dan tersiksa setelah kepergian orang tua nya.


" Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya sayang, karena harinya sudah malam, besok kita pergi ke pasar lagi untuk berjualan. " kata Bu Diah karena saat harinya sudah malam baru bisa mengatakannya, dan langsung di anggukan oleh Bulan.


Bu Diah langsung keluar kamar Tari dengan perasaan yang sangat lega, karena sudah mengungkapkan rahasia yang ia pendam selama ini.

__ADS_1


Sedangkan Bulan juga senang sudah mendapatkan sedikit titik terang, tentang dugaan serta pertanyaan nya.


__ADS_2