
Menunggu sampai pembukaan sepuluh benar-benar bukan proses yang sebentar. Mana selama itu, Langit merasa sensasi sakit saat bidan mengecek besar pembukaannya berkala.
"Nggak lama lagi, kok," ucap bidan yang masih mengawasi Langit saat itu.
Langit yang masih bisa duduk memegangi suaminya dengan erat sambil sesekali mengatur napas. Biru hanya bisa bergetar dan memucat. Meski begitu, ia masih bisa mengusap wajah Langit yang penuh keringat dengan sapu tangan.
"Aa, peluk!" pinta Langit.
Biru mengangguk lalu memeluk erat istrinya. Air mata Biru mengalir. Tidak ia sangka rupanya melihat istri melahirkan begitu takut seperti ini. Sesekali Biru mengusap punggung istrinya.
"Doain aku, ya? Aku mau berjuang," bisik Langit. Biru mengangguk. Ia kecup kening istrinya.
Beberapa menit kemudian, Langit diminta berbaring. "Mulasnya sudah seperti ingin BAB?" tanya bidan. Langit mengangguk.
"Jangan mengejan dulu, ya? Ini masih kurang satu lagi. Tenang, saya ada di sini dan siaga," nasehat bidan.
"Bapak yakin sudah siap mental lihat istrinya melahirkan? Jangan sampai pingsan di sini, loh," kelakar bidan.
Biru mengangguk. "Saya siap, Bu. Tenang saja, saya pria sejati yang maju tak gentar membela yang benar," tegas Biru.
__ADS_1
Menit demi menit berlalu. Saatnya Langit melahirkan. Biru memantapkan batinnya melewati saat-saat menegangkan itu dengan Langit.
"Ya Allah, sakitnya!" keluh Langit. Ia menarik napas mengikuti arahan bidan dan mengejan jika sudah disuruh.
"Iya, sakit banget!" Biru ikut mengeluh akibat Langit yang menarik kemejanya tanpa sengaja mencubit kecil perutnya.
"Duh!" teriak Langit lagi. Kali ini bukan kulit, rambut Biru menjadi korban karena dijambak.
Rasanya Biru ingin meneteskan air mata. Ia dipukul, diomeli, dibentak, dicubit, dijambak. "Menemani istri melahirkan ternyata sama saja ngorbanin diri jadi korban KDRT," keluh Biru sambil mengusap lengannya yang sakit.
Meski begitu, ia tetap di sana. Tak lama terdengar suara tangis Minara menggema. Biru mengusap dada lega. Saat Minara diangkat, pucat sudah wajah biru melihat bayi kecil itu berselimut darah. Saking gemetarnya, saat Biru memegang ranjang, ranjang itu sampai ikut berderit.
Minara hanya dikeringkan dengan handuk lembut lalu diletakan langsung di atas dada Langit. Minara bergerak-gerak mencari tempat di mana ia bisa mendapatkan ASI. Proses itu membuat Biru yang melihatnya mulai merasa tenang sedikit demi sedikit. Proses IMD seperti ini tak semua ibu bisa merasakannya. Dalam keadaan tertentu, bayi harus dibersihkan dulu.
Dari sudut mata, Langit mengucurkan air mata. Ketika bayi kecil itu perlahan mulai meneguk ASI darinya dan tangannya bergerak-gerak lucu menyentuh Langit.
"Ini ibunya hebat, ya. Meski masih muda, tapi lahirannya lancar," puji perawat yang memasangkan Minara topi.
"Bayinya juga cantik seperti ibunya. Mau diberi nama siapa?" tanya Bu Bidan.
__ADS_1
"Minara Naladhipa Bamantara artinya jantung hati yang menerangi hingga mampu mencuri hati banyak orang di sekitarnya. Ibaratnya, calon artis populer," jawab Biru yang sudah khatam nama bayinya.
"Jangan lupa habis Minaranya menyusu, papanya adzanin, ya?" saran bidan.
Biru mengangguk. "Iya, Bu. Aku sudah les adzan sama Pak Syarifudin. Malah dua bulan ini praktek terus di masjid dan kampus. Sampai dosenku pingsan dengar aku adzan," jawab Biru.
"Lha, kok bisa? Suaranya jelek?" tanya Bu Bidan.
Biru menggeleng. "Jauh ketika aku masih jahiliyah, jangankan melantunkan adzan ... dengar adzan saja aku langsung lari kayak setan," jawab Biru.
"Kenapa? Panas?" tanya bidan lagi penasaran.
"Bukan, takut saja di suruh sholat sama guru agama. Habis gak hafal," jawab Biru polos.
"Bacaannya?"
"Bukan cuman bacaannya. Waktu SMA aku disuruh praktek sholat, baru ruku langsung duduk terus salam. Kata Pak guru kenapa nggak sujud dulu, terus aku jawab biar cepat selesai. Besoknya dilaporkan aku ke papa. Seminggu kartu kreditku diblokir."
"Kalau sekarang gimana?" tanya Bidan penasaran sambil cekikikan.
__ADS_1
"Sekarang jangankan sholat. Aku sudah hafal juz ketiga puluh. Sudah selesai baca Al-baqarah. Kalau jadi imam saja sering diprotes sama satpam lain di kantor gara-gara aku baca surat An-naba pas sholat maghrib," jawab Biru.
š±š±š±