
Pagi hari Biru bangun dengan sumringah. Ia berhasil menuntaskan tugas pertama dalam pernikahan dengan sukses. Tinggal tugas kedua dan seterusnya, mencari nafkah dan menjadi ayah.
Biru berdiri di depan teras rumah. Dari kejauhan ada seorang pria yang menatapnya dengan sinis. Tak tahu apa ini yang disebut indra keenam, Biru bisa merasakan tatapan jahat itu. Ia melirik ke teras rumah yang hanya dipisahkan oleh dua rumah dari rumah Langit. Namanya di gang, tentu terasnya berimpitan.
"Apa? Iri karena ini lebih ganteng!" sewot Biru. Sapta - teman Langit waktu kecil yang sudah lama mengidamkan Langit jadi istrinya - mendengus. Itu justru memancing Biru lebih bar bar lagi. "Yang jelek mundur, biar yang ganteng ambil tempat!" songongnya.
Sapta tak menggubris. Ia hanya duduk di sisi teras sambil mengikat sepatunya. Biru menggaruk kepala. Ia lirik sepatunya di rak. Tali sepatunya terlepas. "Gawat! Kalau gini aku bisa kalah keren cuman gara-gara tali sepatu," keluh Biru.
Ia kembali melirik Sapta yang berjalan meninggalkan rumah. Dengan seragam merah, Sapta menyelempangkan tasnya di bahu. "Tuan!" panggil Langit menepuk bahu Biru hingga suaminya itu tertegun.
"Lagi apa, sih?" tanya Langit.
"Itu, Si Sapta kerja di mana?" tanya Biru kepo.
"Ouh, Alfam*rt," jawab Langit.
"Jadi apa?" Biru semakin penasaran.
"Dia kasir di sana. Kenapa?"
Biru mengasongkan sepatunya pada Langit. "Ajarin taliin sepatu aku, donk!" pinta Biru. Langit mengangguk. Ia minta Biru duduk di teras lalu menyimpan sepatu di depan suaminya.
"Satu biar Langit contohin. Tuan ikut, ya?" saran Langit. Biru mengangguk saja. Ia siap memegang ujung tali sepatu. Pelan, tapi pasti Biru bisa mengikuti Langit. Tiga kali mencoba dengan susah payah, akhirnya ia bisa juga.
"Oke, sekarang gak akan minta kamu taliin lagi," seru Biru bangga. Ia merasa usianya sudah naik sepuluh tahun, tadi masih TK nol kecil.
"Sekarang kita kuliah dulu. Kemarin bisa bolos, sekarang gak boleh. Inget! Tuan muda itu sudah jadi suami, harus bertanggung jawab," nasehat Langit. Biru mengangguk.
__ADS_1
Langit menitipkan ibunya pada tetangga yang biasa menjaga ibunya selama Langit bekerja. Pasangan itu kemudian berjalan menyusuri jalan gang.
"Kakak kamu dari hari kita nikah sampai sekarang gak pulang-pulang. Dia Bang Toyib apa gimana?" tanya Biru.
Langit menggeleng. "Dari SMA memang begitu. Langit juga khawatir," keluh Langit.
Mereka berjalan kaki menuju kampus. Ini hari pertama mereka kuliah sebagai suami istri. Biru melihat Sapta berdiri di depan pintu Alfam*rt memperhatikan mereka.
"Dia masih belum bisa menerima kenyataan jika engkau milikku kayaknya," bisik Biru ke telinga Langit. Ia peluk istrinya lalu dikecup pipi Langit dengan gemas. "Biar ngebul itu kepala!"
"Tuan muda jangan tengil gitu sama orang. Kasihan. Nanti kena karma baru tahu!"
Pria itu mengangguk. Di persimpangan mata Langit terpaku pada seorang ibu dengan anak perempuannya. "Kanaya!" panggil Langit.
Anak perempuan berusia tiga tahun itu mengalihkan pandangan ke arah Langit. Ia berlari dan menghampiri Langit lalu memeluknya. Rambut Kanaya yang dikucir dua di sisi kanan dan kiri bergerak lucu.
"Ateu Ila!" panggil Kanaya. Lengannya memeluk Langit dengan erat. "Mana ateu?"
"Pasal ma ibu," jawabnya lalu menunjuk ibunya. Hesti, ibu Kanaya ikut menghampiri Langit.
"Ke mana, La?" Sejenak Hesti melirik ke arah Biru. "Eh, ada suaminya."
Biru mengangguk sambil tersenyum. Kanaya sempat melirik Biru. Mendadak matanya berbinar kemudian berlari ke belakang ibunya untuk bersembunyi.
"Kanaya kenapa?" tanya Langit bingung.
"Oom gateng," jawab anak itu sambil menunjuk Biru dengan wajahnya yang malu. Langit dan Hesti sampai terkekeh. "Aduh, bocah imut sudah tahu Oom ganteng. Kenalan dulu, donk. Itu Oom Biru," tunjuk Langit. Biru maju, ia mengulurkan tangan ke arah Kanaya, tapi lagi anak itu malah menyembunyikan wajah malu.
__ADS_1
"Aku ditolak," ucap Biru sambil terkekeh.
"Oom Ilu gateng," puji Kanaya.
"Makasih," ucap Biru.
Tak lama Hesti berpamitan. Ia dan Kanaya berjalan ke seberang menuju pasar terdekat. Sementara Biru dan Langit lanjut berjalan kaki.
"Anak tadi lucu, ya?" tanya Langit. Biru mengangguk. Ia sering mengajak main Kanaya jika libur sejak anak itu bayi. "Langit pingin punya anak perempuan kayak gitu," ucap Langit.
Tak lama ia tertegun lalu menatap suaminya. "Eh, gak jadi," ralat Langit sambil menunduk malu.
Biru terkekeh. "Kenapa? Kan tadi malam kita produksi. Nanti malam coba lagi, putaran kedua," saran Biru.
Langit menggeleng dengan tegas. "Gak mau, papahnya saja nuangin air dari teko ke gelas tumpah," ledeknya lalu berlari. Biru mengejar istrinya dan menangkap tubuh Langit.
"Terus saja ledekin." Jemari Biru menggeletik pinggang Langit hingga istrinya tertawa.
"Iya, maaf," pinta Langit.
"Dasar Ila!" ledek Biru. Sambil mengacak rambut istrinya dengan gemas.
"Iya, deh. Terus Tuan Muda apaan, Ilu!" balas Langit.
Biru terkekeh. "Ya sudah, panggil gitu saja kayak Kanaya, Ila sama Ilu."
š±š±š±
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR TIAP CHAPTER, YA?
NO NABUNG BAB