Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Dilema Kehamilan


__ADS_3

"Jadi tiga bulan, ya?" tanya Fitri.


Biru mengangguk. "Ibu jangan suudzon dulu, yak. Ini bukan karena Biru cespleng, bukan juga karena aku investasi sebelum nikah, usia kehamilan dihitung dari hari setelah datang bulan terakhir," jelas Biru mengucapkan apa yang dia hafal dari Bidannya.


"Iya, Ibu tahu. Kalau ibu gak tahu, gak akan ada Langit sama Mega," timpal Fitri.


Biru masuk ke rumah sambil melompat-lompat manja. "Aa, balikin dulu motor sama Mas Parmin," titah Langit yang duduk di kursi teras dengan Fitri. Sinar matahari masih hangat meski sudah pukul sepuluh. Bandung memang dingin bulan-bulan ini.


Tak lama Biru keluar dengan memakai celana juga kaos. Ia membawa kunci motor Mas Parmin. "Biru balikin dulu kunci motor, takut disangka motornya dijual," pamit Biru.


"Jangan lupa mintain mie kuning, inget jangan dimasak," pinta Langit dengan mata berkaca-kaca.


Biru mengangguk lalu pergi mengembalikan motor. Sementara Langit menyandarkan kepala di bahu ibunya. Fitri mengusap rambut Langit. "Sudah mau jadi ibu, jangan manja-manja," ucap Fitri.


Langit nyengir. "Ibu gak marah?" tanya Langit.


"Lha, kenapa?"


"Bukannya kuliah, Langit malah nikah. Sama pria polos juga. Sekarang malah hamil," ungkap Langit.


Terdengar embusan napas Fitri. "Kalau kamu siap kuliah dengan perut semakin besar, gak apa. Lagipula suami kamu itu meski polos membanggakan. Persis sama seperti ayah. Omongannya selalu bikin tertawa," timpal Fitri.

__ADS_1


Langit tersenyum. "Iya, itu kenapa Langit sayang banget sama dia. Aa Biru mirip banget sama ayah. Polosnya sama, lucunya sama. Lebih dari itu, perhatiannya sama. Tahu Langit hamil, dia nuntun Langit terus."


Biru memang tiada bandingan manisnya. Meski kata orang banyak makan yang manis akan diabetes, ia yakin manisnya Biru manis dari bahan organik yang sehat, tanpa pemanis buatan.


Mendadak Langit ingat sesuatu. Bulan depan ia ujian. Usia kehamilannya sudah masuk bulan keempat. Saat itu perutnya masih bisa ditutupi. Lagipula langsung ditambah libur semester dua bulan. Nah, pas masuk lagi kehamilan Langit sudah masuk bulan enam. Pasti terlihat jelas.


"Semester depan kayaknya Langit mau cuti, tapi kalau cuti nanti Langit gak dapat beasiswa. Bingung," curhat Langit.


Fitri melirik putrinya. "Kenapa harus cuti? Banyak perempuan hamil sambil kuliah."


Langit mengangguk. Masalahnya bukan karena Langit tak sanggup, tapi tak bisa. Jika ia ketahuan hamil, mahasiswa dan para dosen akan tahu dia sudah menikah dengan Biru. Ancaman ayah mertuanya masih terdengar mengerikan untuk Langit.


"Langit, kamu kenapa?" tanya seorang pria menghampiri Langit.


Langit dan Fitri saling tatap. "Langit lagi hamil, Sap. Memang sama Biru," ungkap Fitri sambil tertawa.


"Wah, beneran ini?" Bu Ani baru keluar dari dalam rumah. Ia memang harus ke toilet dulu tadi.


"Iya, sudah tiga bulan," jawab Langit.


Sapta mesem-mesem sendiri. Ia raih tangan Langit. "Gak apa-apa, La. Aku mau terima anak kamu," ucapnya.

__ADS_1


Langit menjauhkan tangannya dari Sapta. "Lha, siapa kamu. Mau terima apa enggak juga, ini anak aku sama Biru," sindir Langit.


"La, kenapa kamu gak sadar juga, sih. Cuman aku yang cinta sama kamu. Aku mau mempertaruhkan apapun buat kamu. Meski kamu sudah jadi janda sekali pun." Sapta bertekad.


Mendengar kata janda, Langit raih sapu injuk di sisi teras. Ia acungkan ke arah Sapta. "Emang gak ada otak ya kamu! Aku lagi hamil muda malah kamu doain jadi janda!" omel Langit sambil memukuli Sapta dengan sapu.


"Ila, jangan marah-marah bahaya!" Bu Ani mencoba mengambil sapu dari tangan Langit sementara Sapta berniat kabur, malah menabrak tubuh Biru dan jatuh.


Biru menyimpan keresek berisi mie kuning di pangkuan Fitri. Ia remas kemeja Sapta lalu menarik pria itu kembali ke rumahnya.


"Kamu masih aku ampuni, ya. Biar mamahmu yang nasehatin. Lain kali masih gitu, aku kaitin kamu di sate gedung sate!" ancam Biru.


"Lepasin!" Sapta berusaha meronta. Sekeras apapun berusaha kabur dari Biru, ia gagal.


"Ibu Sapta! Ini anaknya godain istri orang lagi!" adu Biru sambil berteriak di depan rumah Sapta.


Tak lama perempuan itu keluar. "Kamu ini! Gak nurut sama ibu! Berapa kali ibu bilang jangan dekati anak itu lagi! Mau jadi durhaka kamu!" omel ibu Sapta sambil menjewer anaknya masuk ke dalam rumah.


Biru menepuk-nepuk tangan sambil tertawa puas. Tak lama, ia berbalik lalu berlari pulang. "Aku mau usap-usap bayiku, ah!"


🌱🌱🌱

__ADS_1


mudah-mudahan kalian nikmati alurnya šŸ˜†šŸ˜†šŸ˜†


__ADS_2