Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Jadwal Ronda


__ADS_3

"Kanaya!" panggil Biru melihat Kanaya tengah bermain di teras rumahnya. Seperti biasa, anak itu langsung bersembunyi melihat Biru.


"Oom Ilu bawain Kanaya kue, mau gak?" tawar Biru sambil mengasongkan sebungkus kue yang ia dapatkan dari pegawai bank. Seperti biasa, gadis-gadis itu sering kecentilan.


Kanaya mengangguk. Meski malu, ia ambil kue dari tangan Biru. "Buka, donk," pinta Kanaya.


Biru mengangguk. Ia membuka bungkusan kue itu lalu memberikannya kembali pada Kanaya. "Maacih, Oom," ucap Kanaya.


Ia mencicipi kue itu lalu tersenyum senang. "Enak, gak?" tanya Biru. Kanaya mengangguk.


Biru mencubit gemas pipi Kanaya. Anak ini begitu lucu. Awalnya Biru tak pernah dekat dengan anak kecil. Sejak Langit sering mengajaknya berinteraksi dengan Kanaya, mendadak Biru jadi baik pada seluruh anak kecil di kampung ini.


"Oom Ilu mau bagiin ini ke teman lainnya, ya?" Biru berjalan mencari anak-anak untuk ia berikan kue coklat dengan marshmallow di dalamnya yang konon import dari Korea. Ia memang mendapat satu dus kecil kue dengan isi 12.


Tiba di lapang, ia menemukan anak laki-laki tengah bermain. Sisa sebelas kue dan kebetulan ada sembilan anak. Ia berikan kue itu dan sisanya ia bawa pulang untuk mertua dan Bu Ani. Ia tebak Langit tentu tak akan mau memakan kue itu.


"Kenapa pulang sore, Ru?" tanya Bu Ani melihat Biru sudah membuka sepatu di teras.


"Ternyata hari ini Biru libur. Katanya Pak Toni mau tuker hari libur. Anaknya ada pentas," jelas Biru.


Bu Ani mengangguk. Biru merogoh sakunya. "Ini hape Bu Ani sudah nyala. Biru benerin tadi di kampus. Ini kue coklat, dari fans. Kalau dikasih Langit, pasti gak mau."


Bu Ani menekan-nekan tombol ponselnya. Semua masih bekerja dengan baik. "Pantesan kamu dinikahin sama Langit meski gak tahu apa-apa. Ternyata kamu banyak bisanya, ya?" puji Bu Ani.


Biru terkekeh. "Kalau ada yang mau benerin hape atau barang elektronik lain, kasih tahu Biru saja. Nanti Biru benerin," tawar Biru.

__ADS_1


Bu Ani mengangguk. "Kalau Bu Ani lelah, pulang saja. Biar Ibu dijaga sama Biru."


Bu Ani pamitan setelah Biru masuk ke dalam rumah. Ia mandi dan lekas mengganti pakaian. Biru cekikikan. Ingat ia pertama kali tak bisa mengenakan gayung dan tak tahu apa itu sabun batangan.


"Bu, mau makan sore gak? Biru masakin, ya?" tawar Biru.


Fitri menggeleng. "Gak perlu. Memang kamu bisa nyalain kompor gas?"


Biru mengangguk. Ia bisa melihat tutorial menyalakan kompor gas di ponselnya. Setidaknya sampai akhir bulan ponsel itu masih ada kuotanya. Tak tahu bulan depan. Tetap Biru harus membeli kuota karena g00gle memberikannya petunjuk untuk menjadi manusia normal.


Baru akan ke dapur, pintu rumah ada yang mengetuk. Biru berjalan dan membukanya. Pak RT sudah berdiri di sana dengan pakaian kebesaran hansip. "Ru, malam ini ngeronda, ya?"


"Lha, bukannya sudah minggu lalu?" tanya Biru bingung.


"Lha, besok aku libur gak masalah. Kalau gak libur gimana, pak? Bisa pingsan nanti. Aku mana masih kuliah lagi," protes Biru.


"Aku gratisin iuran ronda deh. Asal mau ngeronda kamunya," tawar Pak RT.


Malam harinya Biru bersiap dengan jaket dan obat anti nyamuk. Langit baru pulang pukul delapan malam. Ia bingung melihat suaminya berbenah.


"Mau ke mana?" tanya Langit.


"Ngeronda," jawab Biru pendek.


"Kan sudah minggu kemarin?"

__ADS_1


"Katanya aku haru sering ronda supaya digratisin iuran."


Langit menggeleng. Ia tak bisa membiarkan suaminya dimanfaatkan bapak-bapak itu. Biru memang polos, tapi Langit tidak.


Langit menyimpan tas di atas meja kemudian berjalan ke pos ronda. Ia bersiap mengomeli bapak-bapak yang ada di sana. Seperti perkiraan, Pak RT juga ada diantara bapak yang sedang meronda malam itu.


"Lho, La! Suami kamu mana?" tanya Pak RT yang menengok kanan dan kiri tak jua menemukan Biru.


"Gak bisa. Dia baru bisa ronda lagi bulan depan. Kan jadwalnya begitu. Kenapa pilih kasih?" omel Langit.


"Jangan pelit gitu donk, La. Kita semua masih penasaran. Mungkin saja waktu itu suami kamu kerasukan dan hari ini gak," jelas Pak RT.


"Maksudnya gimana?" tanya Langit bingung.


"Dia ngalahin kami semua main catur sama gapleh. Ngeronda kedua juga. Makin penasaran kita, La," jelas Pak RT.


"Gak ada yang menang satu pun dari dia. Mana gak lama, belum sepuluh menit sudah kalah. Kami semua heran," keluh Pak Tapip.


Langit menggelengkan kepala. "Iya itu karena dia atlet catur. Mau segimana dicoba juga tetap gak bisa," dusta Langit.


Setelah itu ia langsung pamitan. Selama berjalan dari pos hingga ke rumah, pikirannya dipernuhi banyak pikiran. Sebenarnya suamiku itu pria seperti apa, sih? Mana ada orang biasa menghapal secepat dia, bisa benerin hape padahal belajar di fakultas bisnis, ditambah ngalahin bapak-bapak sekampung main catur.


🌱🌱🌱


Teken jempol jangan lupa ā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2