
Langit dan Biru sudah bersiap pergi kuliah pagi itu. Kali ini Biru memakai kaos dan jaket, jadi tak meminta Langit mengancingkan lengan kemeja lagi. Sarapan dengan makanan kebangsaannya, Biru langsung pergi keluar rumah untuk memakai sepatu.
"Ru!" panggil Bu Ani dari kejauhan. Biru mendongak. "Iniloh, Mas Parmin hapenya rusak. Minta kamu benerin. Ongkosnya kamu kira-kira saja. Bisa?" tawar Bu Ani.
Biru sih senang saja. Meski Langit sudah membeli sepatu baru, ia ingin membeli sepatu baru yang bermerk untuk istrinya. "Boleh, Bu. Kesiniin saja hapenya, tapi Biru kerjain nanti malam, ya?"
Bu Ani mengangguk. Wanita itu langsung pergi lagi, tak lama Bu Ani kembali bersama Mas Parmin, tukang bakso populer di kampung ini.
"Masalahnya apa ini, Mas?" tanya Biru.
"Ini mati total. Dicharge juga gak masuk. Apa gak bisa dipakai lagi?" tanya Mas Parmin terlihat khawatir.
Ponsel ini sudah punya kamera dan pemutar video. Tentu lebih sulit dibanding hape Bu Ani. Hanya Biru tak menyerah. Pada dasarnya komponen di dalam ponselnya sama.
"Iya, nanti aku coba benerin, Mas. Kalau memori di dalamnya ada yang hilang maklum, ya?"
Mas Parmin mengangguk saja dari pada hapenya mati dan tak bisa digunakan. Langit yang baru selesai menyiapkan keperluan ibunga keluar rumah.
"Ada apa, Mas?" tanya Langit.
"Ini, La. Hapeku mati. Kata Bu Ani, suami kamu bisa benerin," cerit Mas Parmin.
"Kamu bisa?" tanya Langit pada suaminya.
Dengan yakin, Biru mengangguk. Setelah negosiasi tentang resiko service ponsel, baru kedua pasangan itu pergi ke kampus. Tiba di persimpangan, Biru tertegun dengan foto yang terpampang di majalah. Ia lekas mendekati tukang koran lalu membeli majalah itu.
"Ada apa?" tanya Langit.
__ADS_1
"Surya Bamantara dan Nindy Marga resmi menikah hari ini." Biru membaca headline berita di majalah bisni itu.
"Kakak kamu nikah?" tanya Langit. Biru mengangguk. Ia tatap suaminya dengan iba. Meski keluarga itu tak menerima Langit, apa harus dipernikahan kakaknya Biru tak diundang.
"Maaf, ya? Ini semua karena Langit. Kalau saja kamu gak nikah sama aku, pasti sekarang masih di sana," ucap Langit dengan wajah sedih.
Biru menggeleng. "Bukan karena kamu. Sejak dulu aku memang tak pernah diakui ada dalam keluarga ini," kilah Biru.
Langit mengerutkan alis. "Kenapa?" tanya wanita itu penasaran.
Biru memegang tangannya. "Kamu istriku. Mau tak mau kamu juga harus tahu permasalahannya. Nanti aku cerita di kampus."
Mereka berjalan ke kampus sambil berpegangan tangan. Semua mahasiswa tahu mereka pacaran, hanya tak ada yang tahu mereka sudah menikah.
"Ru, kamu kok ngampus? Bukannya kakak kamu nikah?" tanya teman sekelas Biru yang tak begitu dekat dengannya.
Langit melihat Sarah turun dari mobil. Sekilas saat Sarah membuka pintu, ia melihat seorang pria di sana. Sarah begitu turun langsung melihat Langit di teras. "La!" panggilnya menghampiri Langit lalu memeluk sahabatnya itu.
"Ish, jangan peluk-peluk!" Seperti biasanya meski itu pada Sarah, Biru tetap posesif masalah Langit. "Pelit!" Sarah memukul lengan Biru.
"Sarah, itu siapa di mobil?" tanya Langit penasaran.
"Kenalan yang waktu itu jemput aku di nikahan kalian," jawab Sarah.
"Hei, jangan keras-keras kalau ngomong masalah nikah!" protes Biru.
Sarah melirik ke sekitarnya yang sudah sepi. "Gak ada orang, Ru. Santai saja," ucapnya.
__ADS_1
"Kamu gak ke pesta pernikahan Surya?" tanya Biru heran melihat Sarah ada di kampus. Orang tua Sarah CEO di perusahaan milik Bamantara Grouph tentu harusnya ia juga datang.
"Malas! Adiknya saja gak datang, kenapa aku harus datang?" jawab Sarah enteng.
"Aku gak tahu kalau Surya hari ini nikah," celetuk Biru dengan suara parau.
Sarah tercekat. Ia memandang Biru dengan iba. "Papah kamu gak hubungin kamu sama sekali?"
Biru menggeleng. "Gak apa-apalah. Toh, aku sudah resmi dicoret di kartu keluarga. Bukan keluarga lagi. Aku juga malas kembali ke sana. Terlalu banyak derita," jawab Biru.
Sarah tak menampik perasaan Biru. Semua orang juga tahu bagaimana sikap Angga sangat jauh berbeda pada Biru dan Surya. Mereka menebak karena Surya sangat berprestasi di sekolah dan juga perusahaan. Sementara Biru sering membuat ulah.
Hanya saja masalah keluarga itu tak sesederhana itu. Saat SD dulu Biru sering menjadi peringkat satu, Angga tetap membedakan ia dengan kakaknya.
"Kamu yang sabar. Karma tak selalu menunggu di neraka. Aku yakin papahmu juga sama. Yang penting sekarang, kamu tanggung jawab dengan Langit," nasehat Sarah.
Biru mengangguk. Ia juga tahu itu. Keluarganya sekarang adalah Langit dan mertuanya, orang yang menerima keberadaannya meski bukan orang yang tak bisa apa-apa.
"Kamu sendiri sama Randy gimana? Yakin sudah move on sama pria tadi?" tegur Biru.
Sarah menggeleng. "Kita lihat saja, sejauh apa Randy bisa memperjuangkan aku? Kalau dia masih diam saja, dia gak pantas aku cintai," tegas Sarah.
š±š±š±
jam 11.30 ya š¤§š¤§
bantuin promo yuk di gc kakak2, di ig, di efbeh, di kang toge juga boleh. ke WC umum juga bisa tuh.
__ADS_1