Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Petir


__ADS_3

Biru duduk di sisi ruangan sambil menggendong Minara yang juga menangis memanggil bundanya. Putri kecil itu memukul-mukul bahu Biru. "Bu! Bu!" panggil Minara.


Perasaan Biru semakin hancur. Tangannya gemetaran. Tak kuasa baginya melihat tubuh Langit yang dikafani dimasukan ke dalam peti mati dan siap dibawa dengan ambulan.


Beberapa kali Biru memukul dadanya, tetap tak lebih sakit dari rasa kehilangan. Tubuhnya terasa mendingin dan ia hanya bisa memeluk Minara semakin erat. "Pa!" panggil Minara. Biru mengusap rambut putrinya.


Ia takut. "Bagaimana caranya aku besarkan Minara sendiri? Bagaimana caranya aku bisa hidup kalau kamu nggak ada?" tanya Biru dengan lirih dan air matanya kembali mengalir membasahi pipi.


"Ru, kita sholatkan Langit dulu. Kita antar dia sampai ke makam. Kuatlah," nasehat Randy.


Sarah mengambil Minara dari pelukan Biru. Pria itu masih meneteskan air mata. Beberapa kali ia usap dan terus mengalir. "Nggak bisa, Ran. Aku nggak kuat. Nggak bisa!"


Randy tak bisa menyalahkan. Jika ia di posisi Biru, dia juga akan mengalami hal yang sama. Apalagi Randy tahu sebesar apa rasa cinta Biru pada Langit. Sangat besar hingga ia mengorbankan segalanya.

__ADS_1


Angga menunduk. Ia pegang kepala putranya. "Sakit, kan? Begitu sakit sampai kamu tak ingin melihat jenazah istrimu?" tanya Angga.


Biru tak bisa menampik jika memang itu yang ia rasakan. Ia takut melihat tubuh Langit tanpa nyawa juga melihatnya perlahan terkubur di dalam tanah.


"Begitu juga saat Papa kehilangan ibumu. Mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir. Sekarang kuatlah! Bangkit! Seperti papa yang mencoba belajar menghapus perasaan untuk melindungi kalian berdua. Kamu juga begitu! Demi putrimu!"


Biru memandang papanya. Matanya masih basah dan urat-urat di leher yang menegang. "Siapa mereka? Siapa orang itu? Aku akan singkirkan mereka satu per satu!"


Angga bisa melihat jelas tatapan itu, tatapan tajam penuh kebencian melebihi dirinya dulu. "Mereka akan menyesal melakukan ini pada istriku. Aku akan siksa mereka hingga mereka tak memiliki keinginan apa pun kecuali mati!" tegas Biru.


Biru menghapus air matanya. Ia bangkit dan berjalan ke masjid rumah sakit tempat Langit akan disholatkan. Rumah sakit itu milik keluarga Bamantara di mana Surya sekarang menjadi direkturnya.


Setelah sholat jenazah, Biru berjalan menyentuh peti mati di mana tubuh istrinya terbaring. "Tidur istriku. Suatu hari aku pasti menyusul ke sana. Aku akan jaga Minara dengan baik. Aku akan balaskan kematiamu. Aku janji!" batin Biru.

__ADS_1


Langit dimakamkan tak jauh dari makam Bagas. Biru masih memeluk Minara di sisi makam Langit hingga lubang makam ditutup papan dan mulai dibenamkam dengan tanah.


Air mata Biru tak lagi mengalir. Pandangannya masih lurus menatap ke makam. Tak ada yang bisa menghapus dendamnya kini. Satu per satu petinggi Bamantara ia tatap. "Siapa pun di antara kalian, pasti aku temukan. Aku pastikan kalian tak akan mendapat sepeser pun dari perusahaan keluargaku. Lebih dari itu, aku akan buat hidup kalian menderita dan mengantarkan kalian ke neraka."


Namun, pandangan Biru terpaku pada seorang wanita yang tersenyum sinis ke arahnya. Menurut Angga, tak ada bukti keterlibatan keluarga Marga di dalamnya. Hanya Biru yakin perempuan yang kini beradu pandangan dengannya ini tahu semuanya.


Biru balas tersenyum sinis ke arah Nila. "Nila Kastara Marga. Bersalah atau tidak kamu dalam hal ini, kamu orang pertama yang menjadi sasaran dendamku. Camkan itu!"


Nila mungkin tak tahu apa yang ada dalam pikiran Biru. Ia hanya menebak saja kalau Biru pasti curiga. Hanya semua itu begitu rapi dilakukan hingga tak ada satu pun bukti mengarah padanya.


"Ini hanya soal waktu hingga aku bisa memilikimu seutuhnya. Lihat saja, kamu pasti akan terpesona padaku," batin Nila.


Biru memalingkan wajah. Ia menatap putrinya yang sedang memainkan kain rok. "Kita pasti bisa, kan? Kita lalui semuanya bertiga dengan nenek. Bunda pasti senang melihat kamu tumbuh dengan baik walau jauh di sana."

__ADS_1


🌱🌱🌱


__ADS_2