
Beberapa pelayan membuka pintu mobil yang Langit tumpangi. Lekas Langit turun. Ia sempat melihat fasad rumah megah tempat Bagas tinggal. Roni menunjukkan jalan masuk. Di sana Langit tak punya pilihan selain ikut masuk ke dalam ruangan.
Dalam gendongan ada Minara yang baru bangun sambil menggosok matanya. Ia mengedip-ngedip manja. Beberapa pelayan yang menjaga di entrance rumah berbaris hingga sepanjang jalan menuju kamar Bagas.
Begitu tiba ke tempat tujuan Roni mengantarnya, Langit hanya bisa memandang suaminya iba. Biru menangis sambil memeluk tubuh Bagas yang sudah ditutupi kain putih.
Angga berdiri di sana, menatap dalam tubuh papanya. Suara Biru sampai terdengar parau. Ia sesegukan. Kelihatan sekali tangisnya begitu getir hingga tak bisa mengeluarkan air mata lagi.
"Papa," panggil Ara. Tangannya mengulur-ngulur memanggil papanya.
Angga mendengar suara bayi kecil itu. Ia melirik ke samping dan melihat menantu yang sempat ia usir ada di sana. Langit menunduk tanda hormat pada ayah mertuanya. Di sana Angga berjalan. Ia memberi kode agar Langit mengikuti.
Walau merasa takut, Langit mengikuti pria itu. Biru juga sepertinya tidak sadar Langit ada di sana. Mungkin karena jarak dari pintu ke tempat tidur yang lumayan jauh.
Minara menarik-narik rambut Langit. Tak lama ia menyembunyikan wajah di lekukan leher ibunya. "Pa ... pa ... pa ...," ucap Minara.
Sampai di ruang keluarga rumah itu, Angga meminta Langit duduk di sofa. Langit mengangguk. Ia duduk di sofa sedang Minara duduk di pangkuan Langit.
__ADS_1
"Sekarang Papaku sudah tiada. Tak ada yang akan melindungi kalian berdua. Lebih baik kalian pergi ke luar kota," tegas Angga.
"Tapi saya sedang kuliah, Aa Biru juga," tolak Langit.
"Tak perlu pedulikan itu jika kamu ingin selamat. Masuk dalam keluarga ini sama saja dengan mempertaruhkan nyawa. Karena itu aku sering tekankan. Jangan pernah ungkap pernikahan kalian ke publik. Bukan karena ancamanku. Kalau sampai Biru kembali ke keluarga Bamantara, akan banyak keluarga yang akan merebut posisimu!"
Langit gemetaran. Ia sampai merasakan dingin menyerang telapak kakinya. Jantungnya berdebar kencang sekali.
"Kalau memang cintamu untuk putraku itu tulus, cukup hidup sederhana dengannya di tempat lain. Di mana pun itu, jangan sampai kalian ditemukan."
Perkataan Angga itu membuat Langit bingung. Ia tak bisa menebak apa itu benar, atau hanya jebakan. Angga menatap Minara di pangkuan Langit. "Anak itu akan tumbuh dengan baik jika ada ibu dan ayahnya. Bertahanlah, sekarang kamu tak bisa mundur selain menjadi kuat," tambah Angga.
"Ala, kita akan terus bersama, kan? Ara, papa dan mamah tak akan terpisah, kan?" tanya Langit.
Minara memeluk Langit. Anak itu mendongak dan mengedip kedua matanya bersamaan. "Bunda akan selalu melindungi Ara. Bunda akan jadi wanita yang kuat. Mereka nggak akan memisahkan kita."
Langit menggendong Ara. Ia kembali berjalan ke kamar Bagas. Baru sampai pintu, Langit bertemu dengan Biru. Lekas pria itu mengusap air matanya.
__ADS_1
"Kamu kapan ke sini?" tanya Biru.
"Dari tadi, tapi karena Aa masih sedih, aku nggak berani ganggu," jawab Langit.
Biru meraih Minara. Ia kecup pipi putrinya itu. "Kita ketemu kakek dulu," ajak Biru sambil menuntun Langit masuk ke dalam kamar Bagas.
Biru duduk di sisi tempat tidur. Ia turunkan kain putih penutup tubuh Angga hingga wajahnya terlihat.
Melihat mata Bagas yang tertutup, air mata Langit mengucur. Ia ingat nasehat kakek Biru padanya sebelum menikah. Nasehat yang tidak pernah ia lupakan hingga sekarang.
"Panggil eyang buyut, Ara," pinta Biru sambil mengusapkan tangan Ara pada wajah kakeknya.
"Ya ... ya ...," panggil Minara.
"Iya, eyang sayang Minara," tambah Biru.
Langit mengusap air matanya. "Kakek kenapa nggak tunggu Langit datang?" tanya Langit lirih. Ia bahkan belum sempat berterima kasih pada kakek mertuanya itu.
__ADS_1
š±š±š±