
Mendengar Darwin dan Linda yang tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh polisi itu, polisi itu pun langsung menunjukkan foto dan data - data korban.
" Lihatlah ini pak, Bu. Ini adalah foto korban, dan ini adalah semua data korban. " kata polisi itu menyerahkan semua barang bukti dari TKP.
Melihat itu Linda langsung menangis histeris.
" Tidak... Hiks hiks hiks...Vika jangan tinggalkan mamah nak... hiks hiks hiks..." kata Linda sambil berteriak menangis histeris
Darwin pun sampai mengeluarkan air mata, seakan masih tidak bisa menerima kalau anak harapan mereka sudah pergi untuk selamanya.
" Hiks hiks hiks... Vika, maafkan papah nak, karena kami kamu jadi seperti ini hiks hiks hiks..." kata Darwin juga yang terduduk di lantai sambil menangis .
Melihat kedua polisi itu pun pergi.
" Saya permisi pak, Bu. Saya akan kembali ke rumah sakit dan mengurus pemakaman anak kalian, dan maaf kami tidak bisa membawa kalian untuk menghadiri pemakaman, karena kami tidak mau mengambil resiko. Dan hanya itu yang saya sampaikan permisi..." kata polisi itu sebelum pergi, dan langsung pergi dari sana setelah mengatakan itu.
" Hiks hiks hiks... Vika... Hiks hiks hiks..." kata Darwin dan Linda bersamaan menangis histeris sambil berpelukan untuk menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
Yah begitulah nasib keduanya saat ini yang menjalani hukumannya seumur hidup, akibat rencana jahat mereka yang sudah membunuh saudara angkat mereka dua puluh tahun yang lalu, yaitu tuan Permana dan nyonya Ayunda, orang tua kedua gadis kembar itu.
Di tambah lagi, dengan penganiaya yang selama ini mereka lakukan terhadap Bulan, dan sudah menguasai harta yang bukan milik mereka.
Dengan semua itu, kini mereka mendapatkan ganjaran atas semua perbuatan mereka, yang selama ini sudah di butakan oleh harta.
Dan sekarang jangankan untuk bebas, untuk melihat anak mereka satu - satunya untuk yang terakhir kalinya pun mereka tidak bisa.
Yang bisa mereka berdua lakukan sekarang hanya meratapi takdir hidup yang mereka berdua habiskan di dalam sel tahanan seumur hidup guna mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka.
🌷🌻🌻☘️☘️🌷
Hari ini di rumah sakit, keluar Mahendra sedang merasakan cemas dan khawatir yang luar biasa. Karena kondisi Rendra dan Mentari yang saat ini sangat kritis, dan para dokter serta tenaga medis sedang sibuk untuk melakukan tindakan untuk menyelamatkan kedua pasien.
" Hiks hiks hiks...Pah, anak dan menantu kita hiks hiks hiks..." kata Ariana yang terus menangis di dalam pelukan sang suami karena sangat mengkhawatirkan keduanya.
" Sabar mah, kita berdua sama semoga mereka berdua kuat dan kembali lagi pada kita " kata Hendra yang menenangkan istri yang berada dalam pelukannya.
__ADS_1
Sedangkan Bulan, Bagas, Bu Diah dan bi Lastri juga menangis karena sangat khawatir dengan kondisi keduanya.
Mereka semua menunggu di depan ruangan dengan perasaan yang sangat khawatir dan cemas, dalam hati mereka ber doa untuk keselamatan Mentari dan Bagas.
**
Di alam bawah sadar, saat ini Mentari dan Rendra sedang berada di depan jembatan panjang, dan saat mereka berdua hendak melangkah untuk menyebrang langkah mereka terhenti ketika seseorang menghentikan mereka.
" Berhenti sayang... Belum saatnya kalian berdua menyebrangi jembatan itu..." kata wanita paruh baya itu pada Mentari dan Rendra
" Ibu, ayah..." kata Mentari dan langsung kembali dan memeluk kedua orang tuanya itu.
Melihat Mentari yang kembali Rendra pun mengurungkan niatnya untuk melangkah ke jembatan itu, dan ikut kembali juga untuk menghampiri mereka.
" Rendra sini nak..." kata ayah Mentari yang memanggil menantunya itu dan membawa mereka duduk di sebuah taman yang ada di depan jembatan itu.
Rendra pun mengangguk dan menghampiri dan langsung bergabung bersama mereka.
__ADS_1