
Jika ada bagian yang berbeda dengan ISPT harap maklum. Aku nggak rubah alur hanya rubah rentang waktu yang harusnya sepuluh tahun menjadi lima tahun.
š±š±š±
DUA TAHUN KEMUDIAN
"Langitnya cantik, seperti kamu." Suara bass Biru mengusik rasa sepi yang ia ciptakan sendiri di ruangan itu. Angin menyusup dari jendela yang terbuka dan gorden putih gading menari-nari dikarenakannya. Pintu berdaun dua memiliki tinggi tiga meter masih tertutup rapat. Beberapa orang berjaga di sana tak membiarkan siapa pun masuk ke dalam sesuai permintaan pria berjas hitam, putra kedua dari Angga Bamantara.
Tak ada jawaban yang ia dapat. Perih, ia menantang angin yang semakin kuat mengembus ke arahanya. Lantai dua puluh, menjadi lantai paling tinggi salah satu tower milik grup perusahaan yang berpengaruh di Indonesia. Tower tinggi yang dikenal dengan silver tower. Di sanalah ruangan raja dari jaringan bisnis keluarga Bamantara berkantor.
__ADS_1
Namanya Banyu Biru Bamantara, Chairman of Bamantara grouph yang baru merasakan jabatan tertinggi di perusahaannya selama dua tahun.
Biru berbalik, menatap foto seorang wanita menghadap ke arahnya. Rindu membara, andai bisa dipadamkan dengan mudah. Sayang, Biru tak ingin mengusir perih yang dicoret rasa rindu. Itu sebagai sumber kekuatan, alasan ia hidup dan semangatnya mencapai tujuan - membalaskan dendam dan membawa posisi istrinya kembali.
"Aku bersyukur ibu dan ayahmu memberikan nama Langit. Setiap aku menatap ke atas, siang dan malam, aku ingat kamu," ucap Biru.
Ia menutup mata. Senyum dari perempuan berkulit putih dan berbibir merah muda melengkung terekam dalam ingatan Biru. Tangan pria itu mengulur, mencoba meraih kenangan yang ia simpan. Tak bisa, hanya ada kehampaan dan kesendirian. Air mata Biru mengalir.
Biru mengusap air mata. "Jangan menertawakan aku yang menangis. Aku bukan cengeng. Salahkan kamu yang pergi meninggalkanku," keluh Biru.
__ADS_1
Kakinya yang beralaskan oxford shoes hitam melangkah masuk ke dalam ruangan. Tangannya meraih pas foto lalu ia dekap dalam pelukan. Tak tahu sudah keberapa juta kali ia memanggil nama itu, Langit ... Langit .... Seterusnya masih nama itu yang memuaskan hatinya ketika terucap dari mulut.Ā
"Minara sudah besar sekarang. Dia sudah masuk sekolah. Kapan kamu akan antar dia ke sekolahnya? Selalu Ibu yang ada di sana. Ia beruntung punya Ibu dan Kak Mega. Namun aku nggak punya siapa-siapa, La. Aku hanya punya kamu dan kamu pergi jauh dariku."
Dia bertahan selama lima tahun, tanpa istri yang dicintainya. Ia mencoba menjadi orang tua yang sempurna, meski itu tak mungkin. Tak akan ada yang menggantikan Langit untuk Minara. Juga tak akan ada yang menggantikan Langit untuk Biru.
Hubungannya dengan Nila? Tak perlu ditanyakan lagi. Mereka hanya bisa terlihat mesra untuk menutupi rumor tentang mereka yang tinggal terpisah. Satu-satunya alasan Biru bertahan dengan hubungan itu hanya posisi ini, posisi di mana ia bisa menemukan dan menjatuhkan satu per satu musuhnya.
"Keluarga Marga mulai merasa terancam. Aku takut mereka akan sadar jika apa yang terjadi belakangan ini adalah ulahku. Hanya, aku lega karena bisa memastikan mereka yang merebutmu dariku. Doakan aku, La. Besok aku akan pergi ke Moscow. Aku akan kumpulkan banyak bukti transaksi ilegal mereka."
__ADS_1
Biru masih bicara sendiri walau tak ada yang menjawab. Hatinya terluka dan yang bisa menahan dirinya untuk tidak goyah hanya keberadaan Minara. "Aku akan menunggu hari itu, La. Hari di mana aku dan kamu akan bertemu lagi. Walau kamu nggak akan ada saat aku mendampingi Minara menempuh hidup barunya kelak. Sampai saat itu aku akan bertahan untuk anak kita."
š±š±š±