
Katanya kalau hamil itu selama gak tahu gak akan kerasa ngidamnya. Benar juga, sebelum tahu hamil, Langit masih cuek saja kalau mau ini dan itu. Sekarang?
"Aa!" panggil Langit membangunkan suaminya yang sedang tidur. Biru bangun karena sudah seminggu ini harus terganggu Langit akibat ngidamnya.
"Apa, sayang?" tanya Biru.
"Pengen nyuapin Aa, donk!" keluhnya.
Biru melirik ke arah jam. Pukul dua pagi dan dia sudah disuruh sarapan oleh istrinya. "Aku cuci muka dulu. Lagipula mau makan apa jam dua pagi begini?" tanya Biru.
Langit berpikir. "Apa saja asal nanti pas makan pipi Aa sampai menggelembung kayak hamster. Pasti lucu. Langit gemes," jawab Langit sambil mencubit pipi suaminya.
Rasa-rasanya kelelakian Biru hilang sudah. Sejak remaja hingga di kampus semua tahu Biru itu garang dan paling ditakuti. Namun, istrinya malah ingin ia berubah jadi hamster yang lucu, imut dan gembul. Tak apalah, sayang anak, pikir Biru.
Langit turun dari tempat tidur. Ia buka pintu kamar dan pergi ke dapur. Tak ada bahan makanan tersisa. Maklum ia tak punya kulkas. Mau tidak mau bahan makanan selain kalengan harus langsung dimasak saat itu juga.
Biru mencuci muka juga gosok gigi. Selesai itu ia kembali ke dapur. "Kenapa manyun?" tanya Biru bingung.
Langit berbalik lalu ke kamar mandi. "Pasar di depan pasti sudah buka. Langit mau belanja," tekadnya.
__ADS_1
Kelakuan istrinya itu benar membuat Biru ingin menggelengkan kepala. "Semakin hari kamu semakin aneh saja, La. Sudah belanja berdua saja. Bahaya malam gini. Kamu apa gak takut orang kaya Restu muncul?" Biru menakuti istrinya.
Jelas Langit yang baru keluar kamar mandi langsung memegangi lengan suaminya. "Jangan gitu donk, A. Nanti Langit stress lagi terus lemes lagi, loh. Mana kata bidan kalau Langit gak enak badan gak boleh layanin Aa," Langit balas mengancam.
"Ini suami mana pun emang gak ada menangnya kalau lawan istri. Apalagi kalau bawa-bawa masalah ranjang," keluh Biru.
Merasa menang, Langit berjalan bangga ke kamar. Ia ambil jaket dan yang di laci. Biru ikut mengambil jaket. Dengusannya membuat Langit terganggu.
"Kenapa, A?" tanya Langit sambil menyisir rambut.
"Iniloh. Jaket sletingnya kenapa bisa lepas, sih?" keluhnya.
"Sini," panggil Langit. Biru menghampiri istrinya dengan wajah yang masih ditekuk. "Aduh anakku yang ganteng ini. Coba perhatikan cara pakainya. Masukan ke sini, tahan sebentar sambil ditarik, coba!"
Langit kembali membuka sleting jaket Biru. Kini giliran Biru yang mencobanya. Ia kaitkan ujungnya. Saat ditarik, kaitan bagian bawahnya lepas. "Susah," rengek Biru.
Ia lepas jaketnya. "Buang saja, ah! Pakai jaket kancing saja yang lebih gampang pakainya."
Langit menepuk-nepuk pundak Biru. "Masa Aa masih gitu, sih? Sebentar lagi kita punya anak, loh. Masa nanti kata adik bayi, papah gak bisa kancingin jaket. Apa Aa gak malu ayo," Langit mencoba membujuk.
__ADS_1
"Coba lagi. Tahan sebentar bagian sininya. Jangan nyerah dulu. Kan baru beberapa hari belajarnya."
Biru bahkan baru bisa ikat sepatu. Menyulam talinya masih harus Langit yang kerjakan. Syukur, Biru mengangguk. Ia kembali kaitkan bagian ujung jaket. "Tahan dan tarik pelan jangan disekalikan," nasehat Langit.
Kali ini Biru tarik perlahan meski tangannya gemetaran. Sedikit demi sedikit sleting itu akhirnya naik juga. Barulah wajah Biru kembali cerah.
"Bisa, La. Ini bisa disletingin," serunya sambil berjingkak seperti pinguin. Langit pasangkan hoodie jaket Biru.
"Ayok, donk. Kita belanja ke pasar. Kan Langit mau nyuapin Aa. Abis makan boleh bobok lagi sebelum subuh Langit bangunin, kok."
Pasangan itu berjalan keluar rumah. Tak lupa pintunya dikunci takut ada orang jahat masuk. Pasar memang tak jauh. Dari depan gang hanya butuh lima menit jalan kaki. "Pagi-pagi gini pasti masih ada pasar tumpah," ucap Langit.
"Kok? Apa gak bener pas mindahinnya?" Pikiran Biru sudah mengawang. Ia membayangkan pasarnya jungkir balik seperti terkena angin beliung.
š±š±š±
Jangan Lup Promo, yuk!
Sampai ketemu besok subuh ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1