
Hai aku elara, author gak penting-penting amat. Ini novel kesekian kali aku mencoba di MT. Aku harap pembaca bijak ya?
tolong tidak menabung bab dan tinggalkan like juga komentar š terima kasih.
š±š±š±
Niat Biru datang ke rumah keluarga hanya untuk meminta restu atas pernikahannya dengan gadis dari keluarga sederhana bernama Langit. Meski sudah tahu akan seperti apa respon dari papahnya, Biru tak mengurungkan niat. Ia hanya ingin Langit mendapat pengakuan sebagai menantu di keluarganya.
"Apa? Sekali lagi apa?" respon Angga sudah bisa Biru tebak.
Beberapa minggu Biru pergi dari rumah. Ia meninggalkan kehidupan mewahnya sebagai putra kedua keluarga Bamantara demi menikahi Langit. Hanya satu yang ia andalkan, uang yang ia tabung sejak kecil secara diam-diam sebagai modal pernikahan. Uangnya sejumlah milyaran, hanya Biru tak ingin memberitahu Langit. Ia ingin benar-benar berjuang dari nol bersama istrinya. Untuk memaknai hidup dan lebih mandiri.
"Biru sudah menikah, Pah. Ini istri Biru, namanya Langit. Dia menantu papah," kembali Biru menjelaskan maksudnya.
Angga berkacak pinggang. Ia berdiri dari sofa dengan wajah memerah. Inginya Angga, Biru menikah dengan wanita berkelas dari keluarga yang sepadan dengan mereka meski ia tahunya Biru tak bisa apa-apa dan hanya membuat masalah.
"Aku tak sudi! Kamu sudah mencoreng nama keluarga ini dengan menikahi wanita miskin seperti dia!" bentak Anggap sambil menunjuk wajah Biru.
Langit gemetaran. Sosok ayah mertuanya itu persis sama seperti yang sering diceritakan oleh teman-temam Biru, menyeramkan. Kini, gadis itu hanya bisa memegang lengan suaminya dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Aku ke sini hanya ingin memberitahu tentang pernikahan kami. Setidaknya papah tahu," tambah Biru.
Percuma, Angga tak ingin tahu hal itu. Ia hanya peduli dengan nama baik keluarganya. "Apa yang kamu lakukan hari ini semakin membuktikan jika kamu tak pantas ada di keluarga ini. Kamu itu dilahirkan hanya untuk membuat masalah. Beda dengan Surya yang selalu membuat aku bangga. Lihat siapa calon istrinya, seorang Direktur dari perusahaan ternama. Lalu kamu? Malah memungut sampah di jalan," hina Angga.
Biru geram. Ia ikut berdiri. "Sampah? Apa papah bisa sekali saja jaga ucapan? Papah memang orang kaya, dari keluarga terhormat. Hanya cara papah menilai orang dari kekayaannya saja, membuat papah merendahkan diri papah sendiri," lawan Biru.
"Merendahkan? Lalu apa? Tujuan wanita ini jadi istrimu paling juga karena tahu kamu anak siapa?" tuduh Angga.
Biru menggeleng. "Kita buktikan saja sendiri. Biru sudah tekankan saat Biru keluar dari rumah ini, Biru gak akan menerima uang dari papah. Biru akan hidup sendiri dan menafkahi istri Biru sendiri."
Tekad Biru sudah setegar karang di lautan. Dia memang dulu anak manja yang tak bisa melakukan apa-apa. Ia tak tahu apa itu toples, tak tahu cara mengancingkan pakaian dan menali sepatu. Ia akan berjuang dan berubah demi istrinya.
"Aku akan buktikan. Gak perlu sekarang aku perlihatkan pada papah. Aku akan baik-baik saja tanpa keluarga ini!" Biru tak mau kalah.
Lagi, Angga tertawa menghina putranya. "Kalau itu Surya aku percaya. Kalau kamu, lelucon kamu itu," hina Angga.
Langit menarik pelan lengan suaminya. Ia berharap agar setidaknya Biru tak ikut memanas juga. "Iya, aku memang tak seperti putra pertama papah. Aku punya hidup sendiri, bukan boneka yang bisa papah jadikan apapun sesuka hati papah," tegas Biru.
Ucapan itu semakin membuat Angga emosi. "Kita lihat! Pergi dari rumah ini. Jangan pernah kamu sebut wanita miskin ini sebagai menantu keluarga Bamantara. Kalau sampai orang tahu, aku tak segan melenyapkannya," ancam Angga.
__ADS_1
"Baik. Aku sudah tekankan dari awal kedatanganku ke sini hanya untuk memberi tahu tentang pernikahanku. Sedikitpun aku tak berniat meminta belas kasihan keluarga ini," tegas Biru.
Ia menarik tangan istrinya dan mengajaknya keluar. Langit tak punya pilihan lain. Ia hanya bisa mengikuti suaminya. "Kita lihat saja! Memang kamu bisa hidup miskin. Aku yakin kamu akan hidup kelaparan dan mengemis pada keluarga ini!" umpat Angga.
Biru tak ingin berbalik lagi. Sudah sekian banyak luka yang Angga torehkan dalam hidupnya. Ia tak peduli meski harus hidup sederhana dengan Langit. Baginya mendapat istri yang ia cintai dan keluar dari keluarga yang penuh dengan ambisi sudah lebih dari cukup.
"Dasar anak bodoh! Diberi hidup enak malah milih susah! Baguslah, aku bisa lepas darinya. Ada di rumah saja dia tak bisa apa-apa. Hanya membuatku sakit kepala," keluh Angga sambil duduk di sofa dengan wajah puas.
Ia bisa membayangkan bagaimana hidup putra keduanya itu. Jatuh miskin dan mengemis-ngemis. Hanya anggapan Angga salah.
Papah Angga sendiri, Bagaskara atau kakek dari Biru telah menyiapkan sebuah rencana besar. Tanpa Angga curigai, Bagaskara akan menjadikan Biru sebagai pewaris utama dirinya. Artinya jabatan yang Angga pegang kini, akan menjadi milik Biru setelah Bagas meninggal. Tak ada yang tahu fakta itu, baik Angga maupun petinggi lain di Bamantara Grouph, bahkan Biru sendiri.
š±š±š±
Tinggalkan komen dan like ya.
JANGAN LUPA UPDATE APLIKASI NOVELTOON DAN MANGATOON TERBARU.
ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1